![]() |
| Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Juni 2026, jumlah pekerja yang masuk kategori kelas menengah dilaporkan menyusut hampir separuh dalam tujuh tahun terakhir. (Foto: freepik) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Bank Dunia mengungkap kondisi yang mengkhawatirkan bagi perekonomian Indonesia. Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Juni 2026, jumlah pekerja yang masuk kategori kelas menengah dilaporkan menyusut hampir separuh dalam tujuh tahun terakhir, menandakan semakin beratnya tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Data Bank Dunia menunjukkan bahwa pada 2018 sebanyak 14,5 persen pekerja Indonesia berada di kelompok kelas menengah. Namun pada 2025, angkanya turun drastis menjadi sekitar 7 persen. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Fenomena tersebut dinilai sebagai tantangan serius karena kelas menengah selama ini menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Upah Riil Terus Tertekan
Dalam laporannya, Bank Dunia mencatat upah riil pekerja berpendapatan menengah hingga tinggi mengalami penurunan rata-rata 1–2 persen per tahun sejak 2018 setelah memperhitungkan inflasi.
Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan gaji nominal tidak mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup. Akibatnya, daya beli masyarakat terus mengalami tekanan dan sebagian keluarga kelas menengah menghadapi penurunan kualitas hidup.
Situasi ini diperparah dengan meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga biaya transportasi yang mengurangi ruang konsumsi rumah tangga.
Lapangan Kerja Bertambah, Tetapi Kurang Berkualitas
Bank Dunia juga menyoroti kualitas lapangan kerja di Indonesia yang dinilai masih menjadi persoalan utama. Tingkat setengah pengangguran tercatat mencapai 32,7 persen, menunjukkan banyak pekerja yang belum memperoleh jam kerja optimal maupun penghasilan yang memadai.
Sebagian besar pekerjaan baru justru berasal dari sektor dengan produktivitas relatif rendah seperti pertanian dan jasa makanan. Kondisi tersebut membuat peningkatan jumlah pekerjaan belum diikuti kenaikan pendapatan yang signifikan.
Sejumlah ekonom sebelumnya juga menilai transformasi industri yang berjalan lambat membuat penciptaan pekerjaan bernilai tambah tinggi belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Risiko terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Penyusutan kelas menengah dinilai berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional. Ketika daya beli melemah, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) dapat mengalami perlambatan.
Penurunan konsumsi berpotensi memengaruhi sektor perdagangan, properti, otomotif, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada belanja masyarakat.
Jika tren tersebut berlanjut, pemulihan ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang semakin besar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya persaingan investasi di kawasan Asia Tenggara.
Reformasi Dinilai Mendesak
Bank Dunia menilai Indonesia perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja yang lebih produktif melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan tenaga kerja, serta perbaikan iklim investasi.
Selain itu, reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas sektor industri manufaktur dan jasa modern dinilai menjadi langkah penting agar lebih banyak pekerja memperoleh pendapatan yang cukup untuk kembali masuk ke kelompok kelas menengah.
Tanpa perbaikan kualitas pekerjaan dan peningkatan produktivitas, penyusutan kelas menengah dikhawatirkan akan terus berlanjut dan mengurangi ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
(berbagai sumber)
