Harlan Ellison, Penulis Fiksi Ilmiah Legendaris yang tak Pernah Menyukai Star Wars
Harlan Ellison, Penulis Fiksi Ilmiah Legendaris yang Tak Pernah Menyukai Star Wars. (Foto: Wikipedia).
GEBRAK.ID–Sebagian besar kisah tentang penulis fiksi ilmiah legendaris Harlan Ellison biasanya tidak jauh dari reputasinya sebagai sosok yang pemarah, keras kepala, dan gemar membawa persoalan ke ranah hukum. Ellison memang dikenal tidak menyukai Hollywood. Ketidaksukaannya terhadap Star Trek bahkan sudah menjadi bagian dari legenda, sementara sejumlah penulis, produser, dan studio pernah berhadapan dengannya karena tuduhan penggunaan ide tanpa izin.
Ellison pernah menggugat pembuat serial fiksi ilmiah Future Cop pada era 1970-an. Ia juga terkenal karena memenangkan gugatan terhadap James Cameron terkait film The Terminator. Beberapa dekade kemudian, ia menggugat film In Time karena menilai film tersebut mengambil gagasan dari karyanya.
Dalam berbagai wawancara, Ellison juga tidak pernah menyembunyikan pandangannya mengenai industri hiburan. Salah satu wawancara penting berlangsung pada 1979 bersama Comics Journal. Dalam kesempatan tersebut, ia secara terbuka mengkritik kebiasaan studio Hollywood yang mengambil gagasan dari penulis lalu menggunakannya seolah-olah sebagai milik mereka sendiri.
Pada 1989, Ellison menerbitkan Harlan Ellison’s Watching, sebuah kumpulan esai dan ulasan yang mencakup sekitar 25 tahun tulisan nonfiksinya. Buku tersebut berisi pandangannya terhadap berbagai film dan serial fiksi ilmiah populer.
Salah satu karya yang mendapat perhatian besar adalah esai berjudul Luke Skywalker Is A Nerd And Darth Vader Sucks Runny Eggs. Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa Ellison sama sekali tidak bermaksud memberikan pujian terhadap Star Wars.
Ellison menilai film karya George Lucas tersebut terlalu dangkal dan tidak menawarkan pemikiran yang cukup kompleks. Menurutnya, Star Wars memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai gagasan besar dalam genre fiksi ilmiah, tetapi justru memilih menjadi film petualangan sederhana.
Harlan Ellison Menganggap Star Wars Dangkal dan Kekanak-kanakan
20th Century Fox
Situs Grailrunner pernah menerbitkan beberapa bagian dari esai Harlan Ellison tersebut. Isinya menunjukkan betapa keras kritik sang penulis terhadap Star Wars.
Ellison merasa kecewa karena genre fiksi ilmiah, yang menurutnya seharusnya menjadi wadah untuk membicarakan imajinasi, ambisi, filsafat, dan berbagai kemungkinan masa depan, justru digunakan untuk membuat film petualangan luar angkasa yang menurutnya tidak jauh berbeda dari cerita koboi.
Ia bahkan menggambarkan Star Wars sebagai petualangan bergaya wild west yang dipindahkan ke luar angkasa.
Menurut Ellison, Hollywood tidak memahami perbedaan antara membuat film fiksi ilmiah dengan sekadar mengambil elemen visual futuristis untuk film dari genre lain. Baginya, senjata laser dan latar luar angkasa saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah film benar-benar berbobot sebagai karya fiksi ilmiah.
Ia juga mempertanyakan kedalaman cerita Star Wars. Menurutnya, meskipun film tersebut memiliki teknologi produksi yang mengesankan, adegan aksi yang cepat, serta efek visual yang luar biasa pada masanya, semua itu tidak diimbangi dengan eksplorasi karakter dan gagasan yang mendalam.
Ellison menilai karakter-karakter dalam Star Wars terlalu menyerupai stereotip dari komik dan cerita petualangan. Ia merasa kehidupan dan persoalan batin para tokohnya tidak cukup digali.
Jika Star Wars dilihat sebagai film yang berdiri sendiri tanpa mempertimbangkan berbagai sekuel dan cerita tambahan yang muncul kemudian, memang mudah melihat pengaruh serial petualangan fiksi ilmiah era 1930-an yang sangat disukai George Lucas sejak kecil.
Karakter seperti Luke Skywalker, Darth Vader, Princess Leia, dan Han Solo dibangun dengan pola arketipe yang cukup jelas. Ada pahlawan, penjahat, putri, mentor, dan karakter pemberontak. Struktur semacam ini memang merupakan bagian penting dari daya tarik film tersebut.
