Strong Institution atau Ketergantungan pada Leader?

Swary Utami Dewi

Swary Utami Dewi. (Foto: Dok.Pribadi)

Oleh Swary Utami Dewi *)

Tulisan Denny JA tentang social capital, sejarah Satupena, strong leader, dan cita-cita membangun organisasi yang mampu bertahan seratus tahun sesungguhnya mengandung sebuah paradoks besar.

Di satu sisi, ia berbicara tentang pentingnya membangun strong institution: organisasi yang tidak bergantung pada individu, dengan dana, program, database, arsip, keputusan, dan reputasi yang semuanya menjadi milik institusi. Di sini saya sepakat.

Namun, jika gagasan itu dibaca berdampingan dengan dinamika Satupena sampai hari ini, muncul pertanyaan yang sulit dihindari: apakah proses yang sedang berlangsung benar-benar menuju strong institution, atau justru semakin memperkuat ketergantungan kepada strong leader?

Menurut saya, ukuran strong leader bukanlah seberapa besar kemampuan seorang pemimpin mengendalikan organisasi, menyediakan dana, mengambil keputusan, atau memastikan program berjalan. Ukuran yang lebih penting justru sebaliknya: seberapa jauh ia mampu membangun sistem yang pada akhirnya tidak lagi bergantung kepadanya.

Di sinilah paradoks itu menjadi jelas. Denny menulis bahwa kekuatan personal harus digunakan untuk membangun institusi, bukan mempertahankan kekuasaan. Tetapi pembangunan institusi semestinya berjalan bersamaan dengan pembatasan kekuasaan, transparansi, checks and balances, partisipasi bermakna, dan mekanisme koreksi yang nyata.

Jika mekanisme justru melemah, ruang dialog menyempit, keputusan semakin terpusat, dan pihak yang menjalankan fungsi pengawasan akhirnya memilih mengundurkan diri bersama, sulit mengatakan bahwa proses tersebut sedang bergerak menuju institusi yang semakin kuat.

Pengunduran diri seluruh Dewan Penasihat Satupena, karena itu, tidak tepat jika hanya dibaca sebagai cerita tentang “orang yang memilih pergi”, sebagaimana istilah yang digunakan Denny. Ini adalah sinyal penting tentang kondisi organisasi.

Bagi seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menempatkan institusi di atas kepentingan personal, peristiwa seperti ini semestinya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Ada persoalan kepercayaan, komunikasi, dan tata kelola yang tidak berhasil diselesaikan melalui mekanisme internal. Dan persoalan ini menjadi semakin serius karena Dewan Penasihat bukan sekadar kumpulan anggota biasa. Ia merupakan bagian dari struktur organisasi yang, antara lain, seharusnya berfungsi sebagai salah satu mekanisme keseimbangan dan pengawasan.

Di titik inilah pembicaraan tentang social capital menjadi penting. Modal sosial tidak cukup dimaknai sebagai jaringan, persahabatan, banyaknya kegiatan, atau kemampuan mengumpulkan orang. Inti modal sosial adalah kepercayaan.

Kepercayaan tidak lahir hanya karena orang pernah bekerja bersama atau memiliki hubungan baik. Ia tumbuh ketika orang merasa didengar, dihargai, memiliki ruang untuk berbeda, dan yakin bahwa aturan berlaku secara adil.

Dalam organisasi, konflik sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Organisasi yang hidup pasti memiliki perbedaan, dinamika, bahkan konflik.

Yang membedakan organisasi yang sehat dan yang tidak adalah kemampuannya mengelola perbedaan tersebut melalui dialog dan mekanisme yang dipercaya. Perlu jujur untuk menjawab apakah Satupena masih betul-betul memiliki semua ini? Ataukah sesungguhnya sang leader hanya sedang membangun kultus untuk dirinya?

Jakarta, 13 Agustus 2026

*) Penulis, mantan aktivis Satupena.