Sekolah Nasional Terintegrasi Bakal Berbeda dari Sekolah Reguler, Ini Penjelasan Kemendikdasmen

Dirjen PAUD Dikdas PNFI Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menyampaikan pemaparan mengenai Sekolah Nasional Terintegrasi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI, Sekjen Kemenag, Kemensos, Kemenkes, Kemdiktisaintek, dan Kemendikdasmen di Jakarta Pusat, pada Selasa (23/6/2026). (Foto: DPR RI)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memaparkan konsep Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang menjadi salah satu program pendidikan yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto. Model sekolah ini disebut memiliki sejumlah perbedaan mendasar dibandingkan sekolah reguler, mulai dari tata kelola, kurikulum, hingga pengembangan peserta didik.

Penjelasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI yang juga dihadiri sejumlah kementerian terkait di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Menurut Gogot, Sekolah Nasional Terintegrasi dirancang sebagai model pendidikan yang mengintegrasikan pembinaan peserta didik secara berkelanjutan dari jenjang SMP hingga SMA dalam satu sistem pengelolaan.

"Sebagai gambaran, kami sandingkan dengan sekolah reguler, ada sejumlah hal yang mungkin bisa dijadikan pijakan," ujar Gogot.

Transformasi pada Tiga Pilar Utama

Gogot menjelaskan, terdapat tiga aspek utama yang menjadi fokus transformasi dalam penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi, yakni penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembaruan sistem pembelajaran.

Dari sisi tata kelola, SNT akan berada dalam satu ekosistem pendidikan yang memungkinkan proses pembinaan bakat, minat, dan prestasi siswa berlangsung secara berkesinambungan.

Berbeda dengan sekolah reguler yang pengelolaannya terpisah berdasarkan jenjang pendidikan, Sekolah Nasional Terintegrasi akan memiliki sistem kepemimpinan yang menyatukan pembinaan siswa sejak SMP hingga SMA.

"Sedangkan sekolah reguler berbeda karena SMP dikelola oleh kabupaten/kota, sementara jenjang pendidikan SMA dikelola oleh provinsi sehingga monitoring dan perkembangan siswa dikelola atau dimonitor oleh pemerintah daerah yang berbeda," jelas Gogot.

Kurikulum Diperkaya Kompetensi Global

Perbedaan lainnya terletak pada kurikulum yang akan diterapkan.

Selain menggunakan kurikulum nasional, Sekolah Nasional Terintegrasi juga akan diperkaya dengan berbagai kompetensi global yang relevan dengan perkembangan zaman. Penguatan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta olahraga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap lulusan SNT memiliki daya saing yang lebih tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Diperuntukkan bagi Siswa Berprestasi

Kemendikdasmen juga menjelaskan bahwa Sekolah Nasional Terintegrasi diproyeksikan menjadi ruang pengembangan bagi peserta didik berprestasi sejak tingkat kabupaten dan kota.

Langkah ini diambil setelah pemerintah menemukan masih terbatasnya pemerataan sekolah dengan mutu pendidikan tinggi di berbagai daerah.

Berdasarkan data Kemendikdasmen, dari sekitar 7.200 kecamatan di Indonesia, baru 75 kecamatan yang memiliki sekolah berakreditasi A dengan capaian literasi dan numerasi di atas rata-rata nasional.

"Kami berharap anak-anak berprestasi memiliki tempat belajar yang mampu mengembangkan potensinya secara optimal dan berkelanjutan," kata Gogot.

Dilengkapi Fasilitas Modern dan Guru Berstandar Internasional

Tak hanya mengandalkan sistem pembelajaran, Sekolah Nasional Terintegrasi juga akan dibangun dengan fasilitas pendidikan modern yang mendukung proses belajar berbasis praktik, inovasi, dan teknologi.

Pemerintah juga menargetkan sekolah ini didukung tenaga pendidik yang memiliki kompetensi bertaraf internasional sehingga mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih berkualitas kepada peserta didik.

Lebih jauh, Gogot mengatakan kehadiran SNT tidak hanya ditujukan untuk melahirkan lulusan berprestasi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan mutu pendidikan di setiap daerah.

"Sekolah Nasional Terintegrasi nantinya harus menjadi pusat pengembangan guru dan kurikulum di level kabupaten, dan menjadi katalisator pengembangan mutu pendidikan di daerah melalui pengimbasan kepada sekolah sekitar," ujar Gogot.

Melalui konsep tersebut, pemerintah berharap Sekolah Nasional Terintegrasi mampu menjadi model pendidikan unggulan yang tidak hanya meningkatkan kualitas siswa, tetapi juga mendorong pemerataan mutu pendidikan di Indonesia melalui transfer praktik baik kepada sekolah-sekolah di sekitarnya.

(Sumber: Kemendikdasmen)