6 Jurusan Ini Banyak Ditemukan di Kalangan Penganggur S1, Manajemen Teratas

LPEM FEB UI mengungkap enam jurusan yang banyak ditemukan di kalangan penganggur S1, dengan manajemen berada di posisi teratas.

Data terbaru LPEM FEB UI menunjukkan bahwa sejumlah jurusan yang selama ini populer justru cukup banyak ditemukan di antara lulusan S1 yang menganggur.

Data terbaru LPEM FEB UI menunjukkan bahwa sejumlah jurusan yang selama ini populer justru cukup banyak ditemukan di antara lulusan S1 yang menganggur. (Foto ilustrasi: Gebrak.id/AI)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Memilih jurusan kuliah seringkali berkaitan dengan bayangan tentang masa depan pekerjaan. Namun, data terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa sejumlah jurusan yang selama ini populer justru cukup banyak ditemukan di antara lulusan S1 yang menganggur.

Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, Juli 2026, berjudul “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?”. Peneliti Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 sebagai dasar analisis.

Dari bidang studi terakhir para penganggur dengan pendidikan minimal S1, manajemen menempati posisi teratas. Bidang studi ini menyumbang sekitar 10,3 persen dari kelompok penganggur sarjana yang dianalisis.

Berikut enam bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara penganggur lulusan S1:

  1. Manajemen: 10,3 persen
  2. Hukum: 9,0 persen
  3. Ekonomi: 8,7 persen
  4. Pendidikan: 7,1 persen
  5. Akuntansi: 5,1 persen
  6. Ilmu Komputer/Informatika: 4,6 persen

Lima bidang studi teratas secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari penganggur lulusan sarjana.

Manajemen berada di posisi pertama. LPEM FEB UI menjelaskan, bidang ini memiliki cakupan yang luas karena lulusannya dapat masuk ke berbagai area seperti pengelolaan organisasi, pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, aset, hingga industri.

Namun, luasnya pilihan bidang pekerjaan tidak otomatis membuat lulusan lebih mudah masuk ke pasar kerja. Pada tahap awal karier, lulusan manajemen dapat bersaing dengan lulusan dari bidang bisnis maupun disiplin lain seperti hukum, ekonomi, dan komunikasi.

Hal serupa juga terlihat pada bidang pendidikan. Rumpun ini mencakup beragam program studi, mulai dari pendidikan guru, bahasa, sains, ekonomi, hingga pendidikan vokasi.

Peluang lulusan pendidikan untuk masuk ke dunia kerja antara lain dipengaruhi pola rekrutmen guru, kebutuhan sekolah di setiap daerah, ketersediaan formasi, serta persyaratan profesi.

Temuan lain muncul dari bidang ilmu komputer atau informatika. Sebanyak 4,6 persen penganggur lulusan S1 berasal dari bidang tersebut.

Padahal, bidang teknologi selama ini kerap dianggap memiliki prospek kerja yang kuat. LPEM FEB UI mengingatkan bahwa kebutuhan industri dapat berubah cepat. Perbedaan mutu pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta penguasaan teknologi yang dibutuhkan perusahaan juga ikut menentukan peluang lulusan.

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan dari data tersebut. Angka 10,3 persen pada manajemen, misalnya, bukan berarti 10,3 persen lulusan manajemen menganggur.

Data itu menunjukkan proporsi bidang studi manajemen di antara kelompok penganggur yang memiliki pendidikan minimal S1. Untuk mengetahui tingkat risiko pengangguran sebuah jurusan, peneliti harus membandingkan jumlah penganggurnya dengan total angkatan kerja dari bidang studi tersebut.

Karena itu, temuan LPEM FEB UI tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, atau akuntansi merupakan jurusan dengan prospek kerja paling buruk.

Tak Ada Jurusan Tertentu yang Jamin Masa Depan

Guru Besar Ilmu Susastra UI Manneke Budiman menilai temuan tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih kritis terhadap anggapan mengenai jurusan tertentu yang dianggap otomatis menjamin masa depan.

“Saya pikir karena akibat salah kaprah. Masyarakat itu masih mengira kalau orang belajar manajemen, ilmu hukum, itu sudah jaminan kaya,” ujar Manneke dilansir dari detikedu, Selasa (11/8/2026).

Ia mencontohkan anggapan bahwa profesi tertentu, seperti pengacara, selalu menjanjikan penghasilan tinggi. Padahal, kondisi pasar kerja tidak selalu sesuai dengan gambaran tersebut.

“Dan profesi-profesi spesifik seperti hakim, jaksa itu tergantung pada formasi ASN,” katanya.

Menurut Manneke, tidak ada bidang ilmu yang sepenuhnya kebal terhadap perubahan ekonomi. Kondisi perekonomian dapat memengaruhi peluang kerja di berbagai sektor dan bidang keahlian.

“Tidak ada ilmu yang kebal terhadap kondisi ekonomi yang tidak pasti, yang naik turun atau yang cenderung menuju ke arah krisis,” tegas Manneke.

LPEM FEB UI pun menekankan bahwa temuan tersebut bukan alasan untuk menghentikan perluasan akses pendidikan tinggi. Justru, perluasan pendidikan perlu berjalan lebih terarah agar lulusan yang dihasilkan memiliki hubungan yang kuat dengan kebutuhan dunia kerja.

Hal itu menjadi semakin relevan di tengah rencana pemerintah membangun Universitas Republik Indonesia (URI). Menurut LPEM FEB UI, universitas baru membutuhkan kejelasan mengenai bidang studi yang benar-benar dibutuhkan, standar mutu yang kuat, pemerataan akses, serta keterkaitan dengan strategi pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Tanpa perencanaan tersebut, perluasan pendidikan tinggi berisiko hanya menambah pasokan lulusan tanpa menyelesaikan persoalan transisi dari bangku kuliah menuju dunia kerja.

LPEM FEB UI menilai penguatan mutu perguruan tinggi yang sudah ada, hubungan pendidikan tinggi dengan dunia kerja, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi memiliki posisi yang sama pentingnya dengan pembangunan universitas baru.

Dengan demikian, data pengangguran lulusan S1 tersebut bukan sekadar menunjukkan jurusan yang banyak muncul dalam kelompok penganggur. Temuan itu juga menjadi pengingat bahwa pilihan jurusan, kualitas pendidikan, keterampilan, kebutuhan industri, dan kondisi ekonomi perlu berjalan beriringan agar pendidikan tinggi benar-benar membuka jalan menuju dunia kerja.

(Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *