Kisah Kepahlawanan Tokoh PETA Shodanco Soeprijadi Segera Diangkat ke Layar Lebar

kemenbud-film-peta

Pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan) dengan jajaran Yayasan PETA Pusat
di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/2026). (Foto: Humas Kemenbud)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Kementerian Kebudayaan RI mulai menyiapkan langkah besar untuk menghidupkan kembali kisah perjuangan bangsa melalui layar lebar. Salah satu proyek yang tengah dimatangkan adalah produksi film kepahlawanan tentang Shodanco Soeprijadi dan Pembela Tanah Air (PETA), hasil kolaborasi dengan Yayasan PETA sebagai upaya memperkuat literasi sejarah sekaligus diplomasi budaya Indonesia. 

Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan jajaran Yayasan PETA Pusat di Kantor Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Senayan, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Dalam dialog itu, kedua pihak membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari pelestarian memori kolektif bangsa, penguatan literasi sejarah, hingga pengembangan narasi perjuangan Indonesia melalui media film. 

Fadli Zon menilai kisah perjuangan PETA memiliki nilai sejarah yang sangat penting dan layak diperkenalkan kepada generasi muda melalui karya audiovisual yang menarik sekaligus akurat secara historis.

Fadli Zon menjelaskan, Kementerian Kebudayaan saat ini memang tengah mempersiapkan sejumlah film bertema perjuangan mempertahankan kemerdekaan sesuai arahan Presiden.

“Tema besar yang kita batasi memang mengenai perang mempertahankan kemerdekaan. Jadi kita tidak menggunakan istilah revolusi, melainkan perang mempertahankan kemerdekaan, karena historiografi kita memang paling banyak berada pada periode 1945–1950,” ujar Fadli Zon. 

Film Sejarah Harus Akurat

Menurut Fadli Zon, produksi film sejarah tidak cukup hanya menghadirkan cerita yang menarik, tetapi juga harus dibangun di atas riset dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan mengajak Yayasan PETA terlibat sejak awal dalam penyusunan naskah agar setiap adegan dan alur cerita tetap sesuai dengan data sejarah.

Saat ini, kata Fadli Zon, pemerintah telah memiliki rancangan skenario awal yang masih terbuka untuk dikembangkan bersama para sejarawan dan penulis naskah.

Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan film yang tidak hanya berkualitas secara artistik, tetapi juga memiliki nilai edukasi tinggi bagi masyarakat. 

Ketua Yayasan PETA, Tinton Suprapto, mengusulkan agar sejarah PETA pada periode 1943–1945 diangkat dalam sebuah film tersendiri. Sementara kisah Shodanco Soeprijadi dinilai lebih tepat dikembangkan menjadi film layar panjang.

Tinton mengungkapkan bahwa naskah film telah disiapkan Yayasan PETA bersama penulis Jujur Prananto dan kini memasuki tahap penentuan sutradara, pembentukan tim kreatif, hingga penyusunan kebutuhan anggaran serta skema investasi. 

Tak Hanya Film, Perjuangkan Gelar Perintis

Selain membahas produksi film, pertemuan tersebut juga membicarakan proses pengusulan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan bagi para perintis PETA.

Yayasan PETA telah mengajukan 20 nama kepada pemerintah. Sebanyak 16 nama di antaranya telah memperoleh persetujuan di tingkat Kementerian Sosial dan kini menunggu proses verifikasi lanjutan di Sekretariat Militer Presiden serta Dewan Gelar. 

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan bersama Yayasan PETA akan memfinalisasi pengembangan film Shodanco Soeprijadi, menyelaraskan naskah dengan sumber sejarah, sekaligus memperkuat kurasi sejarah dalam setiap produksi budaya bertema perjuangan bangsa. 

Menutup pertemuan, Fadli Zon menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan sejarah perjuangan PETA tetap hidup di tengah masyarakat.

Fadli Zon berharap film tentang Shodanco Soeprijadi dan PETA dapat menjadi media pembelajaran yang menarik bagi generasi muda sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. 

(Sumber: Kementerian Kebudayaan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *