Diduga Bernuansa Satanic, Karnaval dalam Rangkaian Khitan Massal di Pekalongan Tuai Sorotan
Diduga Bernuansa Satanic, Karnaval dalam Rangkaian Khitan Massal di Pekalongan Tuai Sorotan. (Foto; jateng.disway.id).
GEBRAK.ID–Simbang Kulon Night Carnival atau SKNC 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menjadi sorotan setelah video salah satu penampilan peserta beredar luas di media sosial. Penampilan tersebut ramai diperbincangkan karena kostum, properti, dan koreografi yang digunakan dinilai oleh sejumlah warganet memiliki kemiripan dengan simbol atau ritual satanik.
Video penampilan tersebut salah satunya diunggah oleh akun media sosial @infobimantara. Dalam rekaman yang beredar, terlihat sejumlah peserta mengenakan kostum dengan tampilan menyeramkan. Beberapa di antaranya menggunakan pakaian berwarna putih dengan riasan wajah menyerupai tengkorak, sementara peserta lain tampil dengan kostum berwarna hitam.
Selain kostum, para peserta juga menggunakan sejumlah properti dalam pertunjukan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah peti mati berwarna putih yang dibawa dalam rangkaian penampilan.
Video lain yang beredar juga memperlihatkan adanya adegan yang menyerupai penyembelihan kepala kambing sebagai bagian dari koreografi. Adegan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang paling banyak diperbincangkan di media sosial.
Potongan-potongan video tersebut memunculkan berbagai reaksi dari masyarakat. Sebagian warganet mempertanyakan konsep pertunjukan karena menilai sejumlah unsur yang ditampilkan tidak sesuai dengan nilai dan kultur masyarakat setempat.
Namun, sampai saat ini penyebutan penampilan tersebut sebagai ritual satanik masih sebatas persepsi yang berkembang di masyarakat dan media sosial. Panitia maupun peserta telah memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak mengetahui adanya makna atau keterkaitan khusus dari kostum dan konsep yang digunakan dengan ritual tersebut.
Pemkab Pekalongan Segera Panggil Panitia
Viralnya video tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Pemkab menyatakan akan meminta penjelasan langsung dari pihak panitia mengenai pertunjukan yang berlangsung dalam SKNC 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, mengatakan pemerintah daerah akan mengundang panitia untuk melakukan klarifikasi mengenai kejadian yang berlangsung dalam karnaval tersebut.
Klarifikasi diperlukan agar pemerintah mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai konsep dan pelaksanaan pertunjukan yang kemudian menjadi perhatian masyarakat.
Dalam keterangannya pada Senin, 14 September 2026, Yulian mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan mengundang panitia SKNC untuk mengetahui secara langsung apa yang sebenarnya terjadi dalam acara tersebut.
Selain meminta penjelasan dari panitia, Pemerintah Kabupaten Pekalongan juga berencana berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia atau MUI.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk mendapatkan pandangan yang lebih komprehensif mengenai persoalan yang berkembang di masyarakat, terutama setelah muncul anggapan bahwa salah satu penampilan dalam karnaval tersebut mengandung unsur satanik.
Pemkab memilih untuk meminta keterangan dari pihak yang terlibat langsung sebelum mengambil kesimpulan lebih lanjut.
Karnaval Digelar pada 10 September 2026
Simbang Kulon Night Carnival 2026 digelar pada Kamis malam, 10 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama atau PRNU Simbang Kulon.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mengikuti karnaval dengan menempuh rute sekitar tiga kilometer. Ribuan penonton disebut hadir untuk menyaksikan berbagai penampilan peserta di sepanjang rute maupun lokasi pertunjukan.
Salah satu peserta yang tampil dalam acara tersebut adalah tim Simone. Penampilan tim inilah yang kemudian menjadi perhatian setelah sejumlah rekaman videonya beredar luas di media sosial.
Dalam video yang beredar, anggota tim Simone menggunakan sejumlah kostum dan properti dengan tampilan yang cukup ekstrem. Beberapa peserta terlihat mengenakan kostum menyerupai makhluk berkepala hewan bertanduk dengan bentuk tubuh dan kaki seperti binatang.
Peserta lainnya mengenakan pakaian putih dengan penutup kepala berbentuk lancip. Dalam penampilan tersebut mereka juga membawa peti mati berwarna putih sebagai bagian dari konsep pertunjukan.
Koreografi yang digunakan kemudian dipadukan dengan adegan yang memperlihatkan penyembelihan kepala kambing. Adegan tersebut membuat penampilan semakin ramai diperbincangkan karena oleh sebagian warganet dianggap memiliki kemiripan dengan gambaran ritual tertentu.
Penampilan Tim Simone Viral di Media Sosial
Video penampilan tim Simone kemudian menyebar di berbagai platform media sosial. Potongan video yang beredar memperlihatkan beberapa bagian dari pertunjukan, termasuk kostum, koreografi, serta penggunaan peti mati.
Dalam salah satu bagian video, terlihat peserta menggunakan kostum dengan bentuk menyerupai makhluk bertanduk. Peserta lainnya tampil dengan pakaian putih dan membawa peti mati.
Potongan video lainnya memperlihatkan adegan yang disebut menyerupai penyembelihan kepala kambing.
Kombinasi berbagai elemen tersebut kemudian memunculkan dugaan dari sejumlah pengguna media sosial bahwa pertunjukan itu berkaitan dengan ritual satanik.
Sejumlah warganet mempertanyakan alasan penggunaan simbol dan properti tersebut dalam sebuah karnaval yang digelar di lingkungan masyarakat.
Namun, persepsi tersebut kemudian diklarifikasi oleh panitia dan pihak tim Simone. Mereka menyatakan bahwa konsep pertunjukan tidak dimaksudkan sebagai ritual satanik.
Panitia Mengaku Tidak Mengetahui Detail Konsep Pertunjukan
Ketua Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, memberikan klarifikasi bersama perwakilan tim Simone di Kantor Lurah Simbang Kulon pada Senin, 14 September 2026.
Ziyad membenarkan bahwa tim Simone memang tampil dalam SKNC 2026. Namun, ia mengatakan pihak panitia tidak mengetahui secara detail mengenai konsep pertunjukan yang dibawakan oleh peserta tersebut.
Menurut Ziyad, panitia membenarkan adanya penampilan yang terekam dalam video dan beredar di media sosial. Akan tetapi, konsep serta maksud dari setiap bagian pertunjukan tidak sepenuhnya diketahui oleh pihak penyelenggara.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan panitia memberikan klarifikasi setelah muncul polemik di masyarakat.
Ziyad juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas munculnya kontroversi tersebut.
Pihak panitia mengakui adanya kekurangan dalam proses penyelenggaraan dan menyampaikan permohonan maaf apabila penampilan tersebut menimbulkan keresahan atau menyinggung masyarakat.
Tim Simone Ikut Menyampaikan Permintaan Maaf
Tidak hanya panitia, perwakilan tim Simone, M Akhid, juga menyampaikan permintaan maaf atas penampilan yang mereka bawakan dalam SKNC 2026.
Akhid mengakui bahwa timnya menyesal setelah mengetahui penampilan tersebut menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
Ia mengatakan pihaknya kurang memiliki pemahaman atau literasi mengenai makna di balik kostum dan konsep yang digunakan.
Menurut Akhid, tim pada awalnya hanya melihat kostum tersebut sebagai sesuatu yang unik dan menarik untuk digunakan dalam pertunjukan.
Akhid menjelaskan bahwa kostum yang digunakan dalam penampilan tersebut disewa dari Malang.
Setelah mendapatkan kostum, anggota tim kemudian membuat dan melatih koreografi yang akan digunakan dalam karnaval. Mereka juga mencari referensi gerakan melalui YouTube, termasuk dari berbagai pertunjukan yang pernah ditampilkan di Malang dan daerah lainnya.
Dari referensi tersebut, tim kemudian menyusun gerakan dan berlatih bersama sebelum tampil di SKNC 2026.
Akhid menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung dengan penampilan tersebut.
Akhid Mengaku Tidak Mengetahui Makna Kostum
Salah satu poin penting dalam klarifikasi tim Simone adalah pengakuan bahwa mereka sebelumnya tidak mengetahui adanya keterkaitan antara kostum dan konsep penampilan dengan ritual satanik.
Akhid mengatakan tim pada awalnya hanya tertarik karena melihat kostum tersebut sebagai sesuatu yang unik dan menarik untuk ditampilkan dalam karnaval.
Menurut penjelasannya, mereka tidak mengetahui bahwa kostum atau konsep yang digunakan dapat diasosiasikan dengan ritual satanik.
Pemilihan kostum tersebut lebih didasarkan pada tampilan visual yang dianggap menarik untuk kebutuhan pertunjukan.
Setelah kostum diperoleh, tim kemudian menyiapkan koreografi berdasarkan referensi yang mereka temukan di internet.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah penampilan mereka menjadi bahan pembicaraan luas di media sosial.
Referensi Koreografi Berasal dari YouTube
Dalam proses persiapan penampilan, tim Simone menggunakan berbagai sumber sebagai referensi koreografi.
