12,5 Triliun Ton Es Kutub Mencair dalam 47 Tahun, Permukaan Laut Global Naik 3,2 Sentimeter

1790146405419

Studi terbaru mengungkap laju kehilangan es Greenland dan Antarktika yang mengkhawatirkan, dengan 84 persen disebabkan oleh air laut yang menghangat dari bawah. (Foto: ist)

GEBRAK.ID, JAKARTA – Sebuah studi ilmiah berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Data mengungkap temuan mengejutkan: sejak 1979, lapisan es Greenland dan Antarktika telah kehilangan sekitar 12,5 triliun ton es. Jumlah ini setara dengan 78 kali berat Gunung Everest dan telah mendorong kenaikan permukaan air laut global hingga 3,2 sentimeter.

Penelitian yang melibatkan data dari 27 misi satelit selama lebih dari empat dekade ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana pemanasan global menggerus lapisan es bumi dengan laju yang terus meningkat dari dekade ke dekade.

Percepatan Kehilangan Es yang Mengkhawatirkan

Data yang dihimpun oleh tim Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE) menunjukkan bahwa lapisan es relatif stabil sepanjang dekade 1970-an, 1980-an, hingga awal 1990-an. Namun, setelah periode tersebut, kehilangan es meningkat pesat dengan percepatan tertinggi tercatat pada dekade 2010-an.

Di Greenland, kehilangan massa es tahunan melonjak dari sekitar 600 miliar ton per tahun pada dekade 1980-an menjadi sekitar 2.640 miliar ton per tahun pada dekade 2010-an. Sementara itu, Antarktika menunjukkan tren serupa, dengan kehilangan tahunan meningkat dari 480 miliar ton menjadi 2.020 miliar ton pada periode yang sama. “Ada tren yang jelas bahwa lapisan es kehilangan lebih banyak massa, dan peningkatannya terus terjadi dari dekade ke dekade,” ujar Ines Otosaka, ilmuwan es dari Northumbria University, seperti dikutip Euronews.

Air Laut yang Menghangat, Biang Keladi Utama

Temuan paling signifikan dari studi ini adalah bahwa sekitar 84 persen kehilangan es disebabkan oleh peningkatan pelepasan es ke lautan, bukan dari pencairan permukaan akibat suhu udara yang lebih hangat. Air laut yang lebih hangat mengikis es dari bagian bawah dan sekitar pinggiran gletser, yang kemudian mempercepat alirannya menuju laut.

Hanya sekitar 16 persen kehilangan es yang dipicu oleh proses di permukaan, seperti pencairan akibat suhu udara yang meningkat. Fenomena ini terlihat jelas pada Gletser Jakobshavn di Greenland yang kini menyusut hingga 50 meter per hari. Para peneliti menemukan bahwa gletser yang mengalir ke laut mengalami percepatan ketika bagian bawahnya terkikis oleh air laut yang lebih hangat.

Dampak Nyata bagi Jutaan Penduduk Pesisir

Kenaikan permukaan laut sebesar 3,2 sentimeter akibat pencairan es ini memiliki implikasi serius bagi populasi pesisir dunia. Para peneliti memperkirakan bahwa untuk setiap kenaikan permukaan air laut sebesar satu sentimeter, sekitar dua hingga tiga juta orang tambahan berisiko menghadapi banjir pesisir tahunan. Bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang sangat panjang, ancaman ini menjadi semakin nyata.

Penelitian dari World Bank menunjukkan bahwa sekitar 41,6 juta orang Indonesia tinggal dalam jarak sepuluh meter dari permukaan laut rata-rata, menjadikan mereka sangat rentan terhadap perubahan permukaan air laut. Kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Jakarta, Semarang, dan Surabaya, termasuk yang paling terdampak. Selain kenaikan permukaan laut, penurunan tanah yang signifikan di kawasan-kawasan ini memperparah risiko banjir dan erosi pesisir.

Pelambatan Sementara yang Menyesatkan

Studi ini mencatat bahwa laju penyusutan es sempat melambat antara tahun 2020 dan 2023. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hal itu hanya mencerminkan pola cuaca jangka pendek, bukan perubahan tren jangka panjang. Pelambatan tersebut disebabkan oleh curah salju yang tidak biasa di Antarktika Timur dan musim panas yang lebih sejuk di Greenland.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa percepatan kehilangan massa es telah kembali berlanjut. Para peneliti juga memperingatkan bahwa respons lapisan es terhadap perubahan iklim membutuhkan waktu hingga berdekade-dekade. Ini berarti kehilangan es akan terus berlangsung meskipun pemanasan global berhasil dikendalikan di masa depan.

Masa Depan yang Menunggu

Temuan ini menjadi peringatan keras tentang konsekuensi jangka panjang dari pemanasan global. Dengan lapisan es yang terus kehilangan massa, kenaikan permukaan laut di masa depan menjadi semakin sulit dihindari. Bagi negara-negara dengan populasi pesisir yang besar seperti Indonesia, adaptasi dan mitigasi menjadi semakin mendesak. Tanpa tindakan nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan melindungi kawasan pesisir, jutaan orang akan menghadapi risiko banjir, kehilangan tempat tinggal, dan gangguan mata pencaharian di masa depan.

( Dinar K/ berbagai sumber)