Namun bagi Ellison, menghabiskan begitu banyak sumber daya produksi dan teknologi sinema untuk menyajikan karakter yang menurutnya menyerupai stereotip komik merupakan sebuah pemborosan.
Ia memiliki pandangan bahwa fiksi ilmiah seharusnya banyak bermain dengan konsep what if atau bagaimana jika. Genre ini dapat mengajukan pertanyaan seperti bagaimana jika manusia memiliki kemampuan psikis, bagaimana jika manusia bertemu makhluk asing, atau bagaimana jika teknologi mengubah kehidupan manusia secara drastis.
Dalam pandangan Ellison, Star Wars tidak benar-benar mengeksplorasi pertanyaan semacam itu. Film tersebut lebih menyerupai kisah petualangan dengan latar luar angkasa.
Ellison Juga Tidak Terlalu Terpesona oleh Efek Visual
20th Century Fox
Ellison memiliki sejumlah film fiksi ilmiah favorit yang menurutnya lebih berhasil memanfaatkan potensi genre tersebut.
Ia menyukai Charly dan 1984. Ia juga merekomendasikan A Boy and His Dog karya L.Q. Jones pada 1975, yang kebetulan diadaptasi dari salah satu cerita pendek miliknya sendiri.
Menariknya, Ellison juga tidak terlalu menyukai 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick. Menurutnya, film tersebut terlalu berfokus pada aspek visual dan kurang memperhatikan sisi kemanusiaan.
Bagi Ellison, kekuatan terbesar fiksi ilmiah justru terletak pada bagaimana teknologi, kejadian luar biasa, dan masa depan memengaruhi manusia.
Ia berpendapat bahwa banyak film yang dulu dianggap sebagai mahakarya akhirnya terlihat seperti demonstrasi efek khusus belaka ketika dilihat kembali.
Pandangan tersebut membantu menjelaskan mengapa Ellison begitu keras terhadap Star Wars. Ia tidak hanya mempermasalahkan ceritanya, tetapi juga cara penonton dan komunitas ilmiah menerima film tersebut.
Salah satu hal yang paling mengganggunya adalah minimnya kritik terhadap Star Wars ketika film tersebut menjadi fenomena budaya.
Ellison merasa heran melihat para ilmuwan NASA memberikan pujian terhadap film tersebut. Ia bahkan kesal ketika sahabatnya, penulis Ben Bova, memberikan ulasan positif.
Menurut Ellison, hampir tidak ada suara yang berani menentang gelombang popularitas Star Wars yang semakin besar.
Ia khawatir jika para ilmuwan benar-benar menyamakan fiksi ilmiah dengan Star Wars, maka masa depan genre tersebut akan menjadi terlalu sederhana dan membosankan.
Dalam pandangannya, jika semua visual spektakuler dan istilah ilmiah dalam Star Wars disingkirkan, yang tersisa hanyalah cerita sederhana dengan karakter dan dialog yang menurutnya biasa saja.
Ellison bahkan menyindir bahwa film tersebut mungkin sangat cocok bagi mereka yang masih memiliki sisi kekanak-kanakan atau bagi orang-orang yang tidak pernah benar-benar tumbuh dewasa.
Kritik tersebut tentu saja terdengar sangat keras, bahkan menurut standar Ellison sendiri.
Namun, ada bagian dari kritiknya yang masih menarik untuk diperdebatkan. Star Wars memang sejak awal dirancang sebagai petualangan luar angkasa yang terinspirasi dari serial klasik, mitologi, kisah kepahlawanan, serta film petualangan masa lalu.
Film tersebut tidak selalu bertujuan menjadi eksperimen filsafat atau kajian ilmiah tentang masa depan manusia. Justru kesederhanaan struktur ceritanya merupakan salah satu alasan mengapa Star Wars dapat diterima oleh begitu banyak orang.
19 Film Fiksi Ilmiah yang Pernah Dicibir Kritikus tetapi Layak Ditonton
Selain membahas kritik Harlan Ellison terhadap Star Wars, terdapat pula sejumlah film fiksi ilmiah yang pada awalnya mendapatkan respons negatif dari kritikus tetapi kemudian memperoleh penggemar dan penghargaan yang lebih besar.
Beneath the Planet of the Apes (1970)
20th Century Studios
Setelah kesuksesan besar Planet of the Apes pada 1968, studio merilis sekuelnya, Beneath the Planet of the Apes, pada 1970.
Film ini melanjutkan kisah dunia masa depan setelah Taylor menghilang ketika menyelidiki reruntuhan New York. Seorang astronaut lain bernama Brent kemudian tiba di planet tersebut dan mulai mencari Taylor.
Dalam perjalanannya, Brent berhadapan dengan komunitas manusia yang mengalami mutasi dan hidup di bawah permukaan kota.
Bagian awal film memang cukup mirip dengan film pertamanya. Namun ketika cerita mulai memasuki dunia bawah tanah, film tersebut berkembang menjadi kisah yang jauh lebih menarik dan gelap.
Beneath the Planet of the Apes juga terkenal karena ending-nya yang sangat suram. Film tersebut membawa sisi nihilistik yang jauh lebih kuat dibandingkan kebanyakan film dalam waralaba Planet of the Apes.
The Black Hole (1979)
Walt Disney Productions
Disney menghabiskan sekitar US$20 juta untuk memproduksi The Black Hole, sebuah film yang diharapkan dapat menarik penonton yang menyukai Star Wars dan Star Trek.
Film tersebut berhasil menghasilkan sekitar US$37 juta, meskipun perjalanan menuju kesuksesan tidak berjalan mulus.
Roger Ebert pernah mengkritik film ini sebagai melodrama yang terlalu banyak dialog dan menjadikan lubang hitam hanya sebagai gimmick.
Namun dari sisi visual, The Black Hole tetap mengesankan. Tim produksinya menggunakan ratusan matte painting, model fisik, dan berbagai teknik proyeksi untuk menciptakan dunia luar angkasa yang megah.
Film ini memang terasa seperti satu adegan Star Wars yang diperpanjang menjadi film berdurasi hampir 100 menit. Meski demikian, desain visualnya tetap menarik, begitu pula musik futuristis karya John Barry.
Metalstorm: The Destruction of Jared-Syn (1983)
Universal Pictures
Film ini merupakan salah satu contoh fiksi ilmiah beranggaran terbatas dari era 1980-an yang terpengaruh oleh kesuksesan Mad Max.
Metalstorm membawa penonton ke dunia pasca-apokaliptik dengan sumber daya terbatas, kendaraan rakitan, mutan, dan berbagai kelompok yang berusaha bertahan hidup.
Richard Moll tampil menonjol sebagai Hurok, pemimpin kelompok Cyclopeans.
Walaupun sejumlah adegan pertarungan dan kejar-kejarannya terasa lambat, film ini tetap memiliki daya tarik visual bagi penggemar genre tersebut.
The Ice Pirates (1984)
MGM/UA Entertainment Co.
The Ice Pirates merupakan komedi fiksi ilmiah yang sengaja bermain-main dengan berbagai film populer pada masanya.
Star Wars, Robin Hood, Alien, dan Mad Max menjadi beberapa sumber yang diparodikan.
Film ini memang kacau dan dipenuhi humor absurd. Namun justru itulah daya tariknya.
Selain lelucon dan adegan komedi, dunia yang dibangun dalam film ini cukup kreatif. Desain kapal, kostum, set, serta berbagai detail latarnya menunjukkan usaha yang lebih serius dibandingkan film parodi biasa.
Firestarter (1984)
Universal Pictures
Pada era 1980-an, Stephen King mulai memperluas karyanya ke genre selain horor supernatural.
Firestarter menggabungkan fiksi ilmiah dengan kisah konspirasi pemerintah. Ceritanya berpusat pada sebuah keluarga yang menjadi korban eksperimen rahasia pemerintah.
Setelah kedua orang tuanya mendapatkan kemampuan tertentu akibat eksperimen, anak mereka Charlie memiliki kemampuan untuk mengendalikan api.
Pemerintah kemudian berusaha menangkap Charlie karena ingin memanfaatkan kekuatannya sebagai senjata.
Film ini memiliki pengaruh yang cukup terasa terhadap karya-karya modern seperti Stranger Things, terutama melalui kesamaan antara Charlie dan Eleven.
Meskipun film tersebut tidak memiliki energi sebesar Stranger Things, penampilan George C. Scott dan Martin Sheen cukup membantu. Musik Tangerine Dream juga menjadi salah satu kekuatannya.
Invaders from Mars (1986)
Cannon Pictures
Invaders from Mars bukanlah film yang benar-benar menakutkan. Namun kombinasi antara Tobe Hooper sebagai sutradara dan Dan O’Bannon sebagai salah satu penulisnya membuat film ini tetap menarik.
