Dolar AS Mulai Ditinggalkan, Sinyal Kuat De-Dolarisasi Makin Nyata Rekor 45% Bank Sentral Dunia Siap Borong Emas


45% bank sentral di dunia masih akan memburu emas di sepanjang 2026 ini. ( Foto: freepik) 

 Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA – Gelombang pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia diprediksi akan terus menguat sepanjang tahun ini. Keyakinan terhadap logam mulia sebagai aset penyelamat di tengah krisis semakin kokoh, sementara kepercayaan terhadap dominasi dolar AS justru menunjukkan tanda-tanda melemah.

Keyakinan ini tertuang dalam laporan Central Bank Gold Reserves Survey 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC). Survei yang melibatkan 76 bank sentral dari berbagai negara itu mengungkapkan bahwa hampir 90% responden meyakini total cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan mendatang .

Yang lebih mencengangkan, 45% responden menyatakan institusi mereka sendiri berencana menambah cadangan emas dalam setahun ke depan. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak survei pertama kali dilakukan pada 2018, melampaui 43% pada tahun sebelumnya. 

“Survei tahun ini mengirimkan pesan yang jelas yakni permintaan emas dari bank sentral tetap berada pada jalur yang meningkat,” ujar Shaokai Fan, Global Head of Central Banks WGC, dalam siaran persnya. 

Sebanyak 93% responden mengaku telah memiliki emas dalam portofolio cadangan mereka, meningkat signifikan dibandingkan 81% pada survei tahun lalu. 

Mengapa Bank Sentral Berbondong-bondong Beli Emas?

Ada dua faktor utama yang mendorong agresivitas ini yaitu ketidakpastian geopolitik dan melemahnya kepercayaan pada dolar AS.

1. Emas sebagai Tameng Geopolitik dan Inflasi

Survei WGC menunjukkan bahwa 90% responden menilai kinerja emas saat krisis sebagai faktor terpenting dalam keputusan menyimpan emas angka tertinggi yang pernah tercatat. Hal ini mencerminkan dampak konflik di Timur Tengah yang terjadi saat survei berlangsung (Februari-Mei 2026).

Selain itu, 84% bank sentral melihat emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang, dan 83% menganggapnya sebagai alat diversifikasi portofolio yang efektif .

Yang menarik, emas kini tidak lagi dipandang sekadar aset warisan historis. Proporsi responden yang menyimpan emas karena alasan tradisi turun drastis dari 62% pada 2025 menjadi hanya 46% pada 2026 . Ini menandakan emas telah bertransformasi menjadi aset strategis aktif dalam manajemen cadangan devisa modern.

2. De-Dolarisasi: Dominasi Dolar AS Terus Tergerus

Survei mengungkapkan pergeseran besar dalam struktur cadangan devisa global. 74% responden memperkirakan pangsa dolar AS dalam cadangan global akan menurun secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan .

Angka ini menunjukkan semakin kuatnya tren de-dolarisasi di kalangan bank sentral. Meski dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama, pangsanya terus menyusut dari 71% pada 1999 menjadi sekitar 58,5% pada awal 2026 .

Sebaliknya, para responden meyakini pangsa emas dalam cadangan global akan terus meningkat, sementara euro dan yuan diprediksi tetap stabil. 

Strategi Penyimpanan Berubah: Dekat ke Rumah

Survei WGC juga mengungkap perubahan menarik dalam strategi penyimpanan emas. Makin banyak bank sentral yang mulai memindahkan emasnya lebih dekat ke dalam negeri atau mendiversifikasi lokasi penyimpanan di luar negeri. 

Dalam 12 bulan terakhir, 9% responden meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri (naik dari 5%), sementara 10% mendiversifikasi lokasi penyimpanan di luar negeri (melonjak dari hanya 2% pada survei sebelumnya) .

Analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo, menilai kekhawatiran akan akses terhadap aset di luar negeri menjadi pemicu utama. “Ketakutan bahwa aset tidak dapat diakses di luar negeri sejak 2022 mendorong sebagian bank sentral untuk memulangkan emas yang disimpan di luar negeri,” jelasnya kepada media. 

Meski demikian, Bank of England tetap menjadi lokasi penyimpanan favorit (57%), disusul penyimpanan domestik (49%) dan Bank for International Settlements (16%). Menariknya, preferensi terhadap Swiss National Bank turun drastis dari 12% menjadi 6%.

Dampak pada Harga Emas

Meski harga emas sempat terkoreksi sekitar 18% akibat konflik Iran dan kebijakan moneter ketat The Fed, para analis tetap optimistis. UBS memperkirakan bank sentral akan membeli 750 hingga 1.000 ton emas sepanjang 2026 .

“Permintaan seperti itu mungkin tidak akan mendorong harga naik tajam dengan sendirinya, tetapi kami percaya hal itu akan memberikan fondasi yang stabil bagi pasar,” ujar Staunovo .

JP Morgan bahkan memperkirakan harga emas rata-rata bisa mencapai $6.000 per ons pada kuartal IV 2026, dengan proyeksi $6.300 pada akhir 2027, didorong oleh permintaan bank sentral dan tren de-dolarisasi .

Bila diambil kesimpulannya, survei WGC 2026 menegaskan bahwa emas telah kembali menjadi primadona di mata bank sentral dunia. Di tengah dunia yang kian volatil dan tidak menentu, logam mulia ini tidak hanya diandalkan sebagai pelindung kekayaan, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam pergeseran tatanan keuangan global yang mulai meninggalkan dominasi dolar AS.

( berbagai sumber