![]() |
| Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Wikipedia) |
GEBRAK.ID,JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara tegas membantah isu yang menyebutkan dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur akan merelokasi fasilitas produksinya ke Vietnam. Setelah melakukan penelusuran langsung, Kemenperin memastikan PT JAI dan PT SAI masih beroperasi normal dan tidak ada rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan.
Bantahan ini disampaikan menyusul beredarnya informasi yang meresahkan pelaku industri dan pekerja. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita langsung memerintahkan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) untuk melakukan verifikasi lapangan pada Minggu (21/6/2026) .
"Pada hari Minggu sore tanggal 21 Juni 2026, Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam," ujar Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (23/6/2026) .
Temuan di Lapangan: Pabrik Aktif dan Ekspor 100 Persen
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan Dirjen ILMATE, ditemukan fakta bahwa dua perusahaan yang dimaksud adalah PT JAI yang berlokasi di Kabupaten Pasuruan dan PT SAI di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Kemenperin mengonfirmasi langsung kepada manajemen kedua perusahaan dan mendapatkan kepastian bahwa fasilitas produksi mereka masih beroperasi secara normal. "Kesimpulan sementara kami, belum ada rencana relokasi fasilitas produksi PT JAI dan PT SAI dari Indonesia ke Vietnam. Dan kedua, tidak ada pengurangan tenaga kerja atau PHK pada dua perusahaan industri tersebut," tegas Febri.
Bahkan, kinerja produksi kedua perusahaan tercatat masih baik. Pada triwulan I tahun 2026, PT SAI memproduksi sekitar 1,2 juta pieces komponen, sedangkan PT JAI memproduksi sekitar 1,6 juta pieces . Menariknya, 100 persen hasil produksi kedua perusahaan ini ditujukan untuk pasar ekspor, menjadikannya bagian penting dari rantai pasok global dan berkontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor manufaktur nasional.
Investasi Rp 1,9 Triliun dan Dampak Isu
Kemenperin juga mengungkapkan nilai investasi gabungan kedua perusahaan yang fantastis, mencapai lebih dari Rp 1,9 triliun. Nilai ini menunjukkan komitmen jangka panjang mereka dalam mendukung pengembangan industri manufaktur dan rantai pasok otomotif di Indonesia.
Meskipun kabar relokasi terbukti tidak benar, Kemenperin mengakui bahwa isu ini telah menimbulkan dampak negatif bagi iklim investasi dan operasional perusahaan. Pemberitaan yang masif membuat para pembeli (buyer) dan pemasok (supplier) mempertanyakan komitmen dan kontrak bisnis mereka ke depan.
"Pemberitaan masif terhadap relokasi dan PHK pada dua industri di Jatim ini telah berdampak terhadap rantai pasok industri otomotif dan iklim investasi manufaktur Indonesia," ungkap Febri.
Pemerintah Siapkan Langkah Mitigasi
Menanggapi situasi ini, Menteri Perindustrian telah menginstruksikan seluruh jajarannya untuk terus memonitor kinerja industri secara berkala. Langkah mitigasi cepat dan terukur pun disiapkan untuk memastikan keberlanjutan investasi serta melindungi tenaga kerja industri nasional.
Meski isu ini terbantahkan, publikasi sebelumnya menyebut bahwa isu ini memicu kekhawatiran di kalangan pekerja. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, sebelumnya menyatakan akan mendorong perundingan antara serikat pekerja dan manajemen serta membuka peluang pemberian insentif pemerintah untuk mencegah pemindahan produksi . GIAMM juga menyoroti isu ini sebagai "alarm" bagi daya saing industri otomotif Indonesia.
(berbagai sumber)
