Sinkhole Raksasa di Aceh Tengah Makin Mengkhawatirkan, Kedalaman Capai 85 Meter dan Terus Bergerak

Fenomena sinkhole atau tanah amblas berukuran raksasa di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi perhatian serius pemerintah. (Foto: Satgas PRR)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID; ACEH TENGAH – Fenomena sinkhole atau tanah amblas berukuran raksasa di Kampung Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi perhatian serius pemerintah. Lubang raksasa yang muncul pascabencana hidrometeorologi itu dilaporkan memiliki kedalaman mencapai 85 meter dengan luas sekitar tiga hektare, serta berpotensi terus meluas ke wilayah lain.

Kondisi tersebut membuat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memperketat langkah mitigasi guna mencegah risiko korban jiwa maupun kerusakan yang lebih besar.

Tim Satgas PRR Aceh bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan PT Hutama Karya melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat (12/6/2026). Hasil pemantauan menunjukkan bahwa fenomena geologi tersebut masih berkembang dan membutuhkan pengawasan intensif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun BPJN Aceh, sinkhole telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian milik warga, ambruknya tower jaringan listrik, hingga terputusnya akses jalan di sekitar kawasan terdampak.

Yang paling mengkhawatirkan, arah perkembangan lubang amblas itu kini terpantau mengalami perubahan. Jika sebelumnya bergerak ke arah hulu Sungai Peusangan, saat ini pelebarannya mulai mengarah ke kawasan Danau Laut Tawar.

Perubahan arah tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi dampak yang lebih luas, terutama terhadap lingkungan sekitar dan aktivitas masyarakat yang berada tidak jauh dari lokasi.

Dalam laporan Satgas PRR disebutkan bahwa struktur tanah di kawasan tersebut didominasi material bekas abu vulkanik dengan kandungan batuan yang sangat minim. Karakteristik tanah seperti ini membuat lapisan bawah permukaan lebih mudah terkikis oleh aliran air, terutama saat curah hujan tinggi.

Selain faktor hujan, aktivitas kegempaan juga diduga menjadi salah satu pemicu yang mempercepat proses pergerakan tanah di kawasan tersebut.

"Struktur tanah di area sinkhole didominasi material bekas abu vulkanik dan hampir tidak berbatu. Kondisi tersebut membuat material bawah tanah lebih mudah terkikis, terutama saat curah hujan tinggi dan dipengaruhi aktivitas gempa," demikian keterangan dalam laporan Satgas PRR.

Menyikapi kondisi tersebut, Satgas PRR meminta seluruh pihak terkait meningkatkan kewaspadaan. Langkah darurat yang saat ini dilakukan antara lain pemantauan harian terhadap perkembangan lubang amblas, pemasangan dan pembaruan rambu peringatan, serta pembatasan akses masyarakat menuju zona berbahaya.

Pemerintah juga mengimbau warga untuk tidak mendekati area sinkhole demi menghindari risiko kecelakaan akibat kemungkinan longsoran atau amblas susulan.

Fenomena sinkhole berukuran besar seperti yang terjadi di Aceh Tengah tergolong jarang ditemukan di Indonesia. Karena itu, kajian geologi lebih mendalam masih diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti, pola pergerakan, serta langkah penanganan jangka panjang yang paling efektif.

Sementara itu, Satgas PRR memastikan pemantauan akan terus dilakukan guna menjamin keselamatan masyarakat sekaligus mencegah dampak yang lebih luas terhadap infrastruktur dan lingkungan sekitar.

(Sumber: Satgas PRR)