212 Orang Tewas, Spanyol Dilanda Gelombang Panas Paling Mematikan Tahun Ini

Gelombang panas landa Eropah. Ratusan orang meninggal. ( Foto: BMKG) 



Editor: Devona R

GEBRAK.ID, MADRID – Gelombang panas ekstrem yang melanda Spanyol dan sejumlah negara Eropa menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 212 orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak suhu tinggi hanya dalam kurun empat hari terakhir.

Data tersebut berasal dari Sistem Pemantauan Mortalitas Harian (MoMo), lembaga pemantau kematian yang digunakan pemerintah Spanyol untuk mengukur dampak berbagai kejadian luar biasa terhadap angka kematian masyarakat. Berdasarkan catatan MoMo, korban jiwa terkait gelombang panas tercatat sejak Minggu (21/6) hingga Rabu (24/6) waktu setempat.

Lonjakan kematian terjadi seiring rekor suhu yang terus pecah di berbagai wilayah negara tersebut. Badan Meteorologi Spanyol (AEMET) menyebut Senin dan Selasa pekan ini menjadi dua hari terpanas pada bulan Juni sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.

Rata-rata suhu harian nasional mencapai 28,08 derajat Celsius pada Senin dan meningkat menjadi 28,17 derajat Celsius pada Selasa, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Juni tahun lalu. Bahkan, sejumlah wilayah di bagian utara yang biasanya relatif sejuk mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.

Di kawasan Tama, Cantabria, termometer menunjukkan angka 43,7 derajat Celsius, menjadi suhu tertinggi yang pernah tercatat di wilayah tersebut sepanjang sejarah pengamatan cuaca. Sementara itu, beberapa daerah di Basque Country dan Cantabria diberlakukan status peringatan merah karena risiko kesehatan yang sangat tinggi.

Menurut data awal MoMo, hari dengan angka kematian tertinggi terjadi pada Rabu (24/6) dengan 96 kematian. Sehari sebelumnya tercatat 66 kematian, sedangkan pada Senin sebanyak 38 kematian dan Minggu 13 kematian.

Pusat Epidemiologi Nasional Spanyol menyatakan angka tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan mengalami penyesuaian setelah proses verifikasi data selesai dalam beberapa hari mendatang. Namun tren peningkatan kematian akibat suhu ekstrem dinilai sangat mengkhawatirkan.

Selain suhu siang hari yang memecahkan rekor, fenomena "malam tropis" turut memperparah kondisi. Suhu minimum pada malam hari tetap berada di kisaran 20 derajat Celsius atau lebih, sehingga tubuh manusia sulit beristirahat dan memulihkan diri dari paparan panas sepanjang hari.

Gelombang panas kali ini tidak hanya menghantam Spanyol. Sebagian besar wilayah Eropa Barat juga mengalami kondisi serupa akibat fenomena atmosfer yang dikenal sebagai "Omega Block", yakni sistem tekanan tinggi yang menjebak udara panas dari Afrika Utara di atas benua Eropa selama beberapa hari.

Di Prancis, suhu di sejumlah kota dilaporkan menembus 40 derajat Celsius. Italia mengeluarkan peringatan panas tingkat tertinggi untuk sejumlah kota besar, sementara Inggris mencatat salah satu hari Juni terpanas dalam sejarah modern.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa gelombang panas menjadi salah satu bencana cuaca paling mematikan di Eropa. Kelompok lansia, penderita penyakit kronis, pekerja luar ruangan, dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan hingga kematian akibat suhu ekstrem.

Pemerintah Spanyol mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memastikan kelompok rentan mendapatkan perlindungan yang memadai selama cuaca panas masih berlangsung.

Meski prakiraan cuaca menunjukkan intensitas gelombang panas mulai berangsur melemah menjelang akhir pekan, para ahli memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem seperti ini diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim.

(Sumber: MoMo Spanyol, AEMET, Reuters, Euronews, AFP.)