Ban Mobil Listrik vs Mobil Biasa: Beda Desain, Beda Fungsi, Jangan Sampai Salah Pilih!

Ilustrasi ban mobil listrik. (Foto: otomax.com/istimewa)

Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID; JAKARTA – Kepemilikan kendaraan listrik (EV) di Indonesia terus melonjak tajam. Sepanjang tahun 2025, penjualannya tercatat tumbuh hingga 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya . Namun, di balik euforia kendaraan ramah lingkungan ini, masih banyak pemilik yang belum memahami bahwa ban mobil listrik dan mobil konvensional memiliki perbedaan fundamental.

Jangan tertipu oleh tampilan fisik yang sekilas mirip. Pakar ban dari berbagai pabrikan dunia telah memperingatkan bahwa penggunaan ban yang tidak sesuai dapat berakibat fatal, mulai dari boros baterai hingga membahayakan keselamatan berkendara.

Mengapa Ban Mobil Listrik Berbeda?

Perbedaan ini bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan kebutuhan teknis yang mendesak. Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia, Mukiat Sutikno, menjelaskan bahwa ban EV didesain khusus untuk menyesuaikan karakteristik mobil listrik yang unik .

Berikut empat alasan utama mengapa ban EV berbeda dengan ban mobil biasa (Internal Combustion Engine/ICE):

1. Bobot Lebih Berat

Mobil listrik jauh lebih berat karena komponen baterai berkapasitas besar. Akibatnya, ban EV harus memiliki struktur konstruksi yang lebih kuat, terutama di bagian dinding ban (sidewall), untuk menahan beban yang lebih besar dibanding ban mobil konvensional .

2. Torsi Instan dan Akselerasi Tinggi

Berbeda dengan mesin konvensional yang perlu putaran mesin tinggi, motor listrik menghasilkan torsi puncak secara instan sejak diam. National Sales Manager PT Hankook Tire Sales Indonesia, Apriyanto Yuwono, menyatakan bahwa ban khusus EV dirancang dengan material yang mampu menahan torsi instan ini agar tidak cepat rusak. 

3. Prioritas Kesenjangan (Noise Reduction)

Mobil listrik terkenal senyap karena tidak ada suara mesin. Ironisnya, kebisingan yang tadinya tertutup mesin kini menjadi sangat terasa, terutama suara gesekan ban dengan aspal (cavity noise). Produsen seperti Hankook dan Goodyear melengkapi ban EV dengan teknologi peredam suara berupa busa khusus di dalam ban untuk menjaga kabin tetap hening. 

4. Efisiensi Energi (Rolling Resistance)

Ban khusus EV dirancang dengan hambatan gulir (rolling resistance) yang sangat rendah. Ini penting karena semakin rendah hambatannya, semakin sedikit energi baterai yang terbuang, sehingga jarak tempuh mobil menjadi lebih maksimal. Menggunakan ban biasa pada EV akan membuat baterai lebih boros .

Risiko Menggunakan Ban Biasa pada Mobil Listrik

Meski secara fisik bisa dipasang, para ahli sangat menyarankan untuk tidak menggunakan ban mobil biasa pada EV dalam jangka panjang.

"Kalau dipakai dalam kota oke-oke saja, tetapi kalau misalnya jalan jauh konsekuensinya umur bannya lebih cepat aus dan jarak tempuh jadi lebih pendek," jelas Fisa Rizqiano, Deputy Head of OE Sales Bridgestone Tire Indonesia .

Beberapa risiko yang mengintai antara lain:

· Ban cepat gundul: Karena tidak dirancang menahan bobot ekstra.

· Jarak tempuh menyusut: Rolling resistance yang tinggi memaksa baterai bekerja lebih keras.

· Kabin menjadi bising: Karena tidak ada teknologi peredam suara khas ban EV.

· Risiko keselamatan: Struktur ban konvensional mungkin tidak kuat menahan beban dinamis saat manuver tajam.

Inovasi Ban EV Terbaru

Memasuki tahun 2026, persaingan ban EV kian sengit. Michelin baru saja merilis Primacy 5 Energy dan Pilot Sport 5 Energy. Kedua produk ini diklaim mampu meningkatkan jarak tempuh mobil listrik hingga 10 persen atau setara 70 km berkat teknologi hambatan gulir rendah .

Sementara itu, DUNLOP juga meluncurkan Blue Response TG dengan konsep "EV Ready". Ban ini dirancang untuk menjadi pilihan cerdas yang bisa dipakai untuk mobil konvensional, hybrid, sekaligus EV tanpa mengorbankan performa .

Tips Merawat Ban Mobil Listrik

Agar investasi ban EV Anda awet, lakukan langkah-langkah berikut:

1. Cek Tekanan Angin Secara Rutin: Tekanan yang tepat krusial untuk mendukung bobot berat EV.

2. Rotasi Ban Berkala: Lakukan setiap 5.000 - 10.000 km untuk meratakan keausan.

3. Hindari Akselerasi "Tarik Selot": Kebiasaan menginjak pedal gas penuh secara terus-menerus akan mempercepat ausnya tapak ban .

Jadi ban mobil listrik memang sangat berbeda dengan ban mobil biasa. Mulai dari material kimia, konstruksi sidewall, hingga pola tapak, semuanya dirancang berbeda.

Bagi pemilik mobil listrik, mengganti ban dengan produk konvensional mungkin lebih murah di awal, tetapi akan berisiko mengeluarkan biaya lebih besar nantinya akibat boros baterai, ban cepat aus, dan risiko keselamatan. Pilihlah ban berlabel EV Ready, EV Compatible, atau yang secara spesifik direkomendasikan oleh pabrikan mobil Anda.

(berbagai sumber