Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Gen Z Kini Cari Pengalaman Wisata yang Punya Makna

liburan menyenangkan

Tren pariwisata terus berubah. Wisatawan muda, khususnya Generasi Z dan milenial, kini tidak lagi sekadar mencari tempat indah untuk dikunjungi. Mereka semakin tertarik pada perjalanan yang menghadirkan pengalaman, cerita, interaksi, serta makna yang bisa dibawa pulang. (Foto ilustrasi: Pixabay)

GEBRAK.ID – Tren pariwisata terus berubah. Wisatawan muda, khususnya Generasi Z dan milenial, kini tidak lagi sekadar mencari tempat indah untuk dikunjungi. Mereka semakin tertarik pada perjalanan yang menghadirkan pengalaman, cerita, interaksi, serta makna yang bisa dibawa pulang.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, perubahan perilaku tersebut mendorong destinasi wisata di Indonesia untuk mengembangkan potensi alam dan budaya menjadi pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh wisatawan.

“Gen Z terutama, mereka mencari meaning, ketika berwisata itu harus ada artinya. Itu bertransformasi terhadap pengalaman yang ingin dicapai,” kata Made dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Menurut Made, perubahan tersebut terlihat dari cara wisatawan muda menikmati sebuah destinasi. Ketika mendaki gunung, misalnya, mereka tidak hanya mengejar momen sampai di puncak. Perjalanan menuju lokasi, atraksi budaya, pemandangan, hingga interaksi dengan masyarakat sekitar juga menjadi bagian dari pengalaman yang dicari.

Konsep tersebut sejalan dengan pengembangan experiential tourism atau wisata berbasis pengalaman. Kemenpar mendorong pendekatan ini melalui sejumlah bidang, mulai dari gastronomi, kebugaran, kelautan, hingga wastra serta seni dan budaya.

Pengembangan wastra bahkan terus diperkuat Kemenpar. Dalam program Jelajah Indonesia Wastra Nusantara pada September 2026, Kemenpar menempatkan batik, tenun, dan kain ikat bukan hanya sebagai produk tekstil, tetapi juga sebagai media untuk menceritakan identitas, pengetahuan, tradisi, dan asal-usul sebuah daerah.

Pekalongan menjadi salah satu contoh yang dapat dikembangkan. UNESCO menetapkan kota tersebut sebagai bagian dari Creative Cities Network dalam bidang Crafts and Folk Art sejak 2014. Batik menjadi bagian penting dari identitas budaya sekaligus ekonomi kreatif Pekalongan.

Made menilai kekayaan seni dan budaya Indonesia masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan menjadi paket wisata yang lebih interaktif. Salah satunya melalui walking tour yang memadukan aktivitas berjalan kaki dengan seni, budaya, wastra, kuliner, maupun potensi bahari.

“Walking tour itu bagus sekali dan menjadi tren saat ini. Misalnya kita bisa memadukan seni dan budaya, wisata wastra, wisata bahari, dengan berjalan kaki ini, Indonesia akan sangat menarik dan pengalamannya dapat. Semakin kreatif, semakin menarik, semakin berbeda, itu yang dicari oleh wisatawan sekarang,” ujar Made.

Konsep tersebut juga berpotensi membantu mengurangi penumpukan wisatawan di destinasi tertentu. Dengan paket perjalanan yang tersebar dan beragam, wisatawan dapat diarahkan untuk mengenal lebih banyak lokasi sekaligus memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat di berbagai daerah.

CEO Werkudara Group Fadli Fahmi Ali mengatakan, kekayaan alam dan budaya tidak otomatis menjadi pengalaman wisata bernilai. Pelaku pariwisata perlu melakukan riset untuk menemukan cerita, tokoh, tradisi, serta makna di balik sebuah aset.

“Value itu terdiri dari beberapa macam layer. Jadi, kita harus mendesain berbagai macam layer untuk bisa menjadi suatu nilai dari suatu aset, dari objeknya, personnya, tradition-nya, dan sebagainya,” kata Fadli.

Dengan pendekatan tersebut, wisata tidak berhenti pada aktivitas melihat dan berfoto. Wisatawan diharapkan dapat berinteraksi, memahami cerita lokal, serta merasakan langsung kekayaan budaya dan alam Indonesia.

(Devona R/Sumber: Kementerian Pariwisata)