![]() |
| Perdagangan daging kucing ternyata masih ada di beberapa negara. Salah satunya tetangga Indonesia, Vietnam. (Foto: freepik) |
GEBRAK.ID, JAKARTA--Praktik perdagangan daging kucing kembali menjadi perhatian dunia setelah aparat kepolisian Vietnam membongkar salah satu jaringan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam operasi yang dilakukan di Kota Ho Chi Minh pada pekan lalu, polisi menangkap sembilan orang yang diduga terlibat dalam sindikat pencurian dan perdagangan kucing untuk konsumsi.
Berdasarkan laporan Associated Press (AP), lebih dari 400 kucing hidup berhasil diselamatkan dan dipulangkan kepada pemiliknya. Namun, sebagian lainnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan tidak berhasil diselamatkan.
Pengungkapan kasus tersebut kembali menyoroti masih maraknya perdagangan daging kucing di sejumlah negara Asia meski mendapat penolakan luas dari masyarakat internasional dan organisasi perlindungan hewan.
Vietnam: Permintaan Tinggi Picu Pencurian Hewan Peliharaan
Vietnam dikenal memiliki pasar bawah tanah yang memperjualbelikan daging kucing dan anjing. Daging tersebut umumnya diolah menjadi sup atau semur yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai makanan tradisional.
Tingginya permintaan membuat banyak pelaku mencuri hewan peliharaan dari rumah-rumah warga. Bahkan, penyelundupan kucing dari negara tetangga seperti Thailand dan Laos juga kerap dilaporkan terjadi untuk memenuhi kebutuhan pasar ilegal.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Vietnam meningkatkan pengawasan terhadap perdagangan hewan ini, terutama di kota-kota besar yang menjadi pusat distribusi.
China: Tradisi Lama yang Mulai Berubah
China juga dikenal sebagai salah satu negara yang masih memiliki praktik konsumsi daging kucing dan anjing di sejumlah wilayah. Meski tidak menjadi makanan sehari-hari bagi mayoritas penduduk, perdagangan tersebut masih ditemukan di beberapa provinsi.
Sebagian kalangan meyakini daging kucing memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu menghangatkan tubuh saat musim dingin atau menyejukkan tubuh ketika musim panas. Daging tersebut biasanya diolah menjadi sup, tumisan, maupun hidangan berbumbu.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir tren perlindungan hewan di China terus berkembang. Semakin banyak kota dan komunitas yang menolak perdagangan daging kucing dan anjing, sementara organisasi pecinta hewan aktif melakukan penyelamatan serta kampanye edukasi kepada masyarakat.
Kamboja: Lebih dari Satu Juta Kucing Diperkirakan Dibantai Setiap Tahun
Organisasi perlindungan hewan Four Paws memperkirakan lebih dari satu juta kucing dikonsumsi setiap tahun di Kamboja. Sebagian besar berasal dari kucing liar maupun hewan peliharaan yang dicuri.
Perdagangan tersebut dilakukan melalui jaringan pemasok yang mengumpulkan kucing dari berbagai daerah sebelum dijual ke rumah makan atau pasar tertentu.
Aktivis perlindungan hewan menilai praktik ini tidak hanya mengancam kesejahteraan satwa, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit akibat minimnya standar kesehatan dalam proses penyembelihan dan distribusi.
Organisasi Perlindungan Hewan Dorong Penegakan Hukum
Sejumlah organisasi internasional, termasuk Four Paws dan Humane Society International, terus mendesak pemerintah di berbagai negara Asia untuk memperketat penegakan hukum terhadap perdagangan daging kucing dan anjing.
Mereka menilai praktik tersebut berkaitan erat dengan pencurian hewan peliharaan, perdagangan satwa ilegal lintas negara, serta persoalan kesejahteraan hewan.
Kasus pengungkapan sindikat di Vietnam menjadi salah satu operasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir dan diharapkan dapat menekan aktivitas jaringan perdagangan ilegal yang selama ini meresahkan masyarakat serta pemilik hewan peliharaan.
Meski masih ditemukan di beberapa wilayah, tren konsumsi daging kucing di Asia menunjukkan penurunan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan satwa, perubahan gaya hidup, serta penguatan regulasi di berbagai negara.
(berbagai sumber)
