GEBRAK.ID, TANGERANG SELATAN – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat transformasi digital di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB). Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggelar Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran SLB guna meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran yang lebih interaktif dan inklusif.
Program yang diselenggarakan melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKPLK) tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus melalui penguasaan teknologi oleh para tenaga pendidik.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital di sekolah tidak hanya bergantung pada tersedianya perangkat teknologi, tetapi juga ditentukan oleh kompetensi guru dalam mengoperasikan dan memanfaatkannya secara maksimal.
Menurut Atip, guru SLB memiliki tanggung jawab yang jauh lebih kompleks karena harus mendampingi peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam. Oleh sebab itu, kemampuan profesional, kesabaran, dan dedikasi menjadi modal utama dalam menjalankan tugas tersebut.
"Guru-guru SLB telah mendedikasikan diri untuk melayani saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus. Tentunya, semangat pengabdian dan nilai-nilai spiritual menjadi kekuatan penting dalam menjalankan tugas mulia tersebut," ujar Atip saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran SLB di Tangerang Selatan, Banten, Senin (29/6/2026).
Dalam sambutannya, Atip juga mengutip pandangan filsuf Martin Heidegger melalui karya The Question Concerning Technology. Ia menjelaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan cara manusia memahami dunia. Karena itu, pemanfaatannya dalam pendidikan harus dilakukan secara tepat agar mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
"Guru harus memiliki pengetahuan, penguasaan, dan keterampilan agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Guru harus menjadi aktor utama kesuksesan program Digitalisasi Pembelajaran, sehingga IFP ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap mutu pendidikan," kata Atip.
Atip pun mengajak seluruh guru untuk terus mengembangkan kreativitas dan melahirkan inovasi dalam proses belajar mengajar agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik.
"Kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik, maka kita harus terus menciptakan kreativitas yang melahirkan inovasi. Dengan inovasi itu, kita dapat menghadirkan semangat baru, memaknakan proses pembelajaran, dan meningkatkan mutu pendidikan," jelas Atip.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai transformasi digital di sekolah tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat teknologi modern. Menurutnya, guru harus mampu mengoptimalkan teknologi tersebut menjadi media pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Melalui pelatihan ini, para peserta akan menyusun rencana tindak lanjut berupa pengembangan bahan ajar digital, pembuatan video pembelajaran, penyusunan permainan edukatif interaktif, hingga berbagi hasil pelatihan kepada guru lain di sekolah masing-masing.
Selama empat hari pelaksanaan bimbingan teknis, peserta memperoleh lima materi utama yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi digital guru SLB. Materi tersebut meliputi pengembangan konten pembelajaran digital interaktif, pemanfaatan platform Ruang Murid pada Rumah Pendidikan, implementasi Pembelajaran Mendalam berbasis digital, penguasaan aplikasi penyuntingan video pembelajaran, serta pembuatan permainan interaktif sebagai media belajar.
Selain mendapatkan materi teori, para guru juga memperoleh pendampingan langsung dari para fasilitator dalam menyusun bahan ajar digital yang siap diterapkan di sekolah masing-masing.
"Dengan seluruh materi yang diperoleh, kami berharap para guru SLB mampu menjadi motor penggerak transformasi digital di sekolah, menghadirkan pembelajaran yang semakin inovatif, menyenangkan, inklusif, dan mengakomodasi kebutuhan belajar setiap peserta didik berkebutuhan khusus," jelas Tatang.
Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran SLB berlangsung mulai 29 Juni hingga 4 Juli 2026 dan diikuti guru-guru SLB terpilih dari 13 provinsi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak guru yang mampu memanfaatkan teknologi digital secara efektif sehingga kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus terus meningkat seiring perkembangan teknologi pendidikan di Indonesia.
(Sumber: Kemendikdasmen)
