Menolak Prestise: Ketika Status Warisan Dunia UNESCO Justru Ditolak Warga

Wilayah Konservasi Ngorongoro, Tanzania. (Foto: istimewa) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA -- Status Situs Warisan Dunia UNESCO selama ini dianggap sebagai pencapaian tertinggi dan “mahkota” bagi destinasi wisata dunia. Mulai dari Candi Borobudur di Indonesia hingga Piramida Giza di Mesir, label ini identik dengan prestise dan destinasi wisata kelas dunia.

Namun, sebuah fenomena menarik justru terjadi di sejumlah negara. Alih-alih bangga, beberapa komunitas lokal justru mendesak agar status kebanggaan tersebut dicabut. Bagi mereka, "mahkota" UNESCO telah berubah menjadi "batu besar" yang menghancurkan kenyamanan hidup, privasi, dan keberlangsungan budaya. 

Sentimen ini mengemuka setelah laporan BBC Travel pada Kamis (11/6/2026) mengulas bagaimana pariwisata massal dan regulasi konservasi yang kaku kerap kali lebih menguntungkan dunia ketimbang warga setempat. 

Laporan tersebut menyoroti dua kasus ekstrem yang saat ini menjadi perhatian global: Desa Vlkolínec di Slovakia dan Kawasan Konservasi Ngorongoro di Tanzania.

"Kami Hidup di Akuarium": Kisah dari Desa Vlkolínec

Terletak di pegunungan Slovakia Tengah, Desa Vlkolínec adalah kawasan abad pertengahan yang terpelihara dengan sangat baik. Dengan 45 rumah kayu berwarna cerah yang mengelilingi menara lonceng abad ke-18, UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia pada tahun 1993.

Namun, lebih dari tiga dekade kemudian, hanya 14 penduduk yang tersisa di desa tersebut. Alih-alih hidup tenang sebagai petani, penduduk merasa seperti hewan di kebun binatang. Dengan kedatangan lebih dari 100.000 wisatawan per tahun, privasi menjadi barang mahal.

"UNESCO melindungi rumah-rumahnya, tetapi sama sekali tidak melindungi orang-orang yang tinggal di dalamnya," ujar Anton Sabucha (67), penduduk tetap tertua, seperti dikutip dari TVP World pada Rabu (28/1) lalu. 

Sabucha mengeluhkan turis yang kerap masuk pekarangan rumah, mengintip jendela, hingga mengabaikan papan "Dilarang Memotret" yang dipasangnya. Selain itu, aturan ketat UNESCO melarang penduduk memelihara ternak atau bercocok tanam, yang merupakan warisan budaya agraris mereka. Akibatnya, desa yang dulunya hidup itu perlahan berubah menjadi museum terbuka yang sunyi .

Konservasi atas Nama Manusia”: Pengusiran Suku Maasai

Jika Vlkolínec kesulitan dengan turis, Kawasan Konservasi Ngorongoro di Tanzania menghadapi masalah yang lebih sistemik. Suku Maasai, yang telah tinggal di tanah ini secara turun-temurun, justru merasa dikriminalisasi demi kepentingan konservasi dunia. 

Aliansi Solidaritas Internasional Maasai mengecam UNESCO karena dianggap membantu pemerintah Tanzania mengusir sekitar 73.000 penggembala dari tanah leluhur mereka untuk memberi ruang bagi ekowisata kelas atas. Delapan ahli PBB bahkan menyebut bahwa "upaya konservasi tidak boleh mengorbankan hak asasi manusia".

"Ngorongoro, bagi mereka, milik turis, konservasionis, dan dunia. Status Warisan Dunia digunakan melawan kami, tanpa kami," demikian pernyataan tegas Aliansi Solidaritas Maasai, menyerukan penghapusan status situs tersebut dari daftar UNESCO. 

Dilema Infrastruktur vs Warisan

Indonesia tentu tidak asing dengan perdebatan serupa. Di Jerman, kasus Lembah Elbe Dresden menjadi pelajaran klasik tentang benturan antara kebutuhan modernisasi dan pelestarian. Pada tahun 2009, UNESCO mencabut status Warisan Dunia Dresden setelah pemerintah kota membangun Jembatan Waldschlösschen melintasi lembah bersejarah tersebut. 

Menariknya, warga lokal saat itu lebih memilih pembangunan infrastruktur untuk mengatasi kemacetan daripada mempertahankan label UNESCO yang hanya sekadar simbol. Keputusan ini terbukti tidak meruntuhkan pariwisata, hingga saat ini, Dresden tetap ramai dikunjungi wisatawan, bahkan dengan jembatan modern yang berdiri megah di tengah lembah kunonya .

Mencari Jalan Tengah

Menanggapi fenomena ini, Peter DeBrine, ahli pariwisata berkelanjutan UNESCO, mengakui bahwa lembaganya menyadari dampak negatif dari pariwisata massal. UNESCO kini mewajibkan situs untuk memiliki rencana pengelolaan pengunjung.

"Kami sama sekali tidak bermaksud untuk menghalangi pariwisata; kami hanya ingin membantu pariwisata mendukung upaya konservasi," ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa saat ini "tidak ada mekanisme" yang dapat dilakukan UNESCO ketika warga lokal merasa dirugikan oleh kebijakan konservasi. 

Hingga kini, hanya tiga situs yang berhasil dihapus dari daftar UNESCO (Suaka Oryx Arab, Lembah Elbe Dresden, dan Liverpool), semuanya karena isu konservasi, bukan karena permintaan warga. 

Meskipun Vlkolínec dan Ngorongoro diperkirakan tidak akan dibahas dalam sidang Komite Warisan Dunia mendatang, perdebatan ini telah membuka mata dunia: menyelamatkan situs bersejarah tidak selalu berarti menyelamatkan komunitas yang menjaganya. 

Di era modern ini, prestise UNESCO bukan lagi sekadar anugerah, tetapi sebuah tanggung jawab besar yang jika salah kelola akan berubah menjadi petaka bagi manusia di balik keindahannya.

(berbagai sumber)