39.300 Murid Ikut OPSI 2026, Kemendikdasmen Dorong Talenta Riset Muda Naik Kelas

OPSI muti

Mendikdasmen Abdul Mu’ti membuka secara resmi Ajang Talenta Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Nasional 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (25/9/2026). Dari kiri ke kanan: Wakil Rektor UMJ, Muhammad Hadi; perwakilan peserta OPSI; Abdul Mu'ti; perwakilan peserta OPSI; Sesjen Kemendikdasmen Suharti; dan Kepala Puspresnas, Maria Veronica IH. (Foto: Morecka/Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, TANGERANG SELATAN — Minat murid Indonesia terhadap penelitian dan inovasi terus mendapat ruang melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Tahun ini, jumlah pendaftar mencapai 39.300 murid, meningkat dibandingkan 26.723 peserta pada 2025.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menjadikan OPSI sebagai salah satu wadah pembinaan talenta murid di bidang riset dan inovasi. Tahun ini, OPSI mengusung tema Muda Berinovasi, Indonesia Berprestasi.

Pada tingkat nasional, sebanyak 125 tim atau 250 murid berhasil mencapai babak final. Mereka berasal dari 24 provinsi serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di Malaysia. Para finalis terdiri atas 60 tim jenjang SMP/MTs/sederajat dan 65 tim SMA/MA/SMK/MAK/sederajat yang membawa beragam gagasan penelitian.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah ingin memastikan perjalanan talenta muda tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Karena itu, Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah jalur pengembangan, mulai dari uang pembinaan dan bantuan bagi satuan pendidikan hingga program pengembangan kompetensi melalui Bina Talenta Indonesia.

Para pemenang juga berkesempatan mengikuti seleksi Beasiswa Talenta Indonesia yang diselenggarakan Kemendikdasmen melalui Puspresnas bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut memberikan dukungan pendidikan jenjang S1 atau D4 di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri.

Selain beasiswa, para peraih prestasi dapat memperoleh kesempatan masuk perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun jalur prestasi yang dibuka masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan.

“Medali bukan akhir perjalanan. Prestasi hari ini adalah pintu masuk menuju kesempatan berikutnya untuk belajar lebih jauh, mengembangkan talenta, memperoleh pengalaman baru, dan berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi. Bagi sebagian talenta, ini juga menjadi kesempatan membawa nama Indonesia ke panggung internasional,” ujar Abdul Mu’ti saat membuka OPSI di Tangerang Selatan, Jumat (25/9/2026).

Abdul Mu’ti juga mengingatkan peserta agar menjadikan penelitian sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

“Jadikan OPSI bukan hanya sebagai kesempatan untuk meraih prestasi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun karakter. Karakter adalah fondasi dari setiap prestasi,” tegas Abdul Mu’ti.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menambahkan bahwa OPSI memberi kesempatan kepada murid untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berpikir kritis dan sistematis, serta mengolah persoalan berdasarkan data hingga menghasilkan gagasan dan solusi yang bermanfaat.

Rangkaian OPSI 2026 mencakup sosialisasi, pameran hasil karya, presentasi dan wawancara, serta Research Idea Challenge. Para finalis juga mendapat penguatan enam kompetensi, yakni Critical Thinking, Communication, Collaboration, Character, Creativity, dan Citizenship.

Pembinaan itu diperkuat melalui kerja sama Kemendikdasmen dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut mencakup penguatan metodologi penelitian, pemahaman dasar penelitian berdasarkan kaidah ilmiah, hingga pembelajaran terkait klirens etik penelitian.

Kemendikdasmen menyebut kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas metodologi dan kebaruan riset talenta muda agar memiliki daya saing di tingkat internasional.

Dalam panduan OPSI 2026, penyelenggara juga menekankan orisinalitas karya penelitian. Peserta wajib menghasilkan gagasan sendiri dan tidak melakukan plagiarisme, termasuk plagiarisme terhadap karya sendiri.

Dengan pola pembinaan berkelanjutan tersebut, OPSI tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga bagian dari proses menumbuhkan budaya riset sejak bangku sekolah dan membuka ruang bagi murid untuk mengembangkan gagasan menjadi inovasi yang lebih luas.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)