![]() |
| Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si. bersama para mahasiswanya. (Foto: Dok.UPER) |
GEBRAK.ID, JAKARTA – Fenomena gempa ganda (seismic doublet) yang mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat menjadi perhatian para ahli karena tergolong sangat langka. Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 terjadi hanya dalam selang waktu 39 detik, memicu kerusakan besar serta menelan ribuan korban jiwa.
Berdasarkan laporan otoritas setempat hingga 3 Juli 2026, bencana tersebut mengakibatkan sedikitnya 2.645 orang meninggal dunia, lebih dari 10 ribu orang mengalami luka-luka, dan sekitar 15 ribu warga terpaksa mengungsi.
Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., menjelaskan bahwa besarnya dampak bencana di Venezuela dipengaruhi oleh fenomena seismic doublet, yakni dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan dalam rentang waktu sangat singkat.
Menurut Iktri, meski tergolong jarang, fenomena ini dapat memperparah dampak bencana karena masyarakat harus menghadapi dua guncangan kuat secara berurutan sebelum sempat melakukan penyelamatan diri.
"Pada kasus di Venezuela, gempa pertama diduga memicu pergerakan patahan aktif di sekitarnya sehingga terjadi gempa kedua yang kekuatannya lebih besar hanya 39 detik kemudian. Rangkaian guncangan inilah yang dapat memperparah dampak kerusakan dibandingkan jika hanya terjadi satu gempa besar," ujar Iktri, Sabtu (4/7/2026).
Iktri menerangkan, wilayah utara Venezuela berada di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang didominasi oleh sesar geser (strike-slip). Jenis patahan ini menyebabkan dua bagian kerak bumi saling bergeser secara mendatar. Pergerakan lempeng yang berlangsung terus-menerus membuat tekanan di sepanjang patahan terus terakumulasi hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
![]() |
| Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si. (Foto: Dok.UPER) |
Iktri mencontohkan rangkaian gempa Mentawai-Bengkulu pada 2007 serta gempa Lombok pada 2018 sebagai bukti bahwa aktivitas tektonik yang saling berkaitan juga pernah terjadi di Indonesia. Saat gempa besar terjadi, perubahan tekanan di dalam kerak bumi dapat memicu pergerakan patahan atau zona subduksi di sekitarnya sehingga memunculkan gempa berikutnya.
"Rangkaian gempa seperti yang terjadi di Venezuela juga berpotensi terjadi pada sejumlah jalur patahan aktif di Indonesia, termasuk Sesar Sumatera dan Palu-Koro. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemetaan wilayah rawan dan pembangunan infrastruktur yang aman hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat," ujar Iktri.
Menurut Iktri, salah satu langkah mitigasi yang sangat penting adalah melakukan pemetaan kerentanan seismik sebagai dasar penyusunan tata ruang dan pembangunan infrastruktur tahan gempa.
![]() |
| Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si. bersama para mahasiswanya. (Foto: Dok.UPER) |
Temuan tersebut menegaskan bahwa informasi mengenai tingkat kerentanan suatu wilayah perlu dijadikan dasar dalam penyusunan tata ruang, pembangunan infrastruktur, hingga penerapan standar bangunan tahan gempa agar risiko kerusakan akibat bencana dapat ditekan semaksimal mungkin.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan peristiwa di Venezuela menjadi pengingat bahwa investasi pada riset kebencanaan memiliki peran yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik.
"Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang energi dan kebumian, Universitas Pertamina berkomitmen memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung mitigasi bencana di Indonesia. Pembelajaran dari berbagai peristiwa global menjadi dasar untuk menghasilkan rekomendasi berbasis bukti yang dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana," ujar Prof. Djoko menandaskan. (*)


