![]() |
| SCBD tercatat menjadi kawasan dengan harga tanah termahal di Jakarta. ( Foto: Wikipedia) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA — Kawasan elite Menteng selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi hunian paling prestisius di Jakarta. Namun, dari sisi nilai tanah, kawasan tersebut ternyata bukan yang termahal di ibu kota. Posisi tersebut kini ditempati Sudirman Central Business District (SCBD), yang mencatat harga tanah mencapai ratusan juta rupiah per meter persegi.
Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia, Martin Hutapea, mengungkapkan bahwa harga tanah di kawasan pusat bisnis Jakarta jauh melampaui kawasan hunian elite seperti Menteng maupun Pondok Indah.
Menurut dia, harga tanah di Menteng saat ini berada pada kisaran Rp70 juta hingga Rp100 juta per meter persegi. Sementara itu, kawasan Pondok Indah berada di rentang Rp40 juta hingga Rp60 juta per meter persegi.
Adapun di koridor bisnis Sudirman, harga tanah telah mencapai Rp180 juta hingga Rp200 juta per meter persegi. Nilai tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap lahan di pusat aktivitas ekonomi Jakarta.
"Yang paling mahal saat ini berada di kawasan SCBD dengan nilai sekitar Rp200 juta sampai Rp300 juta per meter persegi. Itu merupakan estimasi nilai pasar dan bisa berubah sesuai transaksi yang terjadi," kata Martin dalam paparan media yang dikutip, Minggu (21/6/2026).
Didorong Aktivitas Bisnis dan Keterbatasan Lahan
Tingginya harga tanah di SCBD tidak terlepas dari posisinya sebagai pusat bisnis utama Jakarta. Kawasan ini menjadi lokasi kantor pusat perusahaan nasional maupun multinasional, perkantoran premium, hotel berbintang, pusat perbelanjaan, hingga kawasan hiburan modern.
Pengamat properti menilai harga tanah di kawasan pusat bisnis cenderung terus meningkat karena pasokan lahan yang semakin terbatas. Di sisi lain, permintaan dari pelaku usaha dan investor tetap tinggi seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi.
SCBD yang berada di jantung kawasan Sudirman juga memiliki akses langsung ke berbagai moda transportasi massal seperti MRT Jakarta, jaringan TransJakarta, hingga akses jalan tol dalam kota. Faktor konektivitas tersebut menjadi salah satu pendorong utama kenaikan nilai properti.
Jakarta Selatan Masih Jadi Magnet Investor Properti
Data pasar properti menunjukkan kawasan Jakarta Selatan, khususnya koridor Sudirman–Senayan, masih menjadi tujuan utama investasi properti komersial. Selain SCBD, sejumlah kawasan premium lain seperti Kuningan, Gatot Subroto, dan Mega Kuningan juga mencatat nilai lahan yang relatif tinggi dibandingkan wilayah lain di Jakarta.
Meski demikian, harga tanah di kawasan hunian elite seperti Menteng tetap menunjukkan tren stabil karena didukung faktor sejarah, prestise kawasan, serta keterbatasan pasokan lahan baru.
Analis menilai perbedaan harga antara kawasan hunian dan kawasan bisnis merupakan hal yang wajar. Nilai ekonomi lahan di pusat bisnis umumnya lebih tinggi karena mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar melalui aktivitas perkantoran, perdagangan, dan jasa.
Prospek Harga Tanah Masih Positif
Pelaku industri properti memperkirakan harga tanah di kawasan CBD Jakarta masih berpotensi mengalami apresiasi dalam beberapa tahun ke depan. Proyek pengembangan transportasi publik, pertumbuhan sektor jasa, serta keterbatasan lahan menjadi faktor yang terus menopang kenaikan nilai properti.
Dengan harga yang telah menembus Rp300 juta per meter persegi, SCBD kini tidak hanya menjadi kawasan bisnis paling prestisius di Indonesia, tetapi juga salah satu area dengan nilai tanah tertinggi di Asia Tenggara.
( berbagai sumber)