Akhid mengatakan gerakan yang ditampilkan dalam SKNC 2026 dilatih bersama anggota tim. Mereka mencari referensi melalui YouTube, termasuk video pertunjukan dari Malang dan sejumlah daerah lainnya.
Kostum yang telah disewa kemudian dipadukan dengan gerakan yang dianggap sesuai.
Menurut Akhid, mereka tidak secara khusus mencari referensi mengenai ritual satanik. Mereka hanya melihat berbagai pertunjukan yang dianggap menarik dan kemudian mengadaptasi gerakannya.
Persiapan dilakukan bersama sebelum tim tampil dalam acara pada Kamis malam, 10 September 2026.
Penjelasan soal Adegan Penyembelihan Kambing
Selain kostum dan properti, adegan penyembelihan kambing menjadi salah satu bagian yang paling banyak diperbincangkan dalam video yang beredar.
Akhid memberikan penjelasan mengenai keberadaan kambing tersebut.
Menurutnya, kambing memang telah disiapkan oleh pihak tim untuk disembelih setelah kegiatan selesai. Penyembelihan tersebut disebut berkaitan dengan rahatan atau kegiatan makan bersama.
Dengan demikian, berdasarkan keterangan pihak tim, kambing tersebut tidak disiapkan untuk keperluan ritual dalam pertunjukan.
Akhid menegaskan bahwa penyembelihan kambing dilakukan sebagai bagian dari rencana makan bersama setelah acara selesai.
Penjelasan tersebut diberikan untuk meluruskan anggapan yang muncul setelah video penampilan mereka menyebar di media sosial.
Kostum Disebut Disewa dari Malang
Akhid juga menjelaskan asal-usul kostum yang digunakan oleh tim Simone.
Menurutnya, ide awal muncul ketika anggota tim melihat kostum yang dianggap memiliki bentuk unik.
Mereka kemudian tertarik menggunakan kostum tersebut untuk kebutuhan penampilan dalam SKNC 2026.
Kostum tersebut kemudian disewa dari Malang.
Setelah kostum tersedia, tim menyusun gerakan yang dinilai sesuai dengan tampilan kostum. Mereka melakukan latihan bersama sebelum akhirnya menampilkan koreografi tersebut dalam karnaval.
Referensi gerakan diperoleh dari berbagai video di YouTube. Selain melihat penampilan dari Malang, mereka juga mengambil referensi dari pertunjukan di sejumlah daerah lain.
Akhid mengatakan seluruh proses tersebut dilakukan berdasarkan ketertarikan terhadap tampilan kostum dan konsep pertunjukan, bukan karena pemahaman terhadap simbol atau makna ritual tertentu.
SKNC Merupakan Bagian dari Khitanan Massal
Di tengah polemik yang berkembang, panitia menjelaskan bahwa SKNC 2026 bukan merupakan acara yang berdiri sendiri.
Karnaval tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh PRNU Simbang Kulon.
Kegiatan khitanan massal tersebut menjadi salah satu aktivitas sosial masyarakat setempat. SKNC kemudian digelar sebagai bagian dari rangkaian acara yang melibatkan peserta dan masyarakat dalam suasana perayaan.
Berbagai peserta mengikuti karnaval dan menampilkan konsep masing-masing di sepanjang rute yang telah ditentukan.
Masyarakat pun hadir dalam jumlah besar untuk menyaksikan penampilan para peserta.
Namun, salah satu penampilan kemudian menjadi perhatian luas setelah rekaman videonya tersebar di internet.
Pemkab Pekalongan Koordinasi dengan MUI
Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyatakan akan melakukan langkah lanjutan terkait polemik tersebut.
Pemkab berencana meminta keterangan dari panitia dan melakukan koordinasi dengan MUI.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai konsep pertunjukan dan unsur-unsur yang dipersoalkan masyarakat.
Koordinasi dengan MUI juga dilakukan untuk mendapatkan masukan mengenai persoalan yang berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap simbol atau unsur keagamaan dalam sebuah pertunjukan.
Pemkab tidak ingin langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.
Keterangan dari panitia dan peserta akan menjadi bagian penting dalam proses klarifikasi.
Tim Simone Disebut Meraih Juara
Tim Simone merupakan salah satu peserta dalam SKNC 2026.
Selain menjadi sorotan karena konsep penampilannya, tim tersebut disebut berhasil meraih juara dalam ajang karnaval tersebut.
Penampilan yang awalnya menjadi bagian dari kompetisi kemudian menjadi perbincangan lebih luas setelah video pertunjukan menyebar di media sosial.
Polemik yang muncul akhirnya membuat panitia dan perwakilan tim memberikan klarifikasi secara langsung.
