Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 750 Orang, 3.044 Hilang
Bencana yang terjadi sejak Rabu (26/8/2026) ini menjadi salah satu bencana lintas batas terparah dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: www.bloombergtechnoz.com)
KATHMANDU, GEBRAK.ID — Banjir bandang dan longsor akibat runtuhnya gletser di kawasan Himalaya telah menewaskan sedikitnya 750 orang dan menyebabkan 3.044 orang dinyatakan hilang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China. Bencana yang terjadi sejak Rabu (26/8/2026) ini menjadi salah satu bencana lintas batas terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan Reuters per Minggu (30/08/2026), di Nepal sendiri jumlah korban jiwa mencapai 734 orang, dengan 2.498 orang masih hilang dan 7.514 orang berhasil diselamatkan. Sementara itu, otoritas China melaporkan 16 orang tewas di Gyirong County, Tibet, serta 546 orang hilang—termasuk 261 warga negara asing dari 23 negara, di antaranya 104 warga Nepal, 49 warga India, 33 warga Latvia, 18 warga Amerika Serikat, dan 15 warga Inggris.
Kejadian
Bencana mulai terjadi pada Rabu (26/8/2026) dan hingga Minggu (30/8/2026) korban terus bertambah. Kondisi cuaca yang buruk dengan hujan kembali turun pada Minggu menyebabkan ketinggian air Sungai Trishuli meningkat, memaksa warga dan petugas penyelamat mencari tempat yang lebih tinggi.
Titik Lokasi Bencana
Wilayah terdampak meliputi kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, termasuk Gyirong County di Tibet serta sejumlah permukiman dan terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal.
Selain ribuan korban lokal, bencana ini melibatkan banyak warga negara asing. Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak. Pemerintah Nepal menyatakan tidak membutuhkan bantuan asing untuk operasi penyelamatan umum, namun membuka bantuan khusus untuk operasi di dalam terowongan, pengujian DNA, penyimpanan jenazah, dan identifikasi forensik. India dan China telah mengirimkan tenaga ahli untuk membantu proses penyelamatan.
China mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat dan mengalokasikan setidaknya 220 juta yuan (sekitar US$32,7 juta) untuk penanganan darurat, mencakup peralatan penyelamatan, drone, data satelit, dan hidrologi.
Pemicu Bencana
Bencana dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya yang kemudian membawa material batu, es, lumpur, dan puing ke aliran sungai. Banjir bandang dengan cepat menerjang permukiman dan infrastruktur di sepanjang perbatasan Nepal-China. Ratusan orang diyakini masih terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal setelah material banjir menerjang kawasan tersebut.
China mengaitkan bencana tersebut dengan ketidakstabilan gletser akibat perubahan iklim. Selain itu, ancaman belum sepenuhnya berakhir—longsor baru terdeteksi sekitar 2,8 kilometer dari danau yang terbentuk akibat longsoran gletser, membentuk bendungan alami dan genangan air baru yang berpotensi memperbesar risiko banjir susulan.
Reaksi Cepat Otoritas China
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut bencana ini sebagai “bencana lintas batas paling parah” yang
mereka alami dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyatakan operasi penyelamatan sangat sulit dan kompleks. Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung meski terkendala cuaca buruk dan risiko banjir susulan yang mengancam. (*)
Editor: Zaky Al Hamzah
(Sumber: www.bloombergtechnoz.com)
