Jin Saja Terpesona

m-rubiul-yatim-podium
Muhamad Rubiul Yatim saat sedang berada di mimbar. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Oleh Muhamad Rubiul Yatim *)

Tahukah kita ada makhluk yang baru sekali mendengar Al-Quran lantas langsung beriman? Ironisnya, itu bukanlah kita manusia, melainkan jin. 

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata jin dalam suatu perbincangan? Iya, makhluk gaib atau makhluk halus, seram, mengganggu manusia, setan gentayangan atau hantu dan istilah menakutkan lainnya.

Jin yang sering berkonotasi negatif bagi kehidupan manusia, ternyata justru diabadikan oleh Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Quran. Bahkan makhluk jin ini ditempatkan menjadi nama surat di dalam Al Quran yaitu surat Al Jin (surat ke 72).

Apakah peristiwa yang monumental itu hingga Allah SWT sengaja memutar kembali kejadiannya kepada kita manusia agar dapat menjadi perhatian besar dan pelajaran penting. Kisah itu Allah SWT firmankan di dalam ayat 1 sampai ke 3 di dalam surat al Jin, yang bunyi firmanNya sebagai berikut:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا
وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Yang Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.”

Di dalam tiga ayat ini, Allah SWT menceritakan tentang peristiwa sekelompok jin yang sedang mendengarkan bacaan ayat suci Al-Quran nabi Muhammad SAW. Namun tidak lama berselang mereka pun menjadi terkesima dan kagum akan apa yang mereka dengar hingga merubah cara pandang dan keyakinan mereka.

Sekelompok jin itu merasa takjub hingga terpesona tidak hanya karena keindahan bunyi ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pada pesan dan petunjuk yang ada di dalamnya. Hati mereka tersentuh dan tergugah karena semakin lama mereka mendengarkan maka semakin terbuka hati mereka terhadap petunjuk yang ada di dalam Al-Quran. Kekaguman dan ketakjuban yang menghantarkan pada keyakinan dan keimanan yang mendalam.

Para jin ini setelah memahami berbagai pesan yang mendalam dari Al-Quran lantas menyadari betul bahwa Al-Quran yang mereka dengarkan itu sesungguhnya adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada jalan kebenaran yang akan membawa pada keselamatan di dunia dan akhirat. Itu sebabnya mereka tanpa keraguan sedikitpun lantas menyatakan beriman kepada Al-Quran yang menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW dan tentunya kepada Allah Azza wa Jalla yang telah menurunkan Al-Quran tersebut.

Rahasia utama para jin tersebut tergugah dan beriman kepada Allah SWT adalah bukan sekedar karena mukjizat keindahan Al-Quran tetapi juga karena Al-Quran adalah Kalamullah (wahyu dari Allah SWT) yang dapat menembus hati, meluruskan akal dan mengembalikan sekaligus membangun fitrah yang telah Allah tanamkan dalam setiap makhluk yang diberi kemampuan memilih . Itulah mengapa mereka menjadi tercerahkan dan segera mengubah haluan keimanan yang tadinya dalam kesesatan menjadi dalam kebenaran.

Konsekuensi logis dari keberimanan yang dilakukan secara totalitas itu adalah para jin ini kemudian meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT (kemusyrikan) dan hanya mengesakan Allah Azza wa Jalla (tauhid) dengan sepenuh hati. Tidak ada ruang bagi penyembahan terhadap selain Allah SWT karena memang yang sebenar-benarnya Tuhan adalah hanya Allah Azza wa Jalla.

Segala pernak pernik atas persepsi yang berkembang terkait berbagai keyakinan di berbagai belahan dunia atas pernyataan bahwa Allah SWT katanya memiliki istri (pasangan) dan keturunan (anak), itu kemudian semuanya ditolak dan dibuang jauh-jauh oleh para jin tersebut. 

Mengapa itu dilakukan? Oleh karena melalui wahyu Al-Quran yang mereka pahami dengan terang-benderang, para jin yang telah mendapat hidayah tersebut meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Tinggi dan Maha Suci dari segala pernyataan dan persepsi yang tidak benar dan tidak patut tersebut.

Totalitas keyakinan di atas ilmu yang kokoh, telah mendorong para jin tersebut mencelupkan dirinya dalam kepasrahan penuh yang tidak bersyarat untuk hidup bersama dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. 

Bahkan mereka tidak merasa cukup untuk berhenti pada dirinya sendiri, kebahagiaan akan kenikmatan dan kelezatan iman ini kemudian mendorong para jin tersebut secara aktif dan giat menyampaikan ajaran Islam yang mulia ini untuk disebarkan di masyarakat dan komunitas tempat mereka tinggal tanpa terkecuali.

Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Quran surat Al Ahqof (46) ayat 29 – 31, yang berbunyi:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. 

Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.”

Bagaimana dengan kita wahai saudaraku? Mengapa kita tidak pernah merasa takjub dan terpesona dengan Al-Quran yang mulia ini, sehingga tidak menyikapi Al-Quran dengan sebagaimana mestinya? Bahkan banyak dari kita yang hingga hari ini belum bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar secara hukum dan tajwidnya.

Mengapa Al-Quran yang kita baca dari kecil hingga saat ini ternyata tidak juga kunjung membawa kita pada pemahaman yang diinginkan oleh Al-Quran? Kita sangat bangga dan jemawa hidup di atas dunia ini dengan menggunakan berbagai sistem dan aliran yang dibuat oleh pikiran manusia sambil mencampakkan isi Al-Quran ke tong sampah dan tanpa mau hidup totalitas bersama dengan nilai-nilai kebenaran yang ada di dalamnya.

Jin saja yang tidak pernah belajar di pesantren dan mengikuti kajian di berbagai majelis ilmu selama bertahun-tahun namun ketika baru mendengar sekali dapat membuka hatinya dan merasa takjub serta terpesona dengan Al-Quran. 

Sementara kita yang telah puluhan tahun hidup bersama Al-Quran, membaca dan mendengarnya hampir setiap hari dengan mushaf yang bagus di rumah, serta melalui bulan Ramadhan setiap tahun ternyata tidak kunjung takjub dan terpesona seperti halnya jin tersebut.

Tampaknya persoalannya bukan pada Al-Qurannya, tetapi memang pada hati kita yang belum siap menerima berbagai petunjuk dan keindahan Al-Quran karena telah dipenuhi oleh pernak-pernik dunia dan kemaksiatan yang sering kita kerjakan. 

Saudaraku, kapankah terakhir kali kita merasa betul-betul terpesona dengan Al-Quran? 

Jakarta, 3 Agustus 2026

*) Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Universitas Pancasila dan Anggota Korps Mubaligh Khairu Ummah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *