GEBRAK.ID; JAKARTA – Di saat banyak produsen otomotif dunia berlomba mempercepat transisi menuju kendaraan listrik, petinggi Toyota justru mengungkapkan kekhawatiran yang berbeda. Chairman Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda, mengaku cemas melihat arah industri otomotif yang semakin berfokus pada mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Dalam wawancara dengan pakar otomotif sekaligus reviewer mobil asal Inggris, Mat Watson, yang dipublikasikan oleh CarWow, Toyoda secara terbuka menyampaikan kegelisahannya terhadap masa depan mobil yang menurutnya berpotensi kehilangan sisi emosional yang selama ini menjadi daya tarik utama dunia otomotif.
“Semua orang beralih ke BEV, itu adalah ketakutan terbesar saya,” ujar Toyoda.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan posisi Toyota yang selama ini dikenal mengambil pendekatan berbeda dibanding sejumlah produsen mobil global yang agresif mengembangkan kendaraan listrik murni.
Tak Ingin Mobil Kehilangan Jiwanya
Akio Toyoda, yang dikenal sebagai pecinta mobil sejati, mengaku dirinya sempat merasa sendirian ketika mempertahankan pandangan bahwa mesin pembakaran internal masih memiliki tempat dalam industri otomotif.
Menurutnya, suara mesin, sensasi berkendara, hingga aroma khas kendaraan konvensional merupakan bagian dari pengalaman yang tidak bisa digantikan begitu saja oleh mobil listrik.
“Tiga atau empat tahun lalu, saya satu-satunya yang mengatakan bahwa saya menyukai aroma, suara, dan mesin. Saya juga ingin mempertahankan pekerjaan para pemasok mesin. Saat itu saya merasa sangat sendirian,” kata Toyoda.
Toyoda menilai upaya menciptakan kendaraan netral karbon memang penting untuk masa depan lingkungan. Namun, menurutnya mobil tidak boleh kehilangan karakter dan daya tarik yang membuat orang mencintai dunia otomotif.
“Mobil adalah mainan saya. Saya ingin membuat mobil yang ingin saya simpan di garasi saya. Jika hanya membuat mobil netral karbon, itu tidak menarik bagi saya,” ujar Toyoda.
Toyota Pilih Jalur Berbeda
Berbeda dengan sejumlah rivalnya, Toyota hingga kini tidak sepenuhnya menggantungkan masa depan perusahaan pada mobil listrik berbasis baterai.
Produsen otomotif asal Jepang itu memilih strategi multi-teknologi dengan tetap mengembangkan kendaraan hybrid, kendaraan berbasis hidrogen, hingga teknologi fuel cell electric vehicle (FCEV).
Langkah tersebut sempat menuai kritik karena dianggap terlalu lambat memasuki pasar kendaraan listrik murni. Hingga beberapa waktu lalu, Toyota bahkan hanya memiliki satu model mobil listrik global, yakni bZ4X.
Namun belakangan Toyota mulai menambah lini kendaraan listriknya melalui kehadiran Urban Cruiser dan bZ4X Touring.
Mobil Sport Bensin Masih Dipertahankan
Menariknya, di tengah semakin ketatnya regulasi emisi di berbagai negara, Toyota justru masih menunjukkan komitmennya terhadap mobil sport bermesin konvensional.
Perusahaan itu memperkenalkan GR GT terbaru yang menggunakan mesin V8 twin-turbo 4.0 liter tanpa elektrifikasi. Selain itu, Toyota juga dikabarkan tengah menyiapkan kebangkitan sejumlah model legendaris seperti Celica dan MR2 generasi baru.
Meski demikian, Toyota tetap beradaptasi dengan tren elektrifikasi. Laporan terbaru menyebutkan generasi berikutnya dari GR Yaris kemungkinan akan menggunakan teknologi hybrid yang mengombinasikan mesin turbo 2.0 liter baru dengan motor listrik dan paket baterai berukuran kecil.
Pernyataan Akio Toyoda menunjukkan bahwa perdebatan mengenai masa depan industri otomotif belum berakhir. Di satu sisi, kendaraan listrik dianggap sebagai solusi menuju netralitas karbon. Namun di sisi lain, masih ada kalangan yang percaya bahwa emosi, karakter, dan pengalaman berkendara tetap harus menjadi bagian penting dari evolusi mobil masa depan.
(Sumber: Toyota)
