![]() |
| Naiknya harga Pertamax membawa efek domino yang diabaikan pemerintah. Kelas menengah akan mengurangi konsumsi yang berimbas pada UMKM. (Foto: AI) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai berpotensi memicu efek domino terhadap perekonomian nasional. Tidak hanya membebani masyarakat, kebijakan tersebut diperkirakan akan menekan daya beli kelas menengah hingga berdampak langsung pada penurunan penjualan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Peneliti dan Analis Kebijakan Senior Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hasran, mengatakan kenaikan biaya energi membuat rumah tangga harus mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan dasar. Kondisi ini menyebabkan ruang belanja untuk kebutuhan lain semakin terbatas.
"Ketika pengeluaran untuk kebutuhan dasar meningkat, masyarakat akan lebih selektif dalam berbelanja sehingga konsumsi di sektor UMKM berpotensi mengalami penurunan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).
Kelas Menengah Jadi Penopang Konsumsi Nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok masyarakat kelas menengah dan menuju kelas menengah mencapai sekitar 66,35 persen dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini menyumbang sekitar 81,49 persen belanja rumah tangga nasional.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Hasran, setiap penurunan konsumsi dari kelompok ini akan memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor usaha, terutama UMKM yang bergantung pada belanja masyarakat.
"Masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran untuk makan di luar rumah, membeli makanan siap saji, hiburan, hingga rekreasi. Dampaknya akan langsung dirasakan oleh usaha kecil di sektor makanan, minuman, dan jasa," katanya.
UMKM Hadapi Tekanan Ganda
Selain menghadapi potensi penurunan permintaan, pelaku UMKM juga harus menanggung kenaikan biaya produksi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat harga berbagai bahan baku impor seperti kedelai, gandum, dan gula mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan UMKM semakin tergerus. Pelaku usaha berada dalam posisi sulit antara mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau atau menaikkan harga yang berisiko mengurangi jumlah pelanggan.
Sejumlah ekonom juga menilai tekanan terhadap kelas menengah perlu menjadi perhatian serius karena kelompok ini selama ini menjadi penggerak utama konsumsi domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
CIPS Usulkan Perbaikan Kebijakan
Untuk menjaga daya tahan UMKM, CIPS mendorong pemerintah mengambil sejumlah langkah strategis. Di antaranya mengurangi hambatan non-tarif (Non-Tariff Measures/NTM), meninjau kembali tarif impor bahan baku industri, menyederhanakan prosedur ekspor-impor, memperluas layanan digital yang transparan, serta memperkuat infrastruktur logistik nasional.
Menurut CIPS, akses bahan baku dengan harga kompetitif menjadi faktor penting agar UMKM tetap mampu bertahan di tengah kenaikan biaya operasional dan perlambatan konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan bahwa stabilitas daya beli masyarakat perlu dijaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan. Jika konsumsi rumah tangga terus melemah, sektor perdagangan, jasa, hingga industri pengolahan berpotensi mengalami perlambatan dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan kondisi tersebut, kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal, harga energi, dan perlindungan terhadap UMKM dinilai menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
(berbagai sumber)
