![]() |
| Di medsos, para pengguna listrik PT PLN (Persero) banyak yang mengaku mendapatkan tagihan melonjak drastis untuk periode Mei-Juni 2026. (Foto ilustrasi: Gebrak. id) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA – Media sosial sedang diramaikan dengan keluhan para pengguna listrik PT PLN (Persero) yang mengaku mendapatkan tagihan melonjak drastis untuk periode Mei-Juni 2026. Bahkan, tak sedikit yang mengklaim tagihan mereka membengkak hingga dua kali lipat atau 100 persen, meski merasa tidak ada perubahan signifikan dalam pemakaian peralatan elektronik di rumah.
Akun media sosial seperti @bimontoko77 mengaku token listrik yang biasanya Rp100 ribu cukup untuk seminggu, kini hanya bertahan tiga hingga empat hari. Keluhan serupa juga viral di akun @zalkad yang mempertanyakan kenaikan meski pemakaian sama.
PLN Tegaskan Tidak Ada Kenaikan Tarif
Menanggapi keresahan warganet yang ramai menggunakan tagar #ListrikNaik, PT PLN (Persero) angkat bicara. Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menegaskan bahwa pemerintah melalui Kementerian ESDM tidak menaikkan tarif dasar listrik untuk periode April-Juni 2026.
"PLN senantiasa menjalankan kebijakan tarif listrik sesuai yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Kementerian ESDM. Untuk periode April-Juni 2026 tarif listrik tetap dan tidak mengalami perubahan dari periode sebelumnya," tegas Gregorius kepada media, Selasa (2/6/2026).
Pernyataan resmi ini juga diperkuat oleh data yang merilis daftar tarif listrik per kWh per 2 Juni 2026, yang menunjukkan harga masih sama, misalnya untuk golongan R-1 1.300 VA masih Rp1.445 per kWh dan tidak ada kenaikan.
Penyebab Tagihan Membengkak Versi PLN
Jika tarif tidak naik, lalu kenapa tagihan membengkak? PLN menjelaskan bahwa lonjakan tersebut paling banyak dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi listrik (kWh) akibat faktor musim dan aktivitas rumah tangga .
"Adanya kenaikan tagihan listrik yang dirasakan sebagian pelanggan dapat dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi listrik. Faktor pemicunya antara lain cuaca, kenaikan suhu, dan meningkatnya aktivitas di rumah," jelas Gregorius.
Memasuki bulan Juni, sebagian besar wilayah Indonesia tengah dilanda musim kemarau dengan suhu panas ekstrem. Kondisi ini memaksa penggunaan pendingin ruangan (AC) atau kipas angin menjadi lebih lama dan menyala lebih sering dari biasanya. Selain itu, peningkatan aktivitas selama libur sekolah juga berkontribusi pada naiknya pemakaian listrik.
Cara Cek Konsumsi Lewat PLN Mobile
Alih-alih langsung panik, PLN mengimbau pelanggan untuk melakukan cek mandiri melalui aplikasi PLN Mobile. Hal ini penting untuk membandingkan riwayat pemakaian bulan ini dengan bulan sebelumnya .
Berdasarkan panduan dari Republika dan Kompas, berikut langkah mudah cek konsumsi listrik biar tagihan tak bikin kaget:
1. Buka aplikasi PLN Mobile (unduh di Play Store/App Store jika belum punya).
2. Login menggunakan nomor HP dan password terdaftar.
3. Pada halaman utama, pilih menu "Token dan Pembayaran" .
4. Klik "Riwayat Penggunaan" (untuk pelanggan pascabayar) atau "Riwayat Pembelian Token" (untuk prabayar).
5. Di sini Anda akan melihat grafik pemakaian bulanan. Bandingkan angka kWh bulan April, Mei, dan Juni.
Jika terjadi lonjakan kWh yang tidak wajar, segera periksa instalasi rumah atau cabut peralatan elektronik yang tidak digunakan untuk menghindari kebocoran arus. Jika masih merasa keberatan, pelanggan bisa menghubungi Contact Center PLN 123.
Tiga Fakta Penting:
1. Tarif Tetap: Tarif listrikmuTIDAK naik. Mahalnya tagihan disebabkan oleh banyaknya pemakaian (kWh).
2. Musim Panas: Cuaca panas adalah biang kerok utama yang membuat AC dan kulkas bekerja lebih keras sehingga boros listrik.
3. Cek Mandiri: Jangan malas cek riwayat di PLN Mobile sebelum komplain, karena data di aplikasi adalah bukti riwayat pemakaianmu.
(berbagai sumber)
