Biaya Hidup Makin Mahal, Ini Tanda Kelas Menengah Mulai Turun Kelas

Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat kelas menengah semakin tertekan. (Foto: Freepik) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta melemahnya daya beli masyarakat mulai memberikan tekanan besar terhadap kelompok kelas menengah di Indonesia. Kelompok yang selama ini dianggap memiliki kondisi finansial relatif stabil kini mulai menghadapi peningkatan biaya hidup yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan.

Sejumlah ekonom menilai fenomena tersebut dapat menjadi sinyal bahwa sebagian masyarakat kelas menengah sedang mengalami penurunan kondisi ekonomi atau bahkan berisiko turun ke kelompok ekonomi yang lebih rendah.

Biaya Hidup Naik, Pendapatan Riil Justru Turun

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebutkan tanda paling nyata adalah meningkatnya biaya hidup sehari-hari yang tidak diikuti kenaikan pendapatan.

Menurutnya, masyarakat semakin merasakan tekanan karena harga berbagai kebutuhan pokok, transportasi, hingga energi terus mengalami kenaikan.

Data Bank Dunia juga menunjukkan bahwa pendapatan riil pekerja Indonesia mengalami penurunan sekitar 0,5 persen sepanjang periode 2017-2025. Bahkan, pada kelompok kelas menengah penurunannya mencapai sekitar 1 persen.

Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat semakin melemah meski secara nominal pendapatan terlihat tidak banyak berubah.

Porsi Konsumsi Semakin Besar

Perubahan pola pengeluaran juga menjadi indikator penting.

Dalam periode 2012-2025, proporsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari sekitar 67 persen menjadi 75 persen. Sebaliknya, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan turun dari 19 persen menjadi 15 persen.

Sementara itu, alokasi untuk pembayaran cicilan juga mengalami penurunan dari 14 persen menjadi 11 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan masyarakat habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga ruang untuk menabung maupun berinvestasi menjadi semakin sempit.

Masyarakat Mulai Menahan Belanja

Memasuki Januari hingga Mei 2026, terlihat perubahan perilaku masyarakat. Banyak keluarga mulai meningkatkan tabungan sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi ekonomi yang belum pasti.

Meski dinilai sebagai keputusan yang rasional, peningkatan kecenderungan menabung juga berdampak pada penurunan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Hiburan dan Pendidikan Mulai Dipangkas

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, mengungkapkan bahwa penurunan kelas ekonomi dapat dikenali melalui beberapa perubahan perilaku konsumsi.

Beberapa indikator yang mulai terlihat antara lain:

•Konsumsi rumah tangga secara umum menurun.

•Penjualan dan pembangunan perumahan nonmewah melambat.

•Pengeluaran untuk hiburan dan perjalanan wisata dikurangi.

•Anggaran pendidikan mulai ditekan.

•Ketimpangan pendapatan atau Gini Ratio meningkat.

Ketika masyarakat mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan sekunder hingga investasi sumber daya manusia seperti pendidikan, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kemampuan ekonomi sedang mengalami tekanan.

Inflasi dan BBM Menjadi Faktor Pendorong

Tekanan terhadap kelas menengah juga dipengaruhi oleh inflasi yang masih berada di atas 3 persen pada Mei 2026. Kenaikan harga BBM non-subsidi, tarif transportasi udara, serta harga sejumlah bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga turut memperbesar beban pengeluaran masyarakat.

Akibatnya, ruang untuk menabung maupun meningkatkan kualitas hidup menjadi semakin terbatas.

Tips Menghadapi Tekanan Ekonomi

Para ekonom menyarankan masyarakat kelas menengah untuk melakukan penyesuaian keuangan agar tidak semakin tertekan, di antaranya:

•Menyusun ulang prioritas pengeluaran.

•Menambah dana darurat minimal tiga hingga enam bulan kebutuhan hidup.

•Mengurangi utang konsumtif.

•Menjaga arus kas keluarga tetap positif.

•Mencari sumber pendapatan tambahan melalui investasi atau pekerjaan sampingan.

•Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.

Naiknya biaya hidup, melemahnya daya beli, menurunnya pendapatan riil, hingga berkurangnya pengeluaran untuk hiburan dan pendidikan menjadi sederet indikator yang menunjukkan kelas menengah sedang menghadapi tekanan ekonomi. 

Jika tren ini terus berlanjut tanpa diimbangi peningkatan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, semakin banyak masyarakat berpotensi mengalami penurunan kelas ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

(berbagai sumber