![]() |
| Ilustrasi rudal hipersonik dark eagle ( Foto: AI) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID,Washington – Amerika Serikat semakin dekat mewujudkan kemampuan serangan hipersonik operasional setelah rudal Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW) atau yang dikenal sebagai Dark Eagle berhasil menyelesaikan serangkaian uji coba penting. Keberhasilan tersebut membuka jalan bagi produksi massal sistem senjata yang digadang-gadang menjadi salah satu andalan militer AS dalam menghadapi persaingan teknologi militer global.
Uji coba terbaru dilakukan pada Maret 2026 dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida. Pengujian itu menjadi kelanjutan dari serangkaian tes yang telah berlangsung sejak 2024 dan dinilai berhasil memenuhi target kinerja yang ditetapkan Pentagon.
Sebelumnya, Dark Eagle juga sukses diuji pada Desember 2024 dari lokasi yang sama. Sementara pada Juni 2024, rudal tersebut menempuh jarak lebih dari 3.200 kilometer dari Hawaii menuju target di Kepulauan Marshall, menandai salah satu pencapaian terbesar dalam program hipersonik Amerika Serikat.
Masuk Tahap Produksi Bernilai Rp48 Triliun
Setelah hasil pengujian dinilai memuaskan, Angkatan Darat AS resmi mengalihkan program Dark Eagle dari tahap pengembangan prototipe menuju produksi. Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah AS menggelontorkan kontrak senilai US$2,7 miliar atau sekitar Rp48 triliun kepada perusahaan pertahanan Leidos.
Kontrak tersebut mencakup pengembangan dan produksi komponen paling krusial dari senjata hipersonik, yakni Common Hypersonic Glide Body (CHGB) dan sistem pelindung panas (Thermal Protection Shield) yang memungkinkan rudal bertahan dalam suhu ekstrem saat melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
Pejabat Angkatan Darat AS menyebut kontrak ini sebagai tonggak penting karena untuk pertama kalinya program hipersonik Dark Eagle memasuki fase produksi penuh setelah bertahun-tahun melalui pengujian dan penyempurnaan teknologi.
Apa Itu Dark Eagle?
Dark Eagle merupakan rudal hipersonik berbasis darat yang dikembangkan bersama oleh Angkatan Darat dan Angkatan Laut Amerika Serikat. Sistem ini dirancang untuk menyerang sasaran strategis bernilai tinggi dalam waktu sangat singkat.
Berbeda dengan rudal balistik konvensional, Dark Eagle menggunakan wahana luncur hipersonik (hypersonic glide vehicle) yang dapat bermanuver selama penerbangan. Kemampuan tersebut membuat lintasan rudal lebih sulit diprediksi dan lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara modern.
Rudal ini mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 5 atau lima kali kecepatan suara. Pada kecepatan tersebut, senjata dapat mencapai target ribuan kilometer hanya dalam hitungan menit.
Bagian dari Persaingan Hipersonik Global
Pengembangan Dark Eagle menjadi bagian dari perlombaan teknologi hipersonik yang semakin intens antara Amerika Serikat, China, dan Rusia. Ketiga negara berlomba menciptakan sistem senjata yang mampu menembus pertahanan lawan dan memberikan kemampuan serangan cepat jarak jauh.
Selama beberapa tahun terakhir, AS sempat tertinggal dalam pengoperasian senjata hipersonik dibanding Rusia dan China yang lebih dahulu mengklaim memiliki sistem operasional. Namun keberhasilan serangkaian uji coba Dark Eagle dinilai sebagai langkah penting untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Selain digunakan Angkatan Darat melalui sistem Long-Range Hypersonic Weapon, teknologi dasar yang sama juga akan diterapkan pada program Conventional Prompt Strike (CPS) milik Angkatan Laut AS yang nantinya dipasang pada kapal perang dan platform maritim lainnya.
Tantangan Masih Menanti
Meski memasuki fase produksi, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Produksi rudal hipersonik membutuhkan material tahan panas canggih, sistem navigasi presisi tinggi, serta rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan manufaktur dalam jumlah besar.
Para analis pertahanan juga menyoroti tingginya biaya pengadaan. Beberapa perkiraan menyebut satu unit rudal Dark Eagle dapat bernilai puluhan juta dolar AS, menjadikannya salah satu senjata paling mahal yang pernah dikembangkan Pentagon.
Namun bagi Washington, investasi tersebut dianggap sepadan mengingat kemampuan hipersonik diyakini akan menjadi elemen penting dalam strategi deterensi dan proyeksi kekuatan militer Amerika Serikat pada dekade mendatang.
( berbagai sumber)