Film tersebut memiliki nuansa khas film keluarga dan petualangan anak-anak era Steven Spielberg.
Kisahnya mengikuti David Gardner yang mulai menyadari bahwa orang-orang di kotanya telah berubah.
Bagian pertama film terasa seperti versi anak-anak dari Invasion of the Body Snatchers. Namun memasuki bagian kedua, film berubah menjadi tontonan monster dengan berbagai efek praktis.
Kehadiran Stan Winston dalam produksi efek khusus membuat lingkungan alien dalam film ini terlihat cukup mengesankan.
Alien 3 (1992)
20th Century Fox
Alien 3 sering dibandingkan secara negatif dengan dua film sebelumnya, Alien dan Aliens.
Namun film ini memiliki keunikan tersendiri karena menjadi debut penyutradaraan David Fincher dalam film panjang.
Ripley kembali menghadapi Xenomorph, kali ini di sebuah fasilitas penjara luar angkasa yang dihuni para narapidana.
Film ini memiliki suasana yang sangat gelap dan berbeda dari dua film sebelumnya. Penyuntingannya juga cepat dan terasa kasar, sesuatu yang kemudian menjadi ciri khas Fincher.
Walaupun cerita dan produksinya menghadapi banyak masalah, Alien 3 tetap menarik sebagai bagian dari perjalanan awal salah satu sutradara paling berpengaruh di Hollywood.
Fire in the Sky (1993)
Paramount Pictures
Fire in the Sky membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar menarik perhatian penonton.
Bagian awal film berjalan lambat dan berfokus pada hilangnya Travis Walton serta kesaksian orang-orang di sekitarnya.
Namun kesabaran penonton kemudian terbayar ketika film memasuki rangkaian penculikan alien.
Adegan tersebut memperlihatkan pengalaman Walton dengan cara yang sangat mengganggu dan berbeda dari gambaran penculikan alien pada umumnya.
Roger Ebert bahkan menilai rangkaian tersebut berhasil memberikan gambaran tentang sesuatu yang benar-benar terasa asing dan belum sering ditampilkan dalam film.
Event Horizon (1997)
Paramount Pictures
Jika Alien sering dianggap sebagai Jaws di luar angkasa, Event Horizon bisa dipandang sebagai In the Mouth of Madness yang dipindahkan ke luar angkasa.
Film karya Paul W. S. Anderson ini menggabungkan horor luar angkasa dengan unsur psikologis dan supernatural.
Sam Neill tampil sebagai Dr. William Weir, seorang ilmuwan yang perlahan mengalami perubahan mengerikan setelah kapal Event Horizon kembali muncul secara misterius.
Film ini terinspirasi oleh 2001: A Space Odyssey dan Alien.
Desain produksinya juga cukup serius. Tim menggunakan model berukuran besar untuk berbagai bagian interior kapal dan bahkan memanfaatkan pemindaian Katedral Notre-Dame di Paris sebagai referensi desain.
Hasilnya adalah sebuah kapal luar angkasa yang terasa megah sekaligus mengintimidasi.
Star Kid (1997)
Trimark Pictures
Star Kid menggabungkan cerita coming-of-age dengan unsur fiksi ilmiah dan sentai.
Tokoh utamanya, Spencer, adalah anak sekolah pemalu yang menemukan sebuah baju zirah alien hidup.
Ia kemudian menggunakan teknologi tersebut untuk menghadapi masalah sehari-hari, termasuk mencoba mengesankan orang yang ia sukai dan melawan seorang perundung.
Konsepnya mungkin terdengar seperti perpaduan E.T. dan Power Rangers, tetapi film ini memiliki pesonanya sendiri.
Joseph Mazzello memberikan penampilan yang cukup tulus sebagai Spencer. Film ini paling efektif ketika berfokus pada komedi dan proses Spencer belajar menggunakan teknologi alien tersebut.
The Faculty (1998)
Miramax Films
The Faculty memiliki banyak karakter stereotip remaja sekolah menengah, tetapi di balik penampilannya yang sangat khas akhir 1990-an terdapat film horor fiksi ilmiah yang cukup solid.
Disutradarai Robert Rodriguez, film ini mengisahkan sekelompok siswa yang mulai menyadari bahwa para guru di sekolah mereka telah dikendalikan oleh makhluk asing.
Cerita tersebut memiliki nuansa Invasion of the Body Snatchers dan The Thing karena siapa pun dapat dicurigai sebagai alien.
