Banjir Bandang Hantam Pusat Pemerintahan Solok, 11 Kantor dan Ribuan Arsip Terdampak

1790037192845

Penyebab bukan sekedar hujan lebat, masyarakat diimbau waspada. ( Foto: ist)

GEBRAK.ID,SOLOK— Banjir bandang atau galodo yang menerjang kawasan Kompleks Perkantoran Bupati Solok di Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin (21/9/2026) malam, berdampak luas terhadap pusat pelayanan pemerintahan. Sedikitnya 11 kantor pemerintahan terdampak langsung oleh terjangan air dan lumpur.

Bencana yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB ini tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga merendam kendaraan dinas hingga ribuan arsip penting yang tersimpan di sejumlah kantor.

11 Kantor Pemerintahan Lumpuh

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, Ilham Wahab, mengungkapkan bahwa kerusakan yang terjadi beragam, mulai dari endapan lumpur tebal hingga kerusakan fisik bangunan. “Bencana ini mengakibatkan sedikitnya 11 kantor pemerintahan terdampak,” ujar Ilham, Rabu (23/9/2026).

Berdasarkan pendataan awal, kantor yang terdampak antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Kesehatan, Badan Keuangan Daerah (BKD), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN), serta Bapelitbang. Gedung DPRD Kabupaten Solok juga tidak luput dari terjangan banjir. Selain itu, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, Kesbangpol, BKPSDM, dan Bapenda turut mengalami kerusakan akibat banjir dan endapan lumpur.

Bupati Solok Jon Firman Pandu menyatakan bahwa beberapa instansi mengalami kerusakan parah. “Dinas PUPR, kesehatan, BKD, DPMN, Bapelitbang termasuk DPRD terdampak parah,” ujarnya.

Ribuan Arsip dan Kendaraan Terendam

Dampak cukup berat juga terlihat di gedung Bapelitbang. Ribuan arsip yang tersimpan di sejumlah kantor dilaporkan ikut terendam air dan lumpur. Pantauan di lokasi pada Rabu menunjukkan sejumlah area perkantoran masih tertutup lumpur tebal.

Di area Dinas Kesehatan, sebuah mobil terdorong dari posisi parkir akibat material banjir. Kondisi serupa terlihat di Dinas Pertanian, di mana sebuah mobil dinas berpelat merah tampak terjebak di endapan lumpur yang mulai mengeras.

Data BPBD Kabupaten Solok mencatat sebanyak 21 unit mobil dan 7 unit sepeda motor mengalami kerusakan akibat bencana ini.

Korban Jiwa dan Pengungsi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Selasa (22/9) pukul 18.45 WIB, satu warga ditemukan meninggal dunia dan satu warga lainnya masih dalam pencarian. Selain itu, satu warga mengalami luka berat dan tiga warga mengalami luka ringan.

Sebanyak 9 kepala keluarga atau 32 jiwa terpaksa mengungsi akibat kejadian tersebut. Pengungsian sementara ditempatkan di Mapolres Solok, Rumah Dinas Wakil Bupati Solok, dan Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Solok.

Akses Jalan Terputus

Material lumpur dan batu menutupi badan jalan nasional Solok-Padang, membuat jalur tersebut sementara tidak dapat dilalui kendaraan. Kasat Lantas Polres Solok, Iptu Akbar Kharisma Tanjung, mengimbau pengendara yang hendak menuju Padang dari Solok maupun sebaliknya untuk menggunakan jalur alternatif melalui Padang Panjang.

“Akibat material banjir bandang yang menutupi jalan Solok-Padang, sementara waktu tidak bisa dilalui,” katanya. Pihak kepolisian bersama personel lainnya masih berupaya membersihkan material banjir bandang yang menutupi badan jalan agar akses tersebut dapat kembali dilalui. Sekitar 300 personel kepolisian dari Satuan Brimob dikerahkan untuk membantu evakuasi, pencarian, dan operasi pembersihan.

Penyebab: Bukan Sekadar Hujan Lebat

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa curah hujan dengan akumulasi sekitar 94 milimeter per hari menjadi pemicu awal. Namun, kondisi lereng, kejenuhan tanah, longsoran, hingga ketersediaan material lepas di wilayah hulu turut menentukan terbentuknya aliran banjir bandang.

Curah hujan 94 mm/hari adalah pemicu, tetapi untuk menyimpulkan mengapa alirannya berkembang menjadi galodo yang membawa begitu banyak material, perlu dianalisis pula kondisi DAS/hulu,” kata Daryono. Kondisi topografi wilayah hulu Solok yang berupa perbukitan dan pegunungan dengan lereng relatif curam mempercepat aliran permukaan. Kejenuhan tanah akibat hujan yang berlangsung beberapa jam meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kekuatan geser tanah, membuat lereng lebih mudah mengalami longsor.

Material hasil longsoran kemudian masuk ke alur sungai dan mengubah karakter aliran menjadi campuran air dengan lumpur, batu, kayu, dan material tanah yang memiliki daya rusak lebih besar.

Status Tanggap Darurat Ditetapkan

Pemerintah Kabupaten Solok telah menetapkan status tanggap bencana untuk mempercepat proses evakuasi, pembersihan material banjir, pendataan dampak, dan penanganan kebutuhan masyarakat terdampak. “Kita turun langsung untuk melihat kondisi masyarakat dan memastikan penanganan terhadap dampak bencana dapat dilakukan secepat mungkin. Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat serta memastikan kebutuhan mendesak warga terdampak dapat ditangani segera,” ujar Bupati Jon Firman Pandu.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyatakan bahwa pemerintah pusat siap membantu rehabilitasi pasca-bencana. Ia menyebut setidaknya 12 kantor dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Solok mengalami kerusakan berat akibat bencana ini. “Kondisi ini memicu potensi kelumpuhan operasional dan pelayanan publik di wilayah ini. Pemerintah pusat siap membantu rehabilitasi pasca-bencana,” kata Mahyeldi.

Pemprov Sumbar telah berkomunikasi langsung dengan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, untuk melaporkan kondisi infrastruktur pelayanan yang rusak. Pemerintah pusat disebut siap memberikan dukungan dari segi peralatan teknis maupun bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi perkantoran.

Imbauan Waspada

Bupati Solok mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi banjir bandang susulan. Masyarakat yang berada di daerah rawan banjir, longsor, dan aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Warga juga diimbau segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila kondisi lingkungan mulai membahayakan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

( Dinar K/ berbagai sumber)