Hasil Lab: Bakteri Bacillus cereus Ditemukan di Tahu dan Cabai MBG Palupuh Agam Sumbar

1789031300992

Hasil uji laboratorium menemukan Bacillus cereus pada sampel makanan MBG dari SPPG Pasia Laweh yang diduga berkaitan dengan ratusan penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan. (Foto ilustrasi: BGN)

GEBRAK.ID,AGAM – Titik terang mulai muncul dalam penyelidikan dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar). Pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi penerima manfaat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam Hendri Rusdian mengatakan bakteri tersebut ditemukan dalam sampel makanan yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh. Temuan itu menjadi salah satu petunjuk penting dalam penyelidikan gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat MBG di wilayah tersebut.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Agam mengirimkan sejumlah sampel makanan dan spesimen dari korban untuk diperiksa di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang. Sampel makanan yang diperiksa antara lain nasi putih, kuah gulai, telur puyuh, tahu, tomat dan timun.

Ratusan penerima manfaat mengalami gejala

Kasus tersebut bermula setelah makanan MBG dibagikan kepada penerima manfaat di Palupuh pada akhir Agustus 2026. Keluhan kesehatan kemudian dilaporkan muncul pada sejumlah penerima manfaat.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Agam sebelumnya mencatat 276 orang mengalami gangguan kesehatan. Jumlah itu kemudian bertambah menjadi 344 orang berdasarkan pendataan Puskesmas Palupuh pada 4 September 2026.

Para korban dilaporkan mengalami sejumlah gejala, antara lain mual, muntah, diare dan demam. Sebagian besar korban mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang, sementara beberapa pasien sempat menjalani rawat inap.

Pemerintah daerah sebelumnya juga menghentikan sementara operasional dan distribusi makanan dari SPPG Pasia Laweh sebagai langkah pencegahan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Apa itu Bacillus cereus?

Bacillus cereus merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit akibat pangan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bakteri tersebut dapat berkembang pada makanan tertentu dan menyebabkan keracunan makanan, termasuk gangguan pada saluran pencernaan.

Gejala yang dapat muncul akibat keracunan makanan antara lain mual, muntah, sakit atau kram perut dan diare. Lembaga kesehatan juga menjelaskan bahwa B. cereus dapat menyebabkan dua pola utama penyakit, yakni tipe muntah dan tipe diare. Pada tipe muntah, gejala dapat muncul relatif cepat setelah makanan terkontaminasi dikonsumsi. Sementara tipe diare umumnya muncul beberapa jam kemudian.

Karena itu, temuan bakteri tersebut menjadi bagian penting dalam proses penelusuran kasus di Palupuh. Namun, keberadaan bakteri pada sampel makanan perlu dilihat bersama hasil pemeriksaan klinis dan epidemiologis untuk memastikan kaitannya dengan seluruh kasus yang terjadi.

Bukan kasus pertama di Kabupaten Agam

Dugaan keracunan MBG di Palupuh bukan kejadian pertama yang terjadi di Kabupaten Agam. Pada Oktober 2025, sekitar 120 orang di Kecamatan Lubuk Basung dilaporkan mengalami gejala sakit perut, mual, muntah dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG. Pemeriksaan saat itu menemukan Staphylococcus aureus pada sampel nasi goreng dan telur dadar.

Rangkaian kejadian tersebut membuat aspek keamanan pangan dalam penyelenggaraan MBG menjadi perhatian pemerintah daerah. Kasus di Agam juga terjadi di tengah meningkatnya laporan gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan program MBG di sejumlah daerah Indonesia.

Data yang dikutip Associated Press dari Kementerian Kesehatan menyebut hingga 2 September 2026 terdapat 560 kejadian keracunan terkait MBG yang berdampak pada 50.059 orang di 245 kabupaten/kota dan 36 provinsi.

Badan Gizi Nasional juga disebut tengah memperketat pengawasan terhadap pusat distribusi makanan MBG, termasuk aspek penyimpanan bahan pangan, penerimaan bahan, pengendalian suhu dan batas waktu konsumsi. Temuan Bacillus cereus di sampel makanan SPPG Pasia Laweh kini menjadi salah satu dasar penting untuk menelusuri sumber kontaminasi dan memastikan langkah perbaikan sebelum layanan MBG di wilayah tersebut kembali berjalan.

(Dinar K/ berbagai sumber)