GEBRAK.ID, JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Langkah ini diambil setelah dua peserta dilaporkan meninggal dunia saat menjalani pendidikan.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan latihan berjalan lebih aman, profesional, dan mampu meminimalkan risiko terhadap para peserta pada pelaksanaan program berikutnya.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan evaluasi dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan guna menelaah seluruh aspek penyelenggaraan latsarmil.
"Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program," ujar Rico dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, evaluasi tidak hanya berfokus pada penyebab insiden, tetapi juga mencakup penyempurnaan sistem agar keselamatan peserta menjadi prioritas utama.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis selama pendidikan berlangsung, penanganan peserta yang memiliki kondisi kesehatan khusus, hingga sistem komunikasi dan pelaporan apabila terjadi keadaan darurat.
"Kami akan mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan," kata Rico.
Kemhan, lanjut Rico, juga membuka ruang bagi berbagai masukan dari masyarakat maupun para pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya penyempurnaan program pendidikan.
"Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel," tegas Rico.
Dua Peserta Meninggal Saat Menjalani Pendidikan
Sebelumnya, dua peserta SPPI yang diproyeksikan menjadi pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar kemiliteran.
Kedua peserta tersebut adalah Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, Anisa Muyassaroh meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Hasil pemeriksaan medis menyatakan penyebab kematiannya adalah heat stroke atau sengatan panas.
Dalam dunia medis, heat stroke merupakan kondisi darurat yang terjadi ketika suhu inti tubuh meningkat hingga mencapai sekitar 40 derajat Celsius atau lebih. Kondisi ini menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh gagal bekerja dan dapat memicu kerusakan organ vital apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Rico menjelaskan, kondisi fisik Yonanda mulai menurun pada 17 Juni 2026 sehingga segera dirujuk ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan medis.
Meski telah mendapatkan perawatan, berdasarkan hasil pemeriksaan tenaga medis, Yonanda dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius Kementerian Pertahanan. Hasil evaluasi yang tengah dilakukan diharapkan dapat memperkuat standar keselamatan, meningkatkan kualitas pengawasan kesehatan peserta, serta memastikan pelaksanaan latihan dasar kemiliteran ke depan berlangsung lebih aman tanpa mengurangi tujuan pembinaan disiplin dan kesiapan peserta dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.
(Sumber: Kemenhan)
