Editor: A. Rayyan K
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia. (Foto: Anadolu)
GEBRAK.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengundang perhatian dunia. Dalam konferensi pers di Ankara, Rabu (9/7/2026), Trump mengeklaim dirinya menjadi target pembunuhan nomor satu Iran dan mengaku menghadapi risiko kematian yang jauh lebih besar dibandingkan profesi lain yang dikenal berbahaya.
Menurut Trump, menjadi presiden merupakan pekerjaan dengan tingkat ancaman keselamatan yang sangat tinggi. Bahkan, ia menyebut peluang seorang presiden menjadi korban pembunuhan mencapai 5,2 persen.
"Kehidupan presiden sangat berbahaya dengan risiko 5,2 persen. Bandingkan dengan pembalap mobil atau penunggang banteng yang risikonya hanya sepersepuluh dari 1 persen. Angka 5,2 persen bagi presiden berarti Anda terancam tidak selamat," ujar Trump.
Pernyataan itu disampaikan saat Trump menyinggung ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menegaskan bahwa dirinya kini menjadi sasaran utama Teheran.
"Mereka memiliki para pemimpin, namun mereka telah tiada. Mereka memiliki barisan pemimpin lain. Mereka pun bisa saja tiada. Siapa yang tahu? Saya juga bisa saja tiada, karena saya adalah target nomor satu mereka," kata Trump.
Meski mengaku menjadi incaran, Trump menegaskan dirinya tidak gentar menghadapi ancaman pembunuhan.
"Saya tidak peduli jika menjadi target pembunuhan. Saya hanya menjalankan tugas saya," ucapnya.
Trump kemudian mengungkap bahwa dirinya telah beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan.
Insiden pertama terjadi saat kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024. Dalam peristiwa itu, Trump terkena tembakan di bagian telinga, namun berhasil selamat.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada September 2024, aparat keamanan menggagalkan dugaan upaya penyerangan terhadap Trump di klub golf miliknya di Florida.
Ancaman kembali muncul pada April 2026 ketika terjadi penembakan dalam acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang dihadiri Trump. Tersangka kemudian didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat.
Tak berhenti di situ, pada Juni 2026, Biro Investigasi Federal (FBI) mengungkap adanya rencana penyerangan terhadap acara UFC di Gedung Putih yang dijadwalkan dihadiri Trump. Departemen Kehakiman AS kemudian menetapkan kasus tersebut sebagai upaya pembunuhan terbaru terhadap presiden.
Pernyataan Trump kembali memicu sorotan internasional karena disampaikan di tengah hubungan Washington dan Teheran yang masih diwarnai ketegangan. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait klaim Trump yang menyebut dirinya sebagai target pembunuhan nomor satu.
(Sumber: Sputnik)