UI Resmikan Arboretum Hutan sebagai Ruang Healing dan Riset, Jadi Oase Hijau di Tengah Hiruk Pikuk Perkotaan

Universitas Indonesia (UI) meresmikan arboretum hutan sebagai ruang edukasi, riset, dan healing.  (Foto: Humas UI)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID, DEPOK – Universitas Indonesia (UI) resmi menghadirkan Arboretum Hutan UI sebagai ruang terbuka hijau multifungsi yang tidak hanya mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi sarana pemulihan kesehatan mental atau healing bagi sivitas akademika dan masyarakat umum.

Peresmian arboretum yang berada di kawasan Kampus UI Depok, Jawa Barat, itu dilakukan sebagai bagian dari komitmen kampus dalam mengembangkan lingkungan pendidikan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan alam di tengah kehidupan perkotaan yang semakin padat.

Wakil Rektor UI Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni, Hamdi Muluk, mengatakan Arboretum Hutan UI dirancang bukan sekadar ruang hijau biasa. Menurutnya, kawasan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara dunia akademik dan industri yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Arboretum Hutan UI bukan hanya ruang kelas terbuka, tetapi juga ruang reflektif yang dapat menjadi sarana healing dan edukasi luar ruang. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara institusi akademik dan ranah industri, seperti kolaborasi dengan Sucofindo, dapat terwujud dan memberi dampak berkelanjutan bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas,” ujar Hamdi Muluk dalam acara peresmian, Kamis (25/6/2026).

Pembangunan arboretum tersebut mendapat dukungan dari PT Sucofindo sebagai mitra kolaborasi UI dalam pengembangan fasilitas dan infrastruktur kawasan hijau kampus.

Jadi Laboratorium Alam dan Konservasi Lingkungan

Selain berfungsi sebagai ruang publik, Arboretum Hutan UI juga memiliki nilai strategis dalam mendukung penelitian dan konservasi lingkungan.

Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Prof. Supriatna, menjelaskan hasil kajian geospasial menunjukkan kawasan arboretum memiliki suhu yang relatif lebih sejuk dibanding lingkungan sekitarnya.

Menurut dia, kawasan ini juga menyimpan nilai ekonomi dan ekologis yang tinggi melalui potensi kayu, cadangan karbon, serta sumber daya air yang dimiliki.

“Arboretum berfungsi sebagai laboratorium flora dan fauna, konservasi tanah dan air, sekaligus instrumen dekarbonisasi yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Prof. Supriatna.

Keberadaan arboretum diharapkan mampu memperkuat peran UI dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan peneliti.

Terapi Alam untuk Kesehatan Mental

Tak hanya berdampak bagi lingkungan, arboretum juga diyakini memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Fakultas Psikologi UI, Dr. Dyah Triarini Indirasari, mengatakan berbagai penelitian menunjukkan interaksi dengan alam mampu membantu seseorang mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Ia menjelaskan konsep nature mindfulness atau terapi berbasis alam yang dikembangkan di kawasan arboretum terbukti dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi kecemasan, hingga membantu individu menemukan makna hidup yang lebih baik.

“Arboretum ini sangat relevan dengan berbagai penelitian nature mindfulness. Aktivitas berbasis alam terbukti mampu meningkatkan mood, menurunkan tingkat kecemasan, bahkan membantu seseorang menemukan makna hidup,” ujarnya.

Program terapi kelompok dan aktivitas relaksasi di kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pemulihan mental bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun masyarakat sekitar.

Mudah Diakses Masyarakat Jabodetabek

Sementara itu, Direktur Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI, Dr. L.G. Saraswati Putri, menegaskan bahwa arboretum hadir untuk menjawab kebutuhan ruang hijau yang mudah dijangkau masyarakat urban.

Menurutnya, selama ini masih ada anggapan bahwa menikmati alam harus dilakukan jauh dari kota. Padahal, Hutan UI dapat menjadi alternatif ruang terbuka hijau yang dekat, aman, dan nyaman.

“DPIS ingin mematahkan stereotip bahwa masyarakat perkotaan tidak bisa menikmati ruang terbuka hijau yang alami karena jarak. Arboretum Hutan UI dapat diakses dengan mudah oleh sivitas dan masyarakat luas di sekitar Jabodetabek,” kata Saraswati.

Saraswati menambahkan pihaknya telah mengembangkan berbagai program seperti forest bathing dan terapi sensorik bersama tim Fakultas Psikologi UI untuk membantu menjaga kesehatan mental masyarakat.

Dengan berbagai fungsi yang dimiliki, Arboretum Hutan UI diharapkan menjadi pusat edukasi, penelitian, konservasi, sekaligus ruang refleksi yang mampu mendekatkan kembali masyarakat dengan alam di tengah dinamika kehidupan modern.

(Sumber: Siaran Pers UI)