GEBRAK.ID, KEDIRI – Forum bedah buku "Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU, Menavigasi Kebangkitan NU 2026–2126" karya jurnalis dan penulis buku Samsul Muarif berlangsung hangat dan dinamis di sela pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026).
Acara yang dimoderatori oleh Rektor STAIN Samora Medan, Dr. Imron Simanjuntak MA, tersebut menghadirkan sejumlah tokoh NU dan kalangan akademisi sebagai pembicara, yakni mantan Ketua PCNU Kota Kediri sekaligus mantan Rektor STAIN Kediri; Prof. Subakir; Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husaini Bandung, KH. Ahmad Husen Jali; serta Wakil Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok, Pengurus RMI PBNU, dan Alumni PCI NU Sudan, KH. Moch. Hilmi Ashiddiqie Al-Aroky.
Forum yang juga dihadiri para kiai, akademisi, santri, dan aktivis NU tersebut tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga berkembang menjadi ruang refleksi tentang masa depan Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya.
Dalam paparannya, Prof. Subakir menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, NU sesungguhnya merupakan gerakan tradisional yang memiliki karakter progresif dan transformatif.
"NU sering dipersepsikan sebagai organisasi tradisionalis. Itu benar. Tetapi yang sering dilupakan, NU adalah tradisionalisme yang mendobrak. Para muassis NU menjaga tradisi, tetapi pada saat yang sama berani melakukan terobosan sesuai kebutuhan zaman. Itulah yang kita sepakati, kita warisi, dan kita nikmati hingga hari ini. Tradisi dalam NU bukan untuk membatasi gerak, melainkan menjadi fondasi untuk melompat lebih jauh," ujar Prof. Subakir.
Menurut Prof. Subakir, judul buku yang mengangkat sosok Gus Hery sebagai "Nakhoda Abad Kedua NU" mengandung pesan optimisme sekaligus tantangan.
"Judul buku ini tampak menyeruak ke permukaan, menawarkan gagasan dan harapan baru, tetapi belum melawan. Dan memang begitulah tradisi NU. Kader NU harus berani tampil, berani menawarkan gagasan, berani mengambil tanggung jawab, namun tetap menjaga adab dan kebijaksanaan. Sebab perubahan tidak lahir dari sikap diam," katanya.
Prof. Subakir kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 140:
'Wa tilkal ayyāmu nudāwiluhā baynan-nās'
'Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.'
Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan sunnatullah yang tidak bisa dihindari.
"Pergantian adalah hukum alam. Regenerasi adalah sunnatullah. Begitu pula dalam organisasi sebesar NU. Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Yang terpenting adalah memastikan estafet kepemimpinan berjalan dengan baik agar NU terus berkembang dan menjawab tantangan zaman," tegas Prof. Subakir.
Sementara itu, KH. Ahmad Husen Jali menyoroti pentingnya keberadaan PBNU sebagai pengayom dan penggerak utama ribuan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa Barat.
Menurutn KH. Ahmad Husen, pesantren selama ini telah menjadi pusat kaderisasi utama yang melahirkan banyak tokoh dan pemimpin NU.
"Bagi kami para pengasuh pesantren, PBNU memiliki posisi yang sangat penting. Pesantren adalah kawah candradimuka kaderisasi NU. Dari pesantren lahir kader-kader yang memiliki kedalaman ilmu, akhlak, dan komitmen kebangsaan seperti yang kita lihat pada banyak tokoh NU hari ini," ujar KH. Ahmad Husen.
Karena itu, KH. Ahmad Husen berharap kepemimpinan PBNU ke depan mampu menghadirkan lompatan-lompatan besar bagi kemajuan organisasi dan kemaslahatan umat.
"Para kiai dan pengasuh pesantren berharap NU ke depan tidak hanya berjalan seperti biasa, tetapi mampu melakukan lompatan-lompatan besar dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, kaderisasi, dan pelayanan umat. Abad kedua NU harus menjadi era kebangkitan yang lebih kuat daripada abad pertama," kata KH. Ahmad Husen.