Meskipun dialognya kadang terlalu bergaya dan karakter-karakternya cukup klise, film ini tetap menyenangkan dan sangat merepresentasikan budaya pop akhir 1990-an.
Red Planet (2000)
Warner Bros.
Tahun 2000 menghadirkan dua film besar tentang Mars, yaitu Mission to Mars dan Red Planet.
Red Planet mengikuti ekspedisi manusia ke Mars dalam upaya mempersiapkan planet tersebut untuk dihuni.
Namun sebuah badai radiasi menyebabkan berbagai sistem mengalami kerusakan. Para awak akhirnya harus bertahan hidup di lingkungan Mars yang berbahaya.
Film ini tidak berhasil secara komersial maupun kritis, tetapi memiliki pendekatan yang lebih sederhana dibandingkan Mission to Mars.
Val Kilmer dan Carrie-Anne Moss cukup menarik untuk diikuti, sementara elemen aksi membuat film tetap bergerak cepat.
Pitch Black (2000)
USA Films
Sebelum dikenal luas sebagai tokoh yang selalu berbicara tentang keluarga dalam Fast & Furious, Vin Diesel terlebih dahulu menjadi Richard B. Riddick dalam Pitch Black.
Film ini menggabungkan horor dan fiksi ilmiah. Riddick adalah seorang buronan berbahaya yang terdampar bersama sekelompok manusia di sebuah planet asing.
Situasi semakin buruk ketika makhluk pemangsa keluar saat kegelapan tiba.
Sejumlah kritikus menganggap film ini terlalu mirip dengan Jurassic Park, Mad Max, dan Alien. Namun justru perpaduan berbagai pengaruh tersebut menjadi salah satu kekuatan Pitch Black.
Radha Mitchell dan Keith David juga memberikan penampilan yang kuat.
Jason X (2001)
New Line Cinema
Waralaba Friday the 13th mendapatkan perubahan ekstrem melalui Jason X.
Dalam film ini, Jason Voorhees dibekukan secara kriogenik dan kemudian dibawa lebih dari 400 tahun ke masa depan.
Ketika ia terbangun di sebuah stasiun luar angkasa, Jason kembali melakukan pembunuhan.
Yang membuat Jason X berbeda adalah kemampuannya untuk memanfaatkan latar futuristis sebagai sumber humor dan kekerasan.
Film ini sengaja tidak terlalu serius dan justru memaksimalkan sisi absurd waralaba Friday the 13th.
Kane Hodder juga terakhir kali memainkan Jason dalam film ini.
Final Fantasy: The Spirits Within (2001)
Sony Pictures Releasing
Pada awal 2000-an, Final Fantasy merupakan salah satu properti video game terbesar di dunia.
Square kemudian mencoba membawa kesuksesan tersebut ke layar lebar melalui studio Square Pictures.
The Spirits Within tidak mengadaptasi salah satu game secara langsung. Film ini menghadirkan cerita baru tentang Bumi masa depan yang dihantam makhluk misterius bernama Phantoms.
Produksinya menghabiskan lebih dari US$100 juta dan membutuhkan teknologi animasi komputer yang sangat maju untuk masanya.
Namun film tersebut gagal secara finansial dan hampir membuat studio produksinya bangkrut.
Meski demikian, kualitas visualnya tetap menjadi pencapaian penting dalam sejarah animasi komputer. Film ini memberikan standar baru untuk karakter digital yang terlihat realistis, bahkan bertahun-tahun sebelum Avatar karya James Cameron.
Pandorum (2009)
Overture Films
Pandorum pada awalnya terlihat seperti film thriller psikologis di luar angkasa.
Namun tidak lama kemudian, sekelompok manusia mutan muncul dan mengubah film tersebut menjadi horor monster.
Cerita mengikuti para awak kapal yang terbangun dari tidur panjang dan menemukan bahwa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi selama mereka tidak sadar.
Kondisi psikologis bernama pandorum juga menjadi bagian penting dari cerita.
Film ini memanfaatkan lorong-lorong sempit dan lingkungan gelap untuk menciptakan suasana klaustrofobik.
Makhluk-makhluk yang menghuni kapal menjadi salah satu daya tarik utamanya, sementara misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi memberikan lapisan tambahan pada cerita.
Oblivion (2013)
Universal Pictures
Oblivion dibintangi Tom Cruise sebagai Jack Harper, seorang teknisi yang tinggal di Bumi setelah sebuah konflik besar menghancurkan peradaban manusia.
