Editor: A. Rayyan K
Bintang muda Timnas Spanyol, Lamine Yamal (kanan), dengan sang nenek, Fatima Romani. (Foto: Instagram)
GEBRAK.ID, JAKARTA -- Di balik gemilangnya penampilan Lamine Yamal bersama Timnas Spanyol pada Piala Dunia 2026, tersimpan kisah perjuangan seorang nenek yang menjadi sumber inspirasi terbesar dalam hidupnya. Sosok itu adalah Fatima Romani, perempuan asal Maroko yang rela mempertaruhkan segalanya demi masa depan keluarganya.
Nama Yamal kembali menjadi sorotan setelah membantu Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026. Namun, kesuksesan pemain muda Barcelona itu tidak lepas dari pengorbanan sang nenek yang bertahun-tahun lalu berjuang seorang diri demi membawa keluarganya ke Spanyol.
Dalam sebuah wawancara yang kembali ramai diperbincangkan, Yamal mengenang perjuangan Fatima Romani yang hijrah dari Maroko ke Spanyol dengan kondisi serba terbatas.
Menurut laporan Times of India, Senin (20/7/2026), Fatima berangkat dari Maroko tanpa tiket maupun dokumen resmi. Ia sempat singgah di Algeciras dan Granada sebelum akhirnya menetap di Mataró, Catalonia.
Di kota tersebut, Fatima bekerja tanpa kenal lelah hingga tiga shift setiap hari demi mengumpulkan uang agar bisa membawa anak-anaknya menyusul ke Spanyol.
"Nenek saya menyelinap naik bus dari Maroko dan berhasil ke Mataró. Dia mulai bekerja tiga shift agar ayah saya bisa datang karena ayah saya tinggal di Maroko. Ketika nenek saya mendapatkan uang, dia membayar seorang wanita untuk membawa ayah saya dan saudara perempuannya yang saat itu berusia tiga tahun," ujar Yamal dalam podcast bersama jurnalis José Ramón de la Morena pada 2025.
Kisah perjuangan tersebut menjadi fondasi yang membentuk karakter Yamal hingga tumbuh sebagai salah satu talenta terbaik sepak bola dunia.
Selain dikenal sebagai sosok pekerja keras, Fatima juga berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada cucunya. Dalam wawancara dengan televisi Maroko Le7tv, Fatima menegaskan bahwa Yamal dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muslim.
"Kami membesarkannya, dan alhamdulillah Allah menolong kami dalam mendidiknya," ujar Fatima.
Ia mengaku selalu mengingatkan sang cucu agar memanjatkan doa sebelum bertanding.
"Aku selalu berkata kepada dia sebelum pertandingan, ucapkan 'Ya Rabb, berilah aku taufik (keberhasilan) dan tolonglah aku menghadapi kaum kafir'," kata Fatima.
Nasihat itu tampaknya terus dipegang Yamal. Dalam berbagai pertandingan, pemain berusia 19 tahun tersebut kerap terlihat berdoa sebelum memasuki lapangan maupun setelah pertandingan berakhir.
Momen serupa kembali terlihat ketika Spanyol menundukkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Usai memastikan gelar juara dunia, Yamal tampak memanjatkan doa di tengah lapangan sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan timnya.
Perjalanan Fatima Romani menunjukkan bahwa kesuksesan seorang atlet tidak hanya dibangun lewat bakat dan kerja keras di lapangan, tetapi juga lahir dari pengorbanan keluarga yang menjadi fondasi kehidupan sejak awal.
(Berbagai Sumber)