Editor: Devona R
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat membuka Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana
Laboratorium IPA Jenjang SMA di Tangerang Selatan, Banten, Senin (22/6/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, TANGERANG SELATAN – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kualitas pembelajaran sains di sekolah menengah atas (SMA). Melalui Direktorat SMA, pemerintah menyalurkan Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih di berbagai daerah sebagai upaya meningkatkan literasi sains, keterampilan eksperimen, serta membangun budaya berpikir ilmiah di kalangan peserta didik.
Program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fasilitas pendidikan, tetapi juga menciptakan proses belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan berbasis praktik sehingga siswa mampu memahami berbagai fenomena ilmiah secara lebih mendalam.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyatakan bahwa keberadaan laboratorium memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang berkualitas. Menurutnya, laboratorium bukan sekadar ruang praktik, melainkan tempat peserta didik membangun pengalaman belajar secara nyata.
"Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita," ujar Fajar saat membuka Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA Jenjang SMA di Tangerang Selatan, Banten, Senin (22/6/2026).
Fajar menjelaskan bahwa penguatan literasi sains menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di tengah derasnya arus informasi yang diterima generasi muda saat ini. Menurutnya, siswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.
"Literasi sains itu dipahami ketika anak mampu menggunakan informasi atau pengetahuan yang dia miliki untuk melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya. Bukan sekadar dia mengerti, tetapi dia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk melihat fenomena yang berkembang tadi," kata Fajar.
Dukung Pembelajaran Mendalam
Fajar menilai aktivitas praktikum di laboratorium sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini terus dikembangkan Kemendikdasmen.
Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga membuktikan teori melalui proses eksperimen. Cara belajar seperti ini dinilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, sekaligus melatih peserta didik menyelesaikan persoalan berdasarkan fakta ilmiah.
"Praktikum di laboratorium dan proses bekerja sains di laboratorium itu mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas anak diberi teori, di laboratorium anak diminta untuk menguji teori," jelas Fajar.
Karena itu, ia mengajak seluruh sekolah penerima bantuan menjadikan laboratorium sebagai ruang tumbuhnya rasa ingin tahu, kreativitas, serta budaya berpikir ilmiah.
"Yang harus kita bangun adalah budaya berpikir ilmiah. Murid kita tidak hanya menjadi konsumen teori atau konsumen informasi. Dia harus didorong untuk bisa mengalami pengetahuan itu. Jadi kata kuncinya, pengetahuan itu harus dialami, bukan hanya diketahui," tegas Fajar.
Antusiasme Sekolah Sangat Tinggi
Sementara itu, Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, mengungkapkan bahwa minat sekolah terhadap program bantuan laboratorium IPA tahun 2026 sangat tinggi.
Dalam waktu sekitar satu pekan sejak proses pengajuan dibuka melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras), tercatat sebanyak 1.834 SMA mengajukan permohonan bantuan.
Namun, karena kuota yang tersedia hanya 100 paket bantuan, proses seleksi dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan sejumlah prioritas, di antaranya sekolah hasil revitalisasi, sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta sekolah yang menjadi model implementasi Pembelajaran Mendalam, pembelajaran koding, dan kecerdasan artifisial.
"Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mendorong keterampilan eksperimen siswa," ujar Yuli.
Yuli berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga laboratorium benar-benar menjadi pusat pembelajaran sains yang aktif, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu menghadapi tantangan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi di masa depan.
(Sumber: Kemendikdasmen)