Rupiah Masih Tertekan di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Ancaman Harga Impor dan Beban Masyarakat Kian Besar

Nilai tukar rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (8/6/2026), kurs rupiah tetap berada di level psikologis Rp18.000 per dolar AS, menandakan tekanan terhadap mata uang RI masih berlanjut di tengah berbagai tantangan ekonomi domestik dan global.

Berdasarkan pembaruan kurs transaksi Bank Indonesia (BI), kurs jual dolar AS tercatat sebesar Rp18.129,19 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di level Rp17.948,81 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan dolar AS masih menjadi salah satu mata uang asing dengan nilai tukar tertinggi terhadap rupiah. Kondisi ini membuat biaya transaksi internasional, impor barang, hingga kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan mata uang asing menjadi semakin mahal.

Rupiah Sempat Menguat, tapi Masih Melemah 8 Persen Sepanjang Tahun

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Jumat (5/6/2026), rupiah sebenarnya sempat menguat tipis 0,19 persen ke level Rp18.012 per dolar AS.

Namun penguatan tersebut belum mampu mengubah tren pelemahan yang terjadi sejak awal tahun. Data menunjukkan rupiah masih mengalami depresiasi sekitar 8,01 persen sepanjang tahun berjalan 2026.

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Situasi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda meskipun BI terus melakukan berbagai langkah stabilisasi di pasar keuangan.

Dampaknya Mulai Dirasakan Masyarakat

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan. Kondisi ini berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor bahan baku industri, produk elektronik, obat-obatan, hingga berbagai komoditas pangan yang masih bergantung pada pasokan luar negeri berpotensi meningkat.

Akibatnya, harga barang di tingkat konsumen dapat ikut terdorong naik. Beban tersebut pada akhirnya harus ditanggung masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari maupun biaya produksi yang lebih tinggi.

Selain itu, masyarakat yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang dolar AS, seperti biaya pendidikan luar negeri, cicilan, maupun perjalanan internasional, juga menghadapi pengeluaran yang semakin besar.

Kalangan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor pun harus menghadapi risiko kenaikan biaya operasional apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

Mata Uang Asia Bergerak Beragam

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang pada awal pekan terpantau bervariasi. Sejumlah mata uang seperti yuan China, dolar Hong Kong, yen Jepang, dan dolar Singapura tercatat mengalami penguatan tipis terhadap dolar AS.

Sementara itu, won Korea Selatan justru melemah cukup dalam hingga 0,52 persen. Pelemahan juga terjadi pada baht Thailand dan dolar Taiwan meski dalam skala yang lebih terbatas.

Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan pasar masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kondisi perdagangan internasional, serta sentimen terhadap pasar negara berkembang.

Pemerintah Didorong Jaga Kepercayaan Pasar

Sejumlah ekonom menilai stabilitas nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga erat kaitannya dengan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal, arah kebijakan ekonomi, dan kepastian regulasi di dalam negeri.

Karena itu, pemerintah dan otoritas keuangan didorong menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi agar kepercayaan pasar tetap terjaga. Langkah tersebut dinilai penting untuk meredam tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Meski belum menyentuh level terburuk dalam sejarah, posisi rupiah yang masih bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Jika tekanan berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan pasar keuangan, tetapi juga berpotensi merembet ke sektor riil dan daya beli masyarakat.

Pelaku usaha maupun masyarakat pun diimbau terus memantau perkembangan nilai tukar dalam beberapa pekan ke depan mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi.

(Berbagai Sumber)