Dijuluki 'Si Nenek Kecil', Kiper 40 Tahun Cape Verde Ini Bikin Spanyol Gagal Menang di Laga Perdana Piala Dunia

Vozinha, kiper 40 tahun Tanjung Verde, tampil heroik saat menahan imbang Spanyol 0-0 untuk membawa negaranya meraih poin pertama di Piala Dunia 2026. (Foto: FIFA)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID; ATLANTA – Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan kisah tak terduga. Saat banyak sorotan tertuju pada para bintang Spanyol, justru seorang kiper berusia 40 tahun dari Cape Verde yang mencuri perhatian dunia. Namanya Josimar José Évora Dias, tetapi publik sepak bola lebih mengenalnya dengan panggilan unik: Vozinha.

Penampilan gemilang Vozinha menjadi faktor utama di balik keberhasilan Cape Verde menahan imbang Spanyol 0-0 dalam laga Grup H di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, Senin (15/6/2026). Hasil tersebut terasa istimewa karena menjadi poin pertama yang diraih Cape Verde dalam sejarah penampilannya di ajang Piala Dunia.

Sepanjang pertandingan, Spanyol tampil dominan dengan penguasaan bola yang mencapai lebih dari 70 persen. Namun setiap peluang yang mengarah ke gawang selalu mampu dipatahkan oleh ketenangan dan pengalaman sang penjaga gawang veteran.

Aksi penyelamatan demi penyelamatan yang dilakukan Vozinha membuat para penyerang La Furia Roja frustrasi. Penampilan heroiknya pun langsung menjadi perbincangan di berbagai media internasional.

Yang menarik, nama "Vozinha" yang tertera di punggung seragamnya memiliki arti yang tidak biasa. Dalam bahasa Portugis, kata tersebut berarti "nenek kecil".

Meski terdengar unik untuk seorang pesepak bola profesional, julukan itu memiliki kisah emosional di baliknya.

Dalam wawancara dengan FIFA, Vozinha mengungkapkan bahwa dirinya dibesarkan oleh kakek dan neneknya di Pulau São Vicente, Cape Verde. Saat masih kecil, kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga sebagian besar masa pertumbuhannya dihabiskan bersama sang kakek dan nenek.

"Julukan itu berasal dari kakek-nenek saya. Saya tidak pernah tinggal bersama orang tua karena ayah berada di militer dan ibu bekerja setiap hari. Saya tumbuh bersama kakek-nenek," ujar Vozinha.

Masa kecilnya juga diwarnai persaingan dengan anak-anak yang usianya lebih tua. Dari sanalah mental kompetitifnya terbentuk.

"Saya sangat kompetitif dan tidak suka kalah. Ketika anak-anak lain mengejek saya dan mengatakan saya akan mengadu kepada kakek-nenek, julukan itu akhirnya melekat," kenangnya.

Menariknya, pada awal karier profesional ia sempat menggunakan nama asli, Josimar, yang diberikan ayahnya sebagai penghormatan kepada mantan bek Timnas Brasil di Piala Dunia 1986. Namun saat bermain di Angola dan berada satu tim dengan pemain lain bernama Josimar, ia memutuskan kembali menggunakan julukan masa kecilnya.

Sejak saat itu, nama Vozinha menjadi identitasnya di dunia sepak bola.

Sebelum tampil di Piala Dunia 2026, Vozinha telah menjalani perjalanan panjang di berbagai klub Eropa, mulai dari Moldova, Siprus, Slovakia, hingga Portugal. Pengalaman tersebut membuatnya tetap mampu bersaing meski kini telah menginjak usia 40 tahun.

Kini, berkat penampilan luar biasa melawan Spanyol, Vozinha tak hanya menjadi pahlawan Cape Verde. Ia juga menjelma menjadi salah satu kisah paling inspiratif di Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa usia hanyalah angka ketika dedikasi dan semangat tetap menyala.

(Sumber: FIFA)