Fakta-Fakta Unik Bulan Muharram: Nama Aslinya Bukan Muharram dan Status Puasa yang Pernah Wajib

Bulan Muharram. (Foto: istimewa) 
Editor: Devona R

GEBRAK. ID; JAKARTA-- Bulan Muharram tidak sekadar menjadi penanda pergantian kalender dalam sistem penanggalan Islam. Di balik statusnya sebagai pembuka tahun hijriah, tersimpan berbagai fakta menarik yang jarang diketahui oleh sebagian besar umat Muslim.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, tanggal 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 . Pergantian hari dalam kalender Qamariah dimulai sejak terbenamnya matahari, sehingga malam Tahun Baru Islam sudah dimulai sejak Senin petang, 15 Juni 2026.

Meski dirayakan setiap tahun, banyak esensi dan sejarah bulan yang dijuluki Syahrullah (Bulan Allah) ini kerap luput dari perhatian. Berikut 9 fakta menarik yang dirangkum dari berbagai literatur dan tafsir ulama:

1. Bukan Nama Warisan Jahiliyah, Tapi Pemberian Rasulullah

Banyak yang mengira nama Muharram sudah ada sejak zaman Arab pra-Islam. Faktanya, nama ini adalah pemberian langsung dari Rasulullah SAW.

Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa masyarakat Arab Jahiliyah menyebut bulan ini dengan nama Shafar al-Awwal (Shafar Pertama). Sementara bulan yang kini kita kenal sebagai Shafar, saat itu bernama Shafar ats-Tsani (Shafar Kedua). Setelah Islam datang, Rasulullah mengganti nama Shafar al-Awwal menjadi Al-Muharram. 

2. Satu-satunya Bulan yang Dinamai "Syahrullah"

Muharram memiliki gelar istimewa yang tidak dimiliki bulan lain, yakni Syahrullah (Bulan Allah). Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah (syahrullah) yang bernama Muharram." (HR. Muslim) .

Para ulama menjelaskan, penyandaran nama bulan ini kepada lafazh Allah menandakan kemuliaan dan pengagungan yang sangat besar, sebagaimana istilah Baitullah (Rumah Allah) .

3. Dosa Dilipatgandakan di Bulan Haram

Muharram adalah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) bersama Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab . Dalam bulan-bulan ini, konsekuensi dosa menjadi lebih berat.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36: "...maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..." Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum, namun dosa yang dilakukan di bulan haram memiliki konsekuensi yang lebih berat, sementara amal saleh mendapat pahala yang lebih besar .

4. Puasa Asyura: Tradisi Jahiliyah yang Diadopsi Islam

Salah satu fakta paling mengejutkan adalah bahwa puasa Asyura (10 Muharram) bukanlah ibadah yang baru disyariatkan di masa Islam. Tradisi ini sudah dikenal dan diamalkan oleh masyarakat Quraisy pada zaman Jahiliyah.

Siti Aisyah meriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyah. Rasulullah pun melanjutkan tradisi ini hingga turun perintah wajib puasa Ramadhan. Imam al-Qurthubi menyebut tradisi ini sebagai warisan dari ajaran Nabi Ibrahim AS.

5. Status Puasa Asyura Pernah Wajib

Di awal kedatangan Islam di Madinah, puasa Asyura sempat memiliki status wajib sebelum kemudian dihapus (mansukh) oleh kewajiban puasa Ramadhan. Setelah Ramadhan diwajibkan, Rasulullah bersabda bahwa puasa Asyura menjadi sunnah (suka-suka, tidak lagi wajib). 

6. Anjuran Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Selain tanggal 10, umat Islam dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a). Hal ini awalnya karena Rasulullah SAW mendapati orang-orang Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 untuk merayakan keselamatan Nabi Musa AS. Rasulullah kemudian berniat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 di tahun berikutnya agar berbeda dengan kaum Yahudi, namun beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.

Para ulama juga menganjurkan puasa tanggal 11 Muharram sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath) jika terjadi kesalahan dalam penetapan awal bulan dan untuk menyelisihi ahli kitab. 

7. Penetapan sebagai Bulan Pertama di Masa Umar bin Khattab

Meskipun menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah, status ini tidak ditetapkan di masa Rasulullah. Penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun baru Islam baru terjadi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Dalam sebuah musyawarah, para sahabat sepakat menjadikan tahun hijrah Rasulullah sebagai patokan awal kalender Islam. Sayyidina Umar kemudian memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama, karena bulan ini muncul setelah bulan Dzulhijjah (bulan terakhir dalam ritual haji). 

8. Penghapus Dosa Kecil, Bukan Dosa Besar

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa pada hari 'Asyura, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim) .

Namun, Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menegaskan bahwa dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (as-saghair), bukan dosa besar (al-kaba'ir). Dosa besar tetap membutuhkan taubat nasuha yang sungguh-sungguh.

9. Momentum Keselamatan Para Nabi

Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah hari terjadinya berbagai peristiwa monumental para nabi. Pada tanggal 10 Muharram terjadi beberapa peristiwa:

· Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.

· Bahtera Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat setelah banjir besar.

· Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan.

· Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api Raja Namrud.

Hal ini menjadikan Muharram sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan ketakwaan dan meneladani kesabaran para nabi.

Perbedaan Tradisi: Refleksi dan Duka

Menariknya, dalam merayakan bulan ini, terdapat perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah. Kaum Sunni lebih menekankan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai momentum refleisi dan pembaruan diri. 

Sementara itu, bagi kaum Syiah, bulan Muharram lebih identik dengan peringatan duka atas gugurnya Imam Husein bin Ali dalam Perang Karbala. Di Indonesia, tradisi ini tercermin dalam upacara Tabot atau Tabuik di Bengkulu dan Sumatera Barat. 

Dengan segala keistimewaannya, memasuki bulan Muharram 1448 H ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, berpuasa sunnah, serta meninggalkan segala larangan agar mendapatkan keberkahan Syahrullah.

(berbagai sumber