![]() |
| Ilustrasi harga minyak mentah Indonesia. ( Foto: kementerian ESDM) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA – Peluang penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax series, kembali terbuka seiring tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang terjadi dalam sepekan terakhir. Pemerintah dan PT Pertamina (Persero) menyatakan harga BBM nonsubsidi akan mengikuti mekanisme pasar.
Tren Penurunan Harga Minyak Dunia
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah Brent tercatat di level US$78,28 per barel pada Kamis (18/6/2026), turun 1,6% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) berada di US$75,42 per barel, melemah 1,8% .
Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren koreksi tajam sejak awal Juni. Sepanjang bulan ini, Brent telah anjlok 14,9% dan WTI merosot 13,5% . Dalam kurun waktu sekitar dua pekan, Brent kehilangan hampir US$20 per barel dari posisi tertingginya di US$97,81 per barel .
Respons Pemerintah dan Pertamina
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa penurunan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
"Apakah (Pertamax) bisa turun lagi? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun," ujar Anggia di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Rabu (17/6/2026) .
Pernyataan itu mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG/01/MEM.M/2022 yang mengatur formula harga dasar perhitungan eceran BBM nonsubsidi.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap bulan dengan memperhatikan parameter keekonomian . Adapun penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan pada Juni 2026 merupakan 50% dari selisih harga pasar dan tetap lebih kompetitif dibandingkan negara-negara ASEAN.
Proyeksi Penurunan Harga Pertamax
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax akan turun secara bertahap hingga akhir tahun 2026 . Berikut proyeksi harga Pertamax per liter:
Periode Harga Proyeksi
Juni 2026 Rp16.250
Juli 2026 Rp15.228
Agustus 2026 Rp14.557
September 2026 Rp14.112
Oktober 2026 Rp13.814
November 2026 Rp13.614
Desember 2026 Rp13.479
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi Indonesian Crude Price (ICP) berangsur turun ke level US$90,6 per barel pada Desember 2026, dengan kurs rupiah yang menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 per dolar AS .
Sentimen Pendorong Penurunan
Pelemahan harga minyak dunia dipicu oleh sejumlah faktor. Perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sentimen positif bagi pasar energi karena berpotensi menekan harga minyak mentah dunia . Kesepakatan itu membuka jalan bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar global dan mengakhiri ketegangan geopolitik yang sebelumnya mendorong lonjakan harga.
Meskipun demikian, dinamika geopolitik masih dinamis. Harga minyak mentah Brent sempat naik kembali di atas US$80 per barel pada Jumat (19/6/2026) seiring batalnya perundingan damai AS-Iran yang direncanakan di Swiss dan serangan baru Israel di Lebanon.
Harga BBM Subsidi Tetap
Pemerintah menegaskan tidak ada perubahan harga untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Kedua jenis BBM tersebut tetap ditetapkan oleh pemerintah dan tidak terpengaruh fluktuasi harga minyak dunia.
( berbagai sumber)
