![]() |
| PLN buka suara penyebab mati listrik bergiliran Jawa. ( Foto: Wikipedia) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA– Gelombang pemadaman listrik bergilir melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa sejak pekan lalu hingga hari ini. PT PLN (Persero) akhirnya buka suara terkait penyebab utama gangguan yang meresahkan masyarakat ini, mulai dari wilayah Tangerang Selatan, Depok, Semarang, hingga Surabaya.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa pemadaman terjadi karena adanya kendala teknis operasional pada pembangkit. Menurutnya, ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan, sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik.
"Untuk menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas dan terukur di sejumlah wilayah," ujar Greg dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/6/2026) . Langkah ini dipaksa dilakukan untuk menekan beban sistem dan mencegah terjadinya pemadaman menyeluruh atau blackout total.
PLN menegaskan bahwa saat ini pihaknya terus melakukan percepatan pemulihan dengan mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain. "PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan, mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain, serta melakukan pengaturan operasi sistem guna menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik," kata Greg.
Kondisi di Lapangan dan Dampak ke Masyarakat
Pemadaman yang berlangsung selama 2 hingga 5 jam ini menimbulkan keluhan luas dari masyarakat . Di Kota Semarang, warga mengaku tidak mendapatkan pemberitahuan resmi jadwal pemadaman, sehingga aktivitas rumah tangga dan bisnis terganggu.
Seorang petugas kasir minimarket di Semarang, Asih, mengungkapkan bahwa tokonya gelap gulita dan pembeli kesulitan bertransaksi. "Lumayan sering mati listrik minggu ini udah beberapa kali," keluhnya. Pembeli bahkan harus menggunakan senter ponsel untuk berbelanja dan hanya bisa membayar dengan uang tunai karena mesin kasir mati.
Kondisi ini memicu keresahan, warga mulai berburu lampu darurat dan menyetok daya di power bank untuk mengantisipasi pemadaman yang terjadi secara mendadak . Seorang karyawan swasta di Semarang, Dinda (25), mengaku sempat mengalami pemadaman selama 7 jam pada Rabu (17/6/2026). "Kalau satu kota mengalami blackout, orang yang bekerja secara digital mau kerja di mana?" keluhnya.
Akar Masalah: Defisit Batu Bara dan Harga DMO
Di balik gangguan teknis pembangkit, sumber lain mengungkapkan bahwa akar masalah yang lebih dalam adalah krisis pasokan batu bara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui bahwa PLN masih kekurangan pasokan batu bara sebesar 18-20 juta ton dari total kebutuhan 154 juta ton pada tahun 2026.
Bahlil menjelaskan bahwa kendala utama terletak pada ketidakcocokan harga. Regulasi Domestic Market Obligation (DMO) mematok harga batu bara untuk PLN maksimal US$70 per ton, sementara harga pasar acuan (HBA) untuk spesifikasi kalori medium (5.300 kcal/kg) berada di angka US$84,53 per ton. Selisih harga ini membuat produsen enggan menyuplai PLN karena margin keuntungan tergerus.
Selain itu, adanya keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang batu bara tahun 2026 turut memperparah situasi . Pakar Tenaga Listrik dari ITB, Dr. Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa pemadaman massal ini juga dipicu oleh kebijakan derating, yaitu penurunan kapasitas produksi pembangkit secara sengaja untuk mengamankan cadangan bahan bakar.
Pemerintah Bergerak Cepat dan Jaminan PLN
Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah membentuk tim khusus yang terdiri dari PLN, Ditjen Minerba, dan BPKP untuk mengawal pengadaan dan distribusi batu bara . Bahlil memastikan bahwa ke depannya tidak akan ada rencana pemadaman listrik lebih lanjut. "Insya Allah enggak," tegasnya seusai rapat koordinasi di Jakarta, Kamis (18/6).
PLN memastikan bahwa manajemen beban yang diterapkan saat ini bersifat sementara dan akan segera dihentikan secara bertahap seiring pulihnya kondisi pasokan sistem . "PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan," ujar Greg menutup pernyataannya.
Perusahaan juga berjanji akan terus menginformasikan perkembangan proses penanganan dan pemulihan melalui kanal komunikasi resmi.
( berbagai sumber)
