Guru Berpengalaman 30 Tahun Ini Akui IFP Ubah Cara Mengajar, Video Interaktif Bikin Murid Lebih Fokus dan Cepat Paham

Ahmad Fahrudin (berkaos biru, depan), Guru PJOK, SMPN 2 Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, PURBALINGGA – Teknologi digital mulai mengubah wajah pembelajaran di sekolah. Salah satu inovasi yang kini dirasakan manfaatnya oleh para pendidik adalah Interactive Flat Panel (IFP), perangkat pembelajaran berbasis layar sentuh yang membuat proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif, efisien, dan sesuai dengan karakter generasi digital.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Ahmad Fahrudin, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 2 Kutasari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Setelah tiga dekade mengajar, ia mengaku kehadiran IFP menghadirkan pengalaman mengajar yang berbeda dibandingkan metode konvensional.

Menurut Ahmad, selama bertahun-tahun dirinya harus berulang kali memperagakan gerakan olahraga agar seluruh siswa memahami materi yang disampaikan. Kini, proses tersebut menjadi jauh lebih mudah berkat bantuan video interaktif dan berbagai fitur digital yang tersedia pada Interactive Flat Panel.

"Biasanya anak-anak membutuhkan waktu lama memahami gerakan karena sudut pandang mereka terbatas saat melihat guru memberi contoh. Dengan IFP, saya memutar video panduan dengan kualitas gambar yang tajam dan audio yang menggelegar. Melihat anak-anak antusias meniru gerakan di layar sambil tersenyum gembira menjadi kepuasan luar biasa bagi saya setelah 30 tahun mengajar," ujar Ahmad dalam siaran pers Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendikdasmen), Senin (29/6/2026).

Ahmad mengatakan, fitur pemutaran video multimedia, screen mirroring, dan anotasi digital menjadi fasilitas yang paling sering dimanfaatkan saat mengajar. Melalui fitur anotasi, guru dapat menghentikan tayangan video pada bagian tertentu, kemudian memberikan penjelasan langsung mengenai posisi tubuh atau teknik gerakan yang benar.

"Olahraga adalah materi yang bersifat kinestetik dan visual. Saya cukup memutar video, menghentikannya pada gerakan tertentu, lalu memberi anotasi untuk menunjukkan posisi kaki atau tangan yang benar. Saya tidak perlu lagi mendemonstrasikan gerakan berulang-ulang sehingga waktu mengajar jauh lebih efisien dan materi lebih mudah dipahami murid," jelas Ahmad.

Manfaat Interactive Flat Panel juga dirasakan oleh Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP Negeri 2 Kutasari, Patmiarsih Winarni. Pendidik yang telah mengajar selama 25 tahun tersebut menilai teknologi digital mampu menghidupkan suasana kelas dan meningkatkan partisipasi siswa.

Menurut Patmiarsih, penyampaian materi kini tidak lagi terbatas pada buku atau presentasi biasa. Guru dapat menggabungkan video pembelajaran, tayangan YouTube, infografis, hingga berita aktual yang relevan dengan materi pelajaran.

"IFP memberi kemudahan dalam menyajikan video, presentasi, YouTube hingga berita aktual yang sesuai materi. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika murid sangat antusias mengikuti kuis interaktif dan game edukasi. Anak yang biasanya kurang memperhatikan pun langsung fokus ke layar karena pembelajarannya terasa menyenangkan," kata Patmiarsih.

Patmiarsih menambahkan, digital whiteboard, screen mirroring, dan fitur anotasi menjadi sarana yang memudahkan guru menyesuaikan metode belajar sesuai karakter setiap siswa.

"Saya bisa mengakses berbagai referensi dengan cepat, memberi catatan langsung di layar, sekaligus menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Anak visual belajar lewat video dan infografis, anak auditori melalui audio, sementara anak kinestetik dapat maju menyentuh, menulis, atau memindahkan objek di layar," ujar Patmiarsih.

Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Guru dapat menyampaikan materi secara lebih efektif tanpa harus mengulang penjelasan berkali-kali, sementara siswa menjadi lebih fokus, aktif berdiskusi, berani tampil di depan kelas, hingga terdorong untuk belajar secara mandiri maupun berkolaborasi dengan teman-temannya.

Meski demikian, para guru berharap implementasi digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada penyediaan perangkat semata. Mereka menilai pelatihan penggunaan teknologi bagi tenaga pendidik, dukungan jaringan internet yang stabil, serta penambahan konten pembelajaran interaktif menjadi faktor penting agar pemanfaatan IFP semakin optimal.

Program digitalisasi pendidikan sendiri terus diperluas oleh pemerintah. Pada 2025, Kemendikdasmen telah menyalurkan masing-masing satu unit Interactive Flat Panel ke 45.357 sekolah di Provinsi Jawa Tengah. Khusus di Kabupaten Purbalingga, sebanyak 824 sekolah telah menerima bantuan perangkat tersebut.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, turut mengapresiasi program digitalisasi pembelajaran yang dinilai memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Dengan pemanfaatan teknologi yang semakin luas, proses belajar diharapkan menjadi lebih inovatif, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik di era digital.

(Sumber: Kemendikdasmen)