AMMN Berbalik Laba US$497,93 Juta pada Semester I-2026

Truk tambang Amman

Truk pengangkut mineral pertambangan emas dan tembaga milik Amman Mineral. (Foto: Amman.co.id/IST)

GEBRAK.ID, JAKARTA — PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membukukan laba bersih sebesar US$497,93 juta atau sekitar Rp8,89 triliun pada semester I-2026. Kinerja tersebut berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya ketika perseroan mencatat rugi bersih US$148,72 juta atau sekitar Rp2,48 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, perbaikan kinerja AMMN sepanjang enam bulan pertama 2026 terutama ditopang oleh lonjakan penjualan bersih serta peningkatan produksi tembaga dan emas. Penjualan bersih AMMN pada semester I-2026 mencapai US$2,05 miliar atau sekitar Rp36,61 triliun, melonjak dibandingkan semester I-2025 yang tercatat sekitar US$182,60 juta atau Rp3,04 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, laba kotor perseroan meningkat signifikan menjadi US$964,15 juta atau sekitar Rp17,22 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba kotor AMMN tercatat sebesar US$55,70 juta atau sekitar Rp928,3 miliar.

Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, mengatakan peningkatan kinerja tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan produksi komoditas utama perseroan. “Sepanjang semester pertama 2026, kami terus meningkatkan kapasitas produksi smelter dan PMR sembari menstabilkan operasi,” kata Arief melalui siaran pers di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Produksi tembaga AMMN tercatat meningkat 136% menjadi 211 juta pon, sedangkan produksi emas melonjak 481% menjadi 346.354 ons. Dari sisi penjualan, Glencore menjadi pembeli terbesar produk AMMN dengan kontribusi sebesar 61,1% dari total penjualan atau sekitar US$1,25 miliar.

Selain Glencore, penjualan kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyumbang 15,1% atau sekitar US$310,11 juta. Sementara itu, penjualan kepada PT Marubeni Indonesia mencapai 11,3% atau sekitar US$231,85 juta.

Berdasarkan jenis produk, penjualan domestik AMMN berasal dari katoda tembaga sebesar US$430,71 juta dan emas murni sebesar US$311,06 juta. Sementara itu, penjualan ekspor tercatat sebesar US$1,31 miliar, yang berasal dari penjualan konsentrat tembaga dan emas serta katoda tembaga.

Arief mengatakan peningkatan kinerja keuangan tersebut juga mencerminkan perbaikan pada aspek operasional dan kondisi pasar logam. “Kinerja keuangan semester I-2026 mencerminkan perbaikan kinerja operasional, volume penjualan yang lebih tinggi, serta harga jual logam yang lebih kuat,” kata Arief.

Beban Keuangan Meningkat
Di tengah pertumbuhan laba, beban keuangan AMMN justru mengalami peningkatan. Pada semester I-2026, beban keuangan tercatat sebesar US$255,70 juta, naik dari US$167,63 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, laba sebelum pajak AMMN mencapai US$695,08 juta, berbalik dari rugi sebelum pajak sebesar US$191,54 juta pada semester I-2025. Dari sisi neraca, total liabilitas perseroan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar US$7,94 miliar, turun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$8,44 miliar. Penurunan liabilitas antara lain terlihat pada pinjaman bank jangka panjang bersih yang turun menjadi US$5,65 miliar dari sebelumnya US$5,88 miliar.

Sementara itu, total aset AMMN per 30 Juni 2026 tercatat sebesar US$13,80 miliar, sedikit menurun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$13,87 miliar. Di sisi lain, total ekuitas meningkat menjadi US$5,86 miliar dari US$5,43 miliar pada akhir 2025.

Dengan demikian, kinerja semester I-2026 menunjukkan perubahan signifikan pada kinerja keuangan AMMN, terutama setelah perseroan berbalik dari posisi rugi menjadi laba seiring dengan peningkatan produksi, volume penjualan, serta harga jual logam. (*)

(Zaky Al Hamzah)