![]() |
| Ternyata ada sistem global yang dirancang untuk menyelamatkan jiwa dibalik nama- nama cantik badai di dunia. (Foto: bmkg. go. id) |
GEBRAK.ID; JAKARTA– Badai dahsyat seperti Katrina (AS, 2005) atau siklon tropis yang pernah menerjang selatan Jawa seperti Cempaka (2017) menyisakan duka. Namun di balik tragedi itu, banyak publik bertanya: mengapa badai yang merusak justru diberi nama yang terdengar "cantik" atau "umum"? Siapa pula yang pertama kali punya ide ini?
Ternyata, di balik nama-nama itu ada sistem global yang dirancang untuk menyelamatkan jiwa, bukan untuk memperindah bencana.
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO), pemberian nama pendek dan mudah diucapkan terbukti lebih efektif daripada istilah teknis seperti koordinat atau angka.
"Tujuannya agar masyarakat cepat waspada. Nama seperti Katrina atau Cempaka lebih mudah diingat dan viral dibandingkan kode teknis," jelas seorang meteorologis dalam laporan WMO.
Sejarah Nama Badai: Dari Mantan Pacar hingga Bunga
Sebelum sistem modern, pelaut di Karibia memberi nama badai sesuai nama orang kudus atau bahkan mantan istri/pacar yang dianggap berbahaya. Pada 1953, AS secara resmi mulai pakai nama perempuan. Baru pada 1979, setelah kritik dari gerakan feminis, nama laki-laki mulai diselipkan bergantian.
Kini, WMO menyusun enam daftar nama yang berputar tiap tahun. Nama laki-laki dan perempuan dipakai berselang.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Meski jarang jadi pusat siklon tropis, saat siklon menerjang wilayah selatan Nusantara, BMKG menggunakan nama bunga lokal seperti Cempaka, Dahlia, Flamboyan, hingga Lili.
"Ini untuk mengurangi kepanikan namun tetap memicu kewaspadaan. Nama bunga juga merepresentasikan identitas Nusantara," ujar Kepala Subbidang Peringatan Dini Cuaca BMKG dalam rilis sebelumnya.
Nama Badai Bisa 'Pensiun'
Uniknya, sebuah nama bisa dipensiunkan selamanya jika badai tersebut sangat mematikan dan merusak. Nama Katrina (2005, AS) yang menewaskan 1.800 orang dan merugikan USD 125 miliar, misalnya, sudah dihapus dari daftar WMO dan diganti dengan nama lain.
Hal yang sama berlaku untuk siklon lokal. Meski belum ada nama tropis dari Indonesia yang "pensiun", prinsip ini berlaku global sebagai bentuk penghormatan bagi para korban.
El Nino & La Nina: Pengecualian
Adapun El Nino dan La Nina bukanlah nama badai, melainkan fenomena iklim skala besar. Kata El Niño (artinya "Anak Laki-laki" atau "Bayi Yesus") berasal dari nelayan Peru di abad 19 karena fenomena ini sering muncul sekitar Natal. Sementara La Nina ("Anak Perempuan") diberikan sebagai lawan alaminya.
Penting Bagi Publik Indonesia
Bagi masyarakat yang kerap waspada cuaca ekstrem akhir-akhir ini, mengetahui alasan penamaan penting agar tidak salah kaprah. BMKG juga terus mengimbau agar publik mengikuti informasi dari kanal resmi, bukan dari hoaks yang mengait-ngaitkan nama badai dengan mitos tertentu.
"Tidak ada kode mistis di balik nama Cempaka atau Katrina. Itu murni alat komunikasi risiko," tegas pakar kebencanaan dari ITB.
Dengan pemahaman ini, diharapkan warga lebih sigap saat mendengar nama badai atau siklon tropis yang diumumkan, serta tidak panik berlebihan karena namanya dianggap "cantik" atau "ganjil".
(berbagai sumber)