Senada dengan itu, KH. Moch. Hilmi Ashiddiqie Al-Aroky menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang tumbuh melalui proses kaderisasi panjang di lingkungan NU.
Sebagai sosok yang pernah dekat dengan almarhum KH. Hasyim Muzadi, ia menilai model kepemimpinan seperti itulah yang dibutuhkan NU dalam menghadapi tantangan masa depan.
"KH. Hasyim Muzadi adalah contoh pemimpin yang tumbuh dari bawah, ditempa dalam proses kaderisasi yang panjang, memahami denyut organisasi hingga ke akar rumput, dan memiliki pandangan kebangsaan serta internasional yang kuat. NU ke depan membutuhkan figur yang lahir dari proses seperti itu," ujar KH. Moch. Hilmi.
Menurut KH. Moch. Hilmi, harapan tersebut juga sejalan dengan aspirasi banyak kalangan nahdliyin yang menginginkan kesinambungan tradisi kepemimpinan kader NU.
"Saya melihat ada harapan besar agar estafet kepemimpinan yang pernah diperlihatkan KH. Hasyim Muzadi tidak terputus. Bahkan harapan serupa pernah disampaikan oleh banyak tokoh NU, termasuk Gus Muhaimin Iskandar bahwa NU perlu terus melahirkan pemimpin yang benar-benar tumbuh dari proses kaderisasi jam'iyah. Jika tradisi itu terus terjaga, saya optimistis masih ada secercah cahaya dan harapan besar bagi masa depan NU di tengah tantangan global yang semakin kompleks," kata KH. Moch. Hilmi.
Dalam sambutannya, Gus Hery Haryanto Azumi menyampaikan apresiasi kepada penulis buku, Samsul Muarif, yang menurutnya telah meluangkan waktu dan energi untuk merangkum berbagai gagasan, diskusi, dan pemikiran yang selama ini berkembang dalam percakapan mereka tentang masa depan Nahdlatul Ulama.
"Saya berterima kasih kepada sahabat lama saya, Samsul Muarif. Kami sudah lama berdiskusi tentang berbagai persoalan NU, bangsa, dan tantangan abad kedua. Buku ini bukan semata-mata tentang saya, melainkan tentang gagasan dan harapan agar NU terus maju, relevan, dan mampu menjawab perubahan zaman," ujar Gus Hery.
Gus Hery menegaskan bahwa berbagai gagasan yang tertuang dalam buku tersebut lahir dari kegelisahan bersama terhadap masa depan organisasi dan keinginan agar NU tetap menjadi kekuatan peradaban yang berpengaruh di tingkat nasional maupun global.
Dalam kesempatan itu, Gus Hery juga mengungkapkan bahwa dirinya tengah menyelesaikan sebuah buku yang ditulis secara pribadi mengenai arah kebangkitan Nahdlatul Ulama di abad kedua.
"Insya Allah dalam waktu dekat saya akan meluncurkan sebuah buku yang saya tulis sendiri tentang kebangkitan NU di abad kedua. Buku tersebut berisi refleksi, pengalaman, serta gagasan-gagasan strategis yang saya pandang penting untuk memperkuat peran NU sebagai organisasi keagamaan, kebangsaan, dan peradaban dunia," ungkap Gus Hery.
Forum bedah buku tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh dialog, dan refleksi intelektual. Lebih dari sekadar membahas sebuah buku, acara itu menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai regenerasi kepemimpinan, penguatan kaderisasi, serta arah besar Nahdlatul Ulama dalam menghadapi tantangan abad kedua perjalanan organisasi.
Di tengah menguatnya dinamika menuju Muktamar NU ke-35, forum tersebut menunjukkan bahwa wacana tentang masa depan NU tidak hanya dibangun melalui kontestasi politik organisasi, tetapi juga melalui pertarungan gagasan dan visi tentang arah peradaban yang ingin diwujudkan oleh jam'iyah terbesar di Indonesia tersebut. (*)
