GEBRAK.ID, JAKARTA -- Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan Spanyol keluar sebagai juara dunia. Di balik kemeriahan pertandingan dan aksi para bintang lapangan hijau, turnamen terbesar sepak bola itu juga memutar roda ekonomi dalam skala raksasa dengan nilai mencapai ratusan triliun rupiah.
Namun, tidak semua pihak menikmati manisnya keuntungan dari ajang yang digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko tersebut. Ada yang meraup cuan besar, tetapi ada pula yang justru merasa tidak mendapatkan manfaat ekonomi sesuai harapan.
Berikut daftar pihak yang paling diuntungkan dan dirugikan dari gelaran Piala Dunia 2026.
1. FIFA Jadi Pemenang Terbesar
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjadi pihak yang paling menikmati keuntungan finansial dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Menurut ahli strategi senior Deutsche Bank Research, Marion Laboure, pendapatan FIFA selama siklus empat tahunan diperkirakan mendekati 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp232,7 triliun (kurs Rp17.900 per dolar AS).
Pemasukan tersebut berasal dari hak siar televisi, lisensi, sponsor, penjualan tiket, paket perhotelan, hingga biaya transaksi pada platform penjualan tiket resmi FIFA.
Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2022 di Qatar menghasilkan sekitar 7,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp136 triliun. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta, pendapatan FIFA pada edisi 2026 diperkirakan meningkat signifikan.
2. Penyiar dan Sponsor Raup Pendapatan Besar
Perusahaan penyiaran televisi dan sponsor juga termasuk pihak yang memperoleh keuntungan besar.
Fox Sports di Amerika Serikat, misalnya, dikabarkan membayar sekitar 485 juta dolar AS atau sekitar Rp8,68 triliun untuk memperoleh hak siar.
Meski nilai investasinya sangat besar, tingginya jumlah penonton membuat slot iklan selama Piala Dunia laris terjual.
Harga iklan berdurasi 30 detik selama pertandingan diperkirakan berkisar antara Rp3,58 miliar hingga Rp5,37 miliar. Pada laga-laga yang melibatkan Amerika Serikat di fase akhir, harga iklan bahkan mencapai sekitar Rp13,43 miliar untuk satu slot.
Selain itu, sponsor global seperti Adidas dan Coca-Cola juga memperoleh eksposur merek yang sangat besar sepanjang turnamen.
3. Penjualan Jersey Melonjak
Piala Dunia kembali menjadi berkah bagi produsen perlengkapan olahraga.
Nike dan Adidas melaporkan penjualan jersey tim nasional meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.
Jersey Inggris menjadi produk Nike yang paling laris, disusul Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat.
Sementara Adidas mencatat jersey Timnas Meksiko sebagai produk dengan penjualan tertinggi.
Peningkatan penjualan juga dirasakan jaringan ritel olahraga seperti JD Sports yang mencatat rekor penjualan jersey selama turnamen berlangsung.
4. Fans Justru Harus Merogoh Kocek Lebih Dalam
Di balik euforia turnamen, para suporter justru menjadi kelompok yang paling terbebani secara finansial.
Penerapan sistem harga tiket dinamis membuat harga tiket pertandingan melonjak tajam seiring meningkatnya permintaan.
Tiket resmi final Piala Dunia di Stadion MetLife dibanderol sekitar 32.970 dolar AS atau setara Rp590,16 juta.
Bahkan di pasar penjualan kembali, harga tiket sempat menembus lebih dari 2 juta dolar AS atau sekitar Rp35,8 miliar.
Belum lagi biaya transportasi, penginapan, dan konsumsi yang ikut meningkat selama turnamen berlangsung.
Salah satu contohnya adalah tarif kereta menuju Stadion MetLife yang sempat naik dari sekitar Rp230 ribu menjadi sekitar Rp2,69 juta untuk perjalanan pulang pergi sebelum akhirnya diturunkan setelah menuai protes.
5. Kota Tuan Rumah tak Selalu Untung
Sebanyak 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.
Meski FIFA memperkirakan turnamen ini memberikan nilai tambah ekonomi global sekitar Rp733,9 triliun, sejumlah pakar menilai manfaat ekonomi jangka panjang bagi kota penyelenggara tidak sebesar yang diperkirakan.
Peneliti Universitas Oxford, Alexander Budzier, menyebut banyak kota justru mengalami penurunan jumlah wisatawan reguler karena masyarakat memilih menghindari kepadatan selama turnamen.
Menurutnya, lapangan kerja yang tercipta sebagian besar hanya bersifat sementara dan didominasi sektor perhotelan serta layanan. "Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan," ujarnya.
6. Industri Hotel tak Sesuai Harapan
Sektor hotel yang sebelumnya diperkirakan menjadi salah satu pemenang ternyata tidak sepenuhnya menikmati lonjakan bisnis.
American Hotel and Lodging Association (AHLA) menyebut tingkat pemesanan kamar jauh di bawah ekspektasi.
Sekitar 80 persen operator hotel di Amerika Serikat mengaku jumlah reservasi tidak mencapai target yang diproyeksikan sebelum turnamen.
Bahkan banyak pelaku industri menyebut Piala Dunia 2026 tidak memberikan dampak ekonomi sebesar yang diharapkan.
(Berbagai Sumber)