Film ini memuat banyak konsep fiksi ilmiah sekaligus, mulai dari invasi alien, kloning, kehancuran Bumi, pesawat luar angkasa, hingga manusia yang bertahan hidup di bawah tanah.
Karena banyaknya ide yang dimasukkan, cerita film ini memang cukup rumit.
Namun setelah ditonton kembali, berbagai bagian ceritanya mulai terasa lebih jelas dan saling berhubungan.
Salah satu kekuatan terbesar Oblivion adalah visualnya. Joseph Kosinski berhasil menciptakan dunia masa depan yang indah tetapi hancur.
Earth to Echo (2014)
Relativity Media
Earth to Echo jelas mengambil inspirasi dari E.T. the Extra-Terrestrial, tetapi film ini tidak sekadar menyalin film klasik tersebut.
Cerita berfokus pada sekelompok anak yang menemukan makhluk asing bernama Echo.
Lingkungan tempat tinggal mereka terancam dihancurkan karena proyek pembangunan jalan, sementara proyek tersebut ternyata menjadi kedok untuk menangkap Echo.
Film ini menggunakan pendekatan found footage dengan berbagai sumber gambar seperti kamera ponsel, GoPro, dan perangkat lainnya.
Teknik tersebut mungkin sudah cukup sering digunakan ketika film ini dirilis, tetapi perpaduan berbagai format kamera membuat perjalanan anak-anak tersebut terasa lebih modern.
Underwater (2020)
20th Century Fox
Underwater menempatkan Kristen Stewart sebagai Norah Price, seorang teknisi yang bekerja di fasilitas pengeboran jauh di bawah permukaan laut.
Ketika fasilitas tersebut mengalami kerusakan besar, para pekerja menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya di kedalaman.
Film ini sering dibandingkan dengan Alien karena konsep dasarnya, tetapi juga memiliki kemiripan dengan Cloverfield.
Lingkungan fasilitas bawah laut yang sempit membuat suasana film terasa sangat menekan.
Kristen Stewart juga tampil sebagai protagonis yang jauh lebih tangguh dibandingkan sejumlah peran awalnya yang terkenal.
65 (2023)
Sony Pictures Releasing
Adam Driver membintangi 65 sebagai Mills, seorang pengembara luar angkasa yang mengalami kecelakaan dan terdampar di Bumi 65 juta tahun lalu.
Ia kemudian menemukan seorang anak perempuan yang juga selamat dari kecelakaan tersebut.
Masalahnya, Bumi pada masa itu masih dihuni dinosaurus.
Mills harus melindungi dirinya dan anak tersebut dari berbagai serangan sambil mencari cara untuk kembali pulang.
Para kritikus menganggap ceritanya terlalu sederhana dan karakter-karakternya kurang berkembang.
Namun sebagai film aksi-petualangan, 65 cukup efektif.
Film ini menawarkan banyak adegan aksi melawan dinosaurus dan memiliki durasi sekitar 93 menit sehingga tidak terasa terlalu panjang.
Pada akhirnya, film tersebut berhasil menjadi tontonan ringan yang menggabungkan konsep fiksi ilmiah dengan petualangan melawan dinosaurus.
Kritik Harlan Ellison terhadap Star Wars mungkin terdengar sangat ekstrem, tetapi pandangannya juga mencerminkan perdebatan lama mengenai apa yang sebenarnya membuat sebuah karya dapat disebut sebagai fiksi ilmiah.
Bagi Ellison, genre tersebut seharusnya mendorong penonton untuk mempertanyakan teknologi, manusia, masyarakat, dan masa depan. Star Wars mengambil pendekatan berbeda dengan menggabungkan mitologi, petualangan, fantasi, dan opera luar angkasa.
Perbedaan pandangan tersebut mungkin menjadi alasan mengapa Star Wars begitu disukai oleh sebagian besar penonton, sementara Ellison justru melihatnya sebagai kesempatan yang terbuang.
Terlepas dari kritik tersebut, pengaruh Star Wars terhadap perfilman dan budaya populer tidak dapat disangkal. Bahkan berbagai film yang awalnya dianggap terlalu sederhana atau buruk oleh kritikus akhirnya menemukan tempat khusus di hati penonton.
Dan mungkin itulah salah satu hal yang membuat sejarah fiksi ilmiah begitu menarik: sebuah karya yang dianggap gagal atau dangkal oleh satu generasi dapat berubah menjadi klasik bagi generasi berikutnya.
(Damar Pratama/ Sumber: slashfilm.com 20 Februrari 2026).