Panitia Akui Ada Kekurangan
Pihak panitia mengakui adanya kekurangan dalam proses penyelenggaraan, terutama berkaitan dengan pemahaman mengenai konsep pertunjukan yang dibawakan oleh peserta.
Ziyad Azizi menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang muncul.
Menurutnya, panitia tidak mengetahui secara rinci konsep penampilan tim Simone sebelum pertunjukan berlangsung.
Permintaan maaf tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat yang merasa tidak nyaman atau tersinggung setelah melihat penampilan tersebut.
Sementara itu, pihak tim Simone juga mengakui bahwa mereka kurang memahami konteks dari kostum yang digunakan.
Akhid mengatakan tim menyesal dan meminta maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung.
Viral Setelah Potongan Video Beredar
Polemik mengenai SKNC 2026 tidak terlepas dari penyebaran potongan video di media sosial.
Video yang hanya memperlihatkan bagian tertentu dari sebuah pertunjukan dapat menimbulkan beragam interpretasi dari penonton yang tidak melihat keseluruhan rangkaian acara.
Dalam kasus ini, kostum, properti, dan koreografi yang digunakan tim Simone dipersepsikan oleh sebagian warganet sebagai sesuatu yang berkaitan dengan satanisme.
Persepsi tersebut terutama muncul karena adanya kombinasi kostum menyerupai makhluk bertanduk, riasan menyerupai tengkorak, peti mati, dan adegan penyembelihan kambing.
Namun, berdasarkan klarifikasi panitia dan tim Simone, mereka menyatakan tidak memiliki maksud untuk melakukan ritual satanik.
Tim menjelaskan bahwa pemilihan kostum dilakukan karena dianggap unik. Sementara itu, koreografi dibuat berdasarkan berbagai referensi pertunjukan yang ditemukan melalui YouTube.
Adegan penyembelihan kambing juga dijelaskan sebagai bagian dari rencana rahatan atau makan bersama setelah kegiatan.
Panitia dan Peserta Meminta Maaf
Setelah video tersebut viral, panitia dan perwakilan tim Simone menyampaikan permintaan maaf.
Panitia mengakui adanya kekurangan karena tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan yang dibawakan peserta.
Sementara itu, tim Simone mengaku menyesal karena konsep yang mereka tampilkan menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
M Akhid mengatakan pihaknya kurang literasi mengenai makna atau keterkaitan kostum yang mereka gunakan dengan simbol tertentu.
Ia pun meminta maaf kepada masyarakat yang merasa tersinggung dengan penampilan tersebut.
Permintaan maaf tersebut disampaikan dalam kesempatan klarifikasi yang digelar pada Senin, 14 September 2026.
Polemik Masih dalam Proses Klarifikasi
Hingga Senin, 14 September 2026, pihak panitia dan tim Simone telah memberikan penjelasan mengenai penampilan yang menjadi sorotan.
Panitia membenarkan bahwa penampilan tersebut memang terjadi dalam SKNC 2026. Namun, mereka menegaskan bahwa pihak penyelenggara tidak mengetahui secara rinci konsep pertunjukan yang dibawakan oleh tim Simone.
Sementara itu, tim Simone menjelaskan bahwa mereka tidak memahami makna atau keterkaitan kostum yang digunakan dengan ritual satanik.
Mereka mengaku hanya melihat kostum tersebut sebagai sesuatu yang unik dan kemudian menggunakannya untuk kebutuhan pertunjukan.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan selanjutnya akan melakukan klarifikasi lebih lanjut dengan panitia serta berkoordinasi dengan MUI.
Langkah tersebut dilakukan agar polemik yang berkembang dapat dilihat berdasarkan informasi yang lebih lengkap, bukan semata-mata dari potongan video yang beredar di media sosial.
Dengan demikian, penyebutan penampilan tersebut sebagai “ritual satanik” untuk saat ini perlu dipahami sebagai dugaan atau persepsi yang muncul dari sebagian warganet, bukan sebagai kesimpulan resmi mengenai maksud pertunjukan.
Pihak panitia dan peserta telah menyampaikan permintaan maaf, sedangkan pemerintah daerah masih akan melakukan koordinasi dan meminta keterangan lebih lanjut.
SKNC 2026 sendiri merupakan bagian dari rangkaian khitanan massal ke-61 di Simbang Kulon. Acara yang berlangsung pada 10 September 2026 tersebut diikuti berbagai peserta dan disaksikan masyarakat dalam jumlah besar.
Polemik yang muncul setelah salah satu penampilan viral di media sosial kini masih dalam proses klarifikasi. Pemerintah daerah, panitia, dan pihak peserta diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai kejadian tersebut.
(Damar Pratama/ Berbagai Sumber).
