Karhutla Bromo Meluas hingga 899 Hektare, Water Bombing Dikerahkan di Pasuruan-Probolinggo
Petugas gabungan terus berupaya memadamkan api di kawasan TNBTS. Operasi water bombing difokuskan di Dingklik dan P30, tetapi terkendala kondisi cuaca berkabut dan angin.
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID, PASURUAN, JAWA TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, terus meluas. Hingga Selasa (11/8/2026), luas wilayah yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 899 hektare.
Petugas gabungan masih melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kobaran api yang menyebar di kawasan pegunungan tersebut. Salah satu metode yang digunakan adalah operasi water bombing menggunakan helikopter.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan operasi pemadaman dari udara kembali dilakukan pada Selasa.
Menurut Gatot, penyiraman air dari udara difokuskan di kawasan Dingklik, Kabupaten Pasuruan, serta P30, Kabupaten Probolinggo.
“Water bombing sedang dilaksanakan di Dingklik Pasuruan dan P30 Probolinggo,” kata Gatot saat dikonfirmasi, Selasa (11/8/2026).
Gatot mengatakan kondisi cuaca di kawasan Bromo saat operasi berlangsung masih berkabut. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan petugas dalam menjalankan pemadaman melalui udara.
“Luas wilayah terdampak 899 hektare akibat kebakaran dari awal hingga tadi malam,” ujarnya.
Kebakaran Terus Meluas
Meluasnya area terdampak membuat penanganan karhutla Bromo menjadi perhatian serius. Medan kawasan TNBTS yang berada di wilayah pegunungan juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Selain pemadaman melalui udara, penanganan juga dilakukan oleh personel gabungan melalui jalur darat untuk mengendalikan titik-titik api yang masih aktif serta mencegah api merambat ke wilayah lainnya. Operasi water bombing menjadi salah satu strategi penting karena terdapat sejumlah lokasi yang sulit dijangkau secara langsung oleh petugas dari darat.
Berdasarkan laporan terbaru, wilayah operasi udara mencakup kawasan Dingklik di Pasuruan dan P30 di Probolinggo. Kedua lokasi tersebut merupakan bagian dari kawasan sekitar TNBTS yang memiliki medan perbukitan dan pegunungan.
Cuaca Jadi Tantangan
Upaya pemadaman dari udara tidak sepenuhnya mudah dilakukan. Kondisi cuaca berkabut dan angin di kawasan Bromo dapat memengaruhi efektivitas operasi helikopter.
Karena itu, petugas gabungan terus menyesuaikan strategi pemadaman berdasarkan kondisi di lapangan. Pemantauan dilakukan untuk menentukan titik-titik yang menjadi prioritas penyiraman air dari udara.
Karhutla di kawasan Bromo juga terjadi di tengah periode musim kemarau. Kondisi kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan meningkatkan risiko api meluas apabila tidak segera dikendalikan.
Sebelumnya, sejumlah laporan mengenai kebakaran di kawasan TNBTS juga menyebut operasi pemadaman menghadapi tantangan berupa kondisi medan dan cuaca.
Upaya penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, petugas taman nasional, serta personel gabungan.
Hingga Selasa (11/8/2026), luas wilayah terdampak yang tercatat mencapai 899 hektare. Petugas masih berupaya melakukan pemadaman dan mencegah meluasnya kebakaran ke kawasan lainnya.
Perkembangan luas area terbakar dan kondisi api masih terus dipantau oleh tim gabungan di lapangan.
( berbagai sumber)
