![]() |
| Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026) pagi. (Foto ilustrasi: Pixabay) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026) pagi. Pergerakan tersebut memicu perhatian pelaku pasar karena menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data perdagangan yang dipantau pada Kamis pukul 06.30 WIB, kurs rupiah berada di posisi Rp18.001 per dolar AS. Angka itu menunjukkan pelemahan sekitar 0,43 persen atau 76,3 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Dalam rentang 24 jam terakhir, mata uang Indonesia ini bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak perdagangan sehari sebelumnya. Pada pembukaan pasar Rabu (3/6/2026), rupiah masih berada di kisaran Rp17.897 per dolar AS. Namun tekanan jual yang terus berlangsung membuat mata uang domestik ditutup melemah ke level Rp17.966,5 per dolar AS.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah yang berkelanjutan tidak sepenuhnya dipicu faktor fundamental ekonomi. Menurutnya, sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan turut memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.
Purbaya mengungkapkan sejumlah rumor yang beredar di kalangan pelaku pasar telah memengaruhi persepsi investor, meskipun informasi tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
"Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen negatif ke rupiah," ujar Purbaya kepada awak media di Gedung DPR, Rabu (3/6/2026).
Menurut Purbaya, pasar keuangan sangat sensitif terhadap berbagai informasi, termasuk kabar yang belum tentu benar. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan investor dan memastikan kondisi ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang sehat.
Pemerintah juga menegaskan bahwa penguatan fundamental ekonomi menjadi langkah utama untuk meredam gejolak nilai tukar. Stabilitas fiskal, pengendalian inflasi, serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi diyakini menjadi faktor penting untuk menjaga daya tahan rupiah di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah ekonom sebelumnya juga menilai pergerakan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga penguatan dolar AS, arah kebijakan suku bunga global, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi aliran modal ke negara berkembang.
Dengan tekanan yang masih berlangsung, pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mengembalikan kepercayaan terhadap mata uang nasional.
(Berbagai Sumber)
JANGAN TERLEWATKAN Kali Pertama dalam Sejarah: Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS! Pemerintah Baru Bergerak Setelah Pasar Panik
