![]() |
| BGN rilis 4 prioritas penerima MBG. (Foto: BGN) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penajaman sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan kelompok masyarakat yang dinilai paling membutuhkan intervensi pemenuhan gizi. Kebijakan ini ditempuh melalui proses pemutakhiran dan validasi data penerima manfaat secara berkelanjutan agar program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, mengatakan kualitas data menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan gizi nasional. Menurutnya, pemerintah ingin memastikan bantuan gizi benar-benar diterima kelompok rentan yang membutuhkan dukungan negara.
“Data yang akurat sangat penting karena menjadi dasar bagi kami dalam menyusun kebijakan penerima manfaat. Tujuannya adalah memastikan intervensi gizi diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal,” ujar Agustina dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Empat Kelompok Prioritas Penerima MBG
Dalam kebijakan refocusing terbaru, BGN menetapkan empat kelompok utama yang menjadi prioritas penerima manfaat MBG, yaitu:
1. Ibu hamil
2. Ibu menyusui
3. Balita
4. Anak usia dini
Keempat kelompok tersebut dinilai memiliki kebutuhan gizi yang lebih mendesak karena berkaitan langsung dengan upaya pencegahan stunting, peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, serta pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini.
BGN menilai fokus pada kelompok rentan akan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap perbaikan indikator gizi nasional dibandingkan pemberian bantuan secara merata kepada seluruh kelompok penerima sebelumnya.
Siswa SMA Mampu Berpotensi Tak Lagi Menjadi Sasaran
Seiring penataan ulang program, BGN juga membuka kemungkinan pengurangan jumlah penerima manfaat dari kelompok yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan gizinya secara mandiri.
Agustina sebelumnya menyampaikan bahwa siswa SMA, khususnya dari keluarga mampu, berpotensi tidak lagi menjadi prioritas penerima MBG. Langkah tersebut diperkirakan dapat mengurangi sekitar delapan juta penerima manfaat sekaligus membuat penggunaan anggaran lebih efisien.
BGN juga telah mengidentifikasi puluhan sekolah yang dinilai mampu menyediakan pemenuhan gizi peserta didik secara mandiri. Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah-sekolah tersebut akan dialihkan kepada kelompok prioritas yang lebih membutuhkan.
Data Jadi Dasar Penentuan Penerima
Dalam proses validasi, BGN mengintegrasikan berbagai indikator, mulai dari ketahanan gizi, kondisi sosial ekonomi masyarakat, hingga akses terhadap pemenuhan kebutuhan pangan bergizi.
Selain itu, lembaga tersebut melibatkan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta sejumlah kementerian terkait untuk memastikan data penerima manfaat sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Proses verifikasi dan pemutakhiran akan terus dilakukan seiring masuknya data baru dari berbagai daerah.
“Kami ingin memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data. Karena itu, kualitas data terus kami perbaiki agar dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi,” kata Agustina.
Bagian dari Reformasi Program MBG
Penyesuaian sasaran penerima manfaat menjadi bagian dari reformasi tata kelola MBG yang sedang dilakukan BGN sepanjang 2026. Selain refocusing penerima, BGN juga melakukan evaluasi operasional, pembenahan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), serta penataan distribusi anggaran agar program berjalan lebih efektif dan akuntabel.
BGN menegaskan bahwa refocusing bukan sekadar pengurangan penerima manfaat, melainkan upaya memastikan setiap rupiah anggaran negara memberikan dampak maksimal terhadap perbaikan status gizi masyarakat Indonesia.
Dengan fokus baru tersebut, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis dapat lebih tepat sasaran dan berkontribusi nyata dalam menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.
( berbagai sumber)
