Terowongan Bawah Tanah Senayan City-Plaza Senayan: Solusi Macet atau Proyek Jangka Panjang?


Gubernur Pramono wajibkan Senayan City & Plaza Senayan bangun terowongan bawah tanah untuk atasi kemacetan. Simak rencana & latar belakang kebijakan ini. ( Foto: freepik)


Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID,JAKARTA– Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berencana mewajibkan pengelola Mal Senayan City dan Plaza Senayan di kawasan Jakarta Pusat untuk membangun akses penghubung bawah tanah atau terowongan. Langkah ini diambil sebagai solusi untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan Senayan akibat keluar-masuk kendaraan pengunjung kedua pusat perbelanjaan tersebut. 

Latar Belakang dan Justifikasi Kebijakan

Kawasan Senayan, khususnya di sepanjang Jalan Asia Afrika, dikenal sebagai salah satu titik rawan kemacetan di Jakarta. Selain menjadi pusat perkantoran dan pemerintahan, kawasan ini juga merupakan lokasi dari tiga pusat perbelanjaan besar, yaitu Senayan City, Plaza Senayan, dan ITC Senayan. Aktivitas keluar-masuk kendaraan pengunjung ke pusat-pusat perbelanjaan ini sering kali menimbulkan kepadatan dan konflik lalu lintas. 

Berdasarkan penelitian akademis yang pernah dilakukan di kawasan Jalan Asia Afrika, fasilitas penyeberangan sebidang yang ada saat ini dinilai belum mampu memberikan kenyamanan dan keamanan yang memadai bagi pejalan kaki. Penelitian tersebut merekomendasikan pembangunan fasilitas penyeberangan tidak sebidang, seperti jembatan atau terowongan, sebagai solusi yang lebih aman dan nyaman. 

Integrasi dengan Transportasi Umum dan Visi Kota

Rencana pembangunan terowongan ini sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong penggunaan transportasi umum dan meningkatkan konektivitas antar moda. Saat ini, konektivitas transportasi umum di Jakarta telah mencapai 93 persen, namun tingkat penggunaannya masih di bawah 30 persen, dan Pramono menargetkan angka ini dapat terus meningkat.  

Gubernur Pramono juga telah menyatakan komitmennya untuk mempertimbangkan kebijakan tarif transportasi umum, seperti Transjabodetabek, agar tidak membuat masyarakat kembali beralih ke kendaraan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan infrastruktur seperti terowongan, yang memisahkan pejalan kaki dan kendaraan, merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan nyaman di ibu kota.

Sebelumnya, wacana serupa telah muncul dalam perencanaan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta di mana sempat direncanakan integrasi stasiun bawah tanah dengan penyeberangan pejalan kaki di kawasan Senayan. Selain itu, Stasiun MRT Senayan yang sudah ada di sekitar kawasan tersebut juga dirancang sebagai bagian dari upaya menyediakan akses yang lebih modern dan aman bagi pengguna transportasi umum.  

Dampak dan Respons

Kemacetan di kawasan Senayan sendiri bukanlah masalah baru. Sejumlah faktor, seperti perbaikan gerbang tol dan kegiatan unjuk rasa , kerap memperparah kepadatan lalu lintas di area tersebut. Kehadiran terowongan penghubung antara dua mal utama diharapkan dapat mengurai salah satu penyebab utama kepadatan, yaitu pergerakan kendaraan yang keluar-masuk mal di jam-jam sibuk.

Wacana pembangunan terowongan antar pusat perbelanjaan juga bukanlah ide baru. Sejak tahun 2012, publik sudah menyuarakan gagasan serupa untuk menghubungkan mal-mal di kawasan Senayan guna memberikan akses yang lebih aman dan nyaman bagi pengunjung dan pejalan kaki, terutama di tengah kondisi cuaca yang terik atau hujan. 

Rencana Gubernur Pramono untuk mewajibkan pembangunan terowongan ini menunjukkan langkah konkret dalam menangani persoalan kemacetan perkotaan yang sudah lama menjadi keluhan warga. Belum ada rincian lebih lanjut mengenai waktu pengerjaan dan skema pembiayaan proyek ini, namun kebijakan ini menjadi salah satu titik fokus baru dalam upaya penataan kawasan Senayan ke depannya. 

( berbagai sumber)