Generasi Literat Ajak Anak Muda Mengenal Komunitas Bnei Noah Lewat Hang Out Kebinekaan

Founder Generasi Literat, Mila Muzakkar (tengah), memberikan sambutan dalam Hang Out Kebinekaan ke-31 saat mengunjungi Komunitas Bnei Noah di MULA Town Center, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Dok.Generasi Literat)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Tidak semua prasangka lahir dari kebencian. Banyak di antaranya tumbuh karena manusia belum pernah saling bertemu, saling mendengar, dan saling mengenal.

Berangkat dari keyakinan itulah, Generasi Literat kembali menggelar Hang Out Kebinekaan ke-31 dengan mengunjungi Komunitas Bnei Noah di MULA Town Center, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi peserta dari berbagai latar belakang agama, kepercayaan, dan komunitas untuk saling mengenal secara langsung. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Komunitas Eden, Komunitas Kristen Ortodoks Konstantinopel, Pemuda Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), serta Global Peace Foundation (GPF).

Founder Generasi Literat, Mila Muzakkar, mengatakan Hang Out Kebinekaan lahir dari kesadaran bahwa keberagaman Indonesia tidak cukup hanya diakui, tetapi juga perlu dialami melalui perjumpaan.

"Ini kali kedua kami mengunjungi Komunitas Bnei Noah. Setiap bertemu orang-orang baru, selalu ada harapan semakin banyak orang berani membuka diri terhadap perbedaan. Hang Out Kebinekaan hadir agar kita tak berhenti pada asumsi atau cerita dari orang lain, tetapi benar-benar bertemu, berdialog, dan saling memahami," ujar Mila.

Menurut Mila, selama hampir tiga tahun penyelenggaraannya, Hang Out Kebinekaan telah mengunjungi berbagai komunitas yang hidup dan berkembang di Indonesia, namun belum banyak dikenal masyarakat. Bahkan, sebagian di antaranya masih mengalami penolakan hingga diskriminasi.

Baginya, perjumpaan merupakan cara paling sederhana sekaligus paling efektif untuk mematahkan prasangka dan membangun rasa saling menghormati.

Sementara itu, Founder Komunitas Bnei Noah, Moreh Leo Yuwono, S.Kom., M.A. in Noahide Theology, menjelaskan bahwa komunitasnya mempelajari Taurat dalam kerangka Tujuh Hukum Nuh (Seven Noahide Laws), yang diyakini sebagai pedoman etika universal bagi seluruh umat manusia.

Moreh Leo mengatakan, Komunitas Bnei Noah di Indonesia telah tersebar di berbagai wilayah, seperti Sumatra, Jawa, Bali, Ambon, Maluku Utara, hingga Papua, meski jumlah anggotanya masih relatif sedikit.

Moreh Leo menegaskan bahwa salah satu nilai utama yang terus dijaga komunitasnya adalah berbuat baik kepada siapa pun tanpa membedakan suku, ras, warna kulit, maupun latar belakang.

"Ketika hidup dibangun di atas prasangka, kita akan mudah menghakimi orang lain. Karena itu, salah satu hal yang penting adalah belajar melihat sesama sebagai manusia yang sama-sama diciptakan Tuhan," jelas Moreh Leo.

Generasi Literat kembali menggelar Hang Out Kebinekaan ke-31 dengan mengunjungi Komunitas Bnei Noah di MULA Town Center, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Dok.Generasi Literat)

Selama lebih dari dua jam, peserta mengikuti dialog yang membahas sejarah Bnei Noah, pandangan mereka mengenai Taurat, Tujuh Hukum Nuh, etika kehidupan, hingga hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Berbagai pertanyaan mengenai ibadah, lingkungan hidup, hukum, hingga relasi Bnei Noah dengan tradisi Yahudi dijawab secara terbuka dalam suasana hangat, akrab, dan penuh rasa hormat.

Selain berdialog, peserta juga diajak mengenal alfabet Ibrani (Alef Bet) melalui sesi praktik menulis huruf Ibrani sederhana sebagai bagian dari pengenalan budaya dan tradisi yang berkembang di komunitas tersebut.

Bagi banyak peserta, pengalaman paling berkesan bukan hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga kesempatan untuk bertemu langsung dengan komunitas yang selama ini jarang mereka kenal.

Salah seorang peserta, Hakim, mahasiswa Universitas Indonesia (UI), mengaku memperoleh perspektif baru mengenai nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi agama-agama Abrahamik.

"Saya melihat bahwa agama-agama Abrahamik memiliki nilai dasar yang sama, yaitu mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Penjelasan yang disampaikan memberikan wawasan baru mengenai Bnei Noah sekaligus mengingatkan pentingnya membangun perdamaian dan mengurangi prasangka," kata Hakim.

Hal senada disampaikan Kornelia, perwakilan Persekutuan Gereja Indonesia, yang mengaku rela datang dari Bogor untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Kornelia, dialog yang berlangsung memberinya pemahaman baru mengenai bahasa Ibrani dan Taurat, sekaligus menumbuhkan optimisme bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki ruang untuk saling belajar dan menghargai perbedaan.

Menutup kegiatan, Moreh Leo mengapresiasi antusiasme para peserta, terutama generasi muda, yang dinilainya menunjukkan keterbukaan dalam membangun dialog lintas komunitas.

"Suasana kegiatan ini sangat positif di kalangan generasi muda, penuh keterbukaan dan saling menghargai dalam semangat kebinekaan. Teruslah merawat ruang-ruang perjumpaan yang positif seperti ini dalam rangka merajut tali kebinekaan dalam bangsa kita," pesan Moreh Leo.

Melalui Hang Out Kebinekaan, Generasi Literat meyakini bahwa keberagaman bukanlah ancaman yang harus dijauhi, melainkan kekayaan bangsa yang perlu dikenali dan dirawat bersama. 

Ketika orang-orang dari latar belakang yang berbeda bersedia duduk bersama, saling mendengarkan, dan memahami pengalaman satu sama lain, prasangka perlahan berubah menjadi penghormatan, sementara perbedaan menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan Indonesia.

(Penulis: Catherine Natalia, Relawan Generasi Literat)