![]() |
| Ilustrasi sel kanker. ( Foto: Indonesia cancer care) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID,JAKARTA — Kanker usus buntu atau kanker apendiks yang selama ini dikenal sebagai penyakit sangat langka kini menjadi perhatian para peneliti dunia. Studi terbaru menunjukkan bahwa generasi X dan milenial menghadapi risiko jauh lebih tinggi terkena kanker ini dibandingkan generasi sebelumnya.
Temuan tersebut menambah daftar tren peningkatan kasus kanker pada usia muda yang dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi pada kanker kolorektal, pankreas, hingga beberapa jenis kanker saluran pencernaan lainnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine pada Juni 2025 menemukan bahwa angka kejadian kanker usus buntu meningkat secara signifikan pada kelompok usia yang lahir setelah tahun 1945. Bahkan, individu yang lahir pada rentang 1981 hingga 1989 tercatat memiliki risiko hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir pada dekade 1940-an.
Risiko Naik Tajam pada Generasi X dan Milenial
Penelitian yang dipimpin oleh Andreana Holowatyj dari Vanderbilt University Medical Center menganalisis data 4.858 kasus kanker usus buntu pada orang dewasa berusia 20 tahun ke atas yang tercatat dalam basis data Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) milik National Cancer Institute Amerika Serikat selama periode 1975-2019.
Hasilnya menunjukkan peningkatan konsisten pada setiap generasi yang lahir setelah Perang Dunia II. Kasus kanker usus buntu tercatat meningkat tiga kali lipat pada kelompok generasi X dan melonjak hingga empat kali lipat pada milenial yang lebih tua dibandingkan kelompok kelahiran 1940-an.
"Kami melihat peningkatan yang nyata, bukan sekadar akibat metode diagnosis yang lebih baik," kata Holowatyj dalam keterangan resmi Vanderbilt University Medical Center.
Meski demikian, kanker usus buntu masih tergolong sangat langka. Insidensinya diperkirakan hanya sekitar satu hingga dua kasus per satu juta penduduk setiap tahun.
Gejala Sering Mirip Gangguan Pencernaan Biasa
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker usus buntu adalah gejalanya yang tidak spesifik. Banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker setelah menjalani operasi usus buntu akibat dugaan radang apendisitis.
Menurut para ahli, gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
•Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bagian kanan bawah
•Perut kembung yang berlangsung lama
•Benjolan pada area perut
•Mual dan muntah
•Cepat merasa kenyang saat makan
•Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
•Perubahan pola buang air besar yang menetap
Karena gejalanya sering menyerupai gangguan pencernaan ringan, banyak kasus baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
Belum Ada Skrining Khusus
Berbeda dengan kanker usus besar yang dapat dideteksi melalui kolonoskopi, hingga saat ini belum tersedia metode skrining standar untuk mendeteksi kanker usus buntu secara dini.
Para dokter menekankan pentingnya mewaspadai keluhan perut yang berlangsung lama atau semakin memburuk. Pemeriksaan medis segera dianjurkan apabila seseorang mengalami nyeri perut kronis, perut membesar tanpa sebab jelas, atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
Mengapa Kanker pada Usia Muda Meningkat?
Penyebab pasti lonjakan kanker usus buntu pada generasi muda masih belum diketahui. Namun para peneliti menduga fenomena ini berkaitan dengan kombinasi berbagai faktor yang juga diduga berperan dalam peningkatan kanker usia muda secara umum.
Faktor-faktor yang sedang diteliti meliputi:
•Meningkatnya angka obesitas
•Pola makan tinggi makanan ultra-proses
•Kurangnya aktivitas fisik
•Gangguan metabolik
•Perubahan mikrobioma usus
•Paparan zat kimia dan faktor lingkungan tertentu
Para ahli menilai kemungkinan besar tidak ada satu penyebab tunggal yang bertanggung jawab, melainkan kombinasi berbagai faktor gaya hidup dan lingkungan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.
Kesadaran Dini Jadi Kunci
Meskipun kasusnya meningkat, para pakar mengingatkan masyarakat agar tidak panik karena kanker usus buntu tetap merupakan penyakit yang sangat jarang terjadi.
Namun, tren kenaikan pada generasi X, milenial, bahkan sebagian generasi Z menunjukkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala pencernaan yang tidak biasa dan berkepanjangan.
Dokter menyarankan masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan seperti nyeri perut yang terus berulang, perut kembung berkepanjangan, atau penurunan berat badan tanpa penyebab jelas. Deteksi lebih awal dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan mencegah penyebaran kanker ke organ lain.
(berbagai sumber)